Mirrors of War: Bagaimana Kontradiksi Trump Mengungkap Kurangnya Strategi?

Dalam konteks perang, kontradiksi bukanlah sekadar kesalahan retorika yang bersifat sementara, melainkan indikator yang melampaui manuver dan pengaburan rencana militer, yang justru mengungkapkan kelemahan mendasar dalam arah (kompas) strategis. Hal ini jelