Presiden AS Trump menyatakan bahwa Amerika menjadi “lebih besar, lebih baik, lebih kaya, dan lebih kuat dari sebelumnya,” dengan menegaskan dalam pidato kenegaraannya bahwa pemerintahannya telah mencapai transformasi bersejarah dalam setahun sejak ia menjabat (aljazeera.net, 25/2/2026).
Untuk menghindari kenyataan dan menutupi kegagalan yang dialami Amerika, yang babak terbarunya adalah era Trump, sebagai perwakilan dari pusat politik dan deep state (negara dalam)-nya di Amerika, Trump menggunakan tipu daya dan kebohongan untuk menutupi kegagalan dan kebangkrutan peradaban yang telah dicapai Amerika sejak melancarkan perang salib melawan negara-negara Islam, dalam apa yang dikenal sebagai “perang melawan teror” serta pendudukan Afghanistan dan Irak, yang kemudian diikuti oleh krisis ekonomi parah pada tahun 2008 yang terus berkembang dari waktu ke waktu hingga Amerika mencapai titik kebangkrutan ekonomi setelah utangnya mencapai angka 39 triliun dolar. Termasuk juga kebangkrutan peradaban yang telah dicapainya, melalui pengabaian nilai-nilai dan prinsip-prinsip Barat, terutama kebebasan, demokrasi, dan pasar bebas, yang tak kalah pentingnya adalah penarikan Amerika dari lebih dari 60 organisasi internasional, serta upayanya terhadap model unilateralisme dalam konstelasi internasional.
Para kritikus dan pengamat, mereka melihat dengan jelas sejumlah kekeliruan dan penyalahgunaan fakta dalam pidatonya yang panjang, dalam upaya untuk meyakinkan pemilih Amerika bahwa negara mereka baik-baik saja dan hebat, bukan sebaliknya. Pidato tersebut mencakup sejumlah besar klaim yang dilebih-lebihkan, tidak akurat, atau sepenuhnya salah, terutama mengenai ekonomi, imigrasi, kejahatan, pemilihan umum, dan kebijakan luar negeri. Di antara kekeliruan tersebut adalah:
1- Trump mengklaim bahwa “jumlah warga Amerika yang bekerja saat ini adalah yang tertinggi dalam sejarah Amerika Serikat,” bahwa ia mencapai peningkatan lapangan kerja yang luar biasa, dan pertumbuhan ekonomi selama masa jabatannya merupakan “titik balik bersejarah.” Sementara sejumlah analisis dari beberapa media, seperti New York Times, menegaskan bahwa pernyataan ini benar secara angka absolut karena pertumbuhan penduduk, namun pernyataan tersebut sebenarnya menyesatkan karena rasio orang yang bekerja di banding populasi dan pertumbuhan lapangan kerja sangat melambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan pertumbuhan output pada tahun 2025 lebih lemah daripada di era Biden. Trump juga mengulangi klaim bahwa ia telah mengamankan investasi baru sebesar 18 triliun dolar di Amerika dalam 12 bulan, dan menyajikannya sebagai pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, angka ini tidak berdasarkan data yang dapat dipercaya, bahkan situs web Gedung Putih sendiri menyebutkan pengumuman investasi sebesar 9,7 triliun dolar, yang sebagian besar berupa janji-janji yang abu-abu atau jangka panjang, bukan investasi aktual. Beberapa di antaranya hanyalah daur ulang proyek-proyek yang sudah ada.
2- Trump mengklaim bahwa ia telah memberikan pemotongan pajak terbesar dalam sejarah dan menghapus pajak atas tip dan (Jaminan Sosial), serta mengklaim bahwa ia telah menghapus pajak atas uang tip dan kerja lembur, tetapi kenyataannya berbeda sama sekali. Setelah diverifikasi, menjadi jelas bahwa paket ini bukanlah yang terbesar dalam sejarah, melainkan berada di urutan keenam atau ketujuh dalam hal ukuran relatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan pajak atas pendapatan dari kerja lembur dan tip tidak sepenuhnya dihapus, melainkan diberlakukan pengurangan dan batasan pendapatan tertentu, bahkan banyak pensiunan (Jaminan Sosial) masih membayar pajak atas sebagian dari tunjangan mereka.
3- Trump mengatakan bahwa pemerintahan Biden “memberi kita inflasi terburuk dalam sejarah negara ini” dan ia menurunkan inflasi inti menjadi 1,7% dalam 12 bulan.Trump juga mengklaim bahwa harga telur telah turun sebesar 60%, sedang harga ayam, mentega, buah-buahan, hotel, mobil, dan sewa jauh lebih rendah daripada saat Biden menjabat. Sementara stasiun-stasiun TV seperti CBS, CNN, dan BBC menunjukkan bahwa inflasi di bawah pemerintahan Biden bukanlah yang terburuk dalam sejarah, bahkan pada bulan-bulan terakhir masa jabatannya inflasi kurang dari 3% per tahun, dan penurunan beberapa harga komoditas memang nyata tetapi sebagian dan fluktuatif serta disebabkan oleh faktor pasar global, biaya sewa, perumahan, dan perawatan kesehatan tetap relatif tinggi dibandingkan dengan apa yang disarankan dalam pidato tersebut.
- Trump berulang kali mengklaim bahwa tarif yang dibayar oleh negara asing, bahwa tarif tersebut secara bertahap akan menggantikan pajak penghasilan, sehingga meringankan beban warga Amerika. Namun, bukti ekonomi menunjukkan bahwa sekitar 90% dari biaya tarif ditanggung oleh importir Amerika dan sebagian diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi, yang secara efektif menjadikan tarif ini sebagai pajak domestik terselubung dan bukan beban bagi pemerintah asing.
5- Mengenai rasisme keji yang selama ini ia banggakan, Trump mengatakan bahwa “nol” imigran ilegal memasuki Amerika Serikat selama sembilan bulan terakhir, dan perbatasan selatan adalah yang teraman dalam sejarah. Namun, yang dimaksud Trump, selain membual tentang rasisme dan pendudukan tanah penduduk asli Amerika yang dimusnahkan oleh leluhurnya yang menyerbu dari Eropa, bahwa kelompok yang Trump bicarakan adalah kelompok imigran tertentu yang dibebaskan setelah ditahan, bukan semua orang yang menyeberangi perbatasan atau yang terdaftar dalam sistem, bahwa jumlah orang yang ditahan dan yang berupaya untuk menyeberang masih tinggi, sehingga menggambarkan perbatasan sebagai tempat teraman tidak didukung oleh data imigrasi atau penyelundupan narkoba.
6- Trump menegaskan bahwa kebijakannya telah mengurangi kejahatan hingga ke tingkat terendah dalam sejarah. Ia menegaskan kembali bahwa 11.888 pembunuh telah masuk sebagai imigran, bahwa kejahatan-kejahatan itu terkait langsung dengan imigrasi. Ia juga mengklaim bahwa Washington, D.C., telah menjadi salah satu kota teraman setelah pengerahan Garda Nasional. Namun, hasil investigasi yang dipublikasikan oleh CNN, NBC, dan AP menunjukkan bahwa angka ini mencampuradukkan mereka yang belum pernah dihukum karena kasus pembunuhan selama bertahun-tahun dengan para pendatang baru, bahwa banyak dari mereka adalah penduduk yang sudah lama tinggal, yaitu warga negara. Selain itu, data kejahatan di Washington tidak mendukung deskripsi bahwa kota ini adalah salah satu yang teraman, meskipun terjadi penurunan pada beberapa indikator.
7- Trump menuduh anggota komunitas Somalia di Minnesota mencuri uang pajak sebesar 19 miliar dolar melalui penipuan makanan. Namun, penyelidikan mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman telah mendakwa sekitar 100 orang dalam kasus penipuan yang diperkirakan bernilai sekitar 1 miliar dolar, dan penyelidikan kongres mungkin akan meningkatkan perkiraan tersebut menjadi sekitar 9 miliar dolar. Tidak ada angka yang mendekati 19 miliar dolar, sehingga klaim ini tidak berdasar.
8- Trump mengatakan bahwa ia mengakhiri delapan perang selama sepuluh bulan masa jabatannya, menyebutkan krisis antara Pakistan dan India, Kamboja dan Thailand, Kosovo dan Serbia, Mesir dan Ethiopia, Armenia dan Azerbaijan, Kongo dan Rwanda, di samping perang genosida yang ia dukung utamanya di Gaza, yang ia gambarkan sebagai perang yang berada pada tingkat kecaman yang sangat rendah. Mengingat “perang” yang ia sebutkan sebagian besar merupakan perselisihan diplomatik atau konflik intensitas rendah di mana tidak ada perang resmi yang dideklarasikan, bahkan beberapa di antaranya, pertempuran masih berlanjut setelah mediasi yang diduga dilakukan, dan operasi pembersihan etnis di Gaza sebenarnya belum berakhir, yang membuat pembicaraan tentang mengakhiri delapan perang menjadi ilusi daripada kenyataan. Trump juga melebih-lebihkan perannya dalam meningkatkan pengeluaran NATO, menggambarkan dirinya sebagai pihak yang membiayai hampir seluruh aliansi tersebut. Sementara kenyataannya, secara historis, Amerika Serikat memang menanggung sebagian besar pengeluaran NATO, namun kontribusi Eropa meningkat secara signifikan karena berbagai faktor dan tekanan di masa lalu. Sehingga hal ini, tidak berarti bahwa Amerika Serikat membayar semuanya seperti yang tersirat dalam retorikanya.
Kesimpulannya, bahwa tren keseluruhan dalam wacana, sebagaimana ditunjukkan oleh keseluruhan dari hasil verifikasi, menunjukkan bahwa pola pidato Kenegaraan Trump tahun 2026 bergantung pada fakta parsial yang disajikan di luar konteks, angka yang tidak akurat atau dilebih-lebihkan, dan narasi berulang tentang kecurangan pemilu yang meluas, imigran berbahaya, dan perang yang secara pribadi ia hentikan, tanpa data pendukung. Sebaliknya, hasil investigasi, jurnalis, pakar, dan politisi oposisi telah menyajikan narasi yang berlawanan berdasarkan statistik resmi dan catatan kasus pengadilan, yang menunjukkan kesenjangan yang lebar antara gambaran yang dilukiskan oleh retorika dengan realita ekonomi, demokrasi, dan kebijakan luar negeri di Amerika Serikat. Namun Trump terpaksa masuk ke dalam narasi dan tipu daya ini untuk menutupi keadaan Amerika yang sangat buruk, baik secara politik maupun budaya. Ini adalah kebenaran yang seharusnya disadari oleh umat Islam, mereka harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membebaskan diri dari hegemoni Amerika Serikat dan kemudian mendirikan negara Khilafah ‘ala minhājin nubuwah yang akan menggantikan tatanan internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dengan keadilan.
﴿لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ﴾
“Untuk (kemenangan) seperti ini, hendaklah berjuang orang-orang yang mampu berjuang.” (TQS. Ash-Shaffat [37] : 61). [] Bilal Al-Muhajir – Wilayah Pakistan
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 1/3/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat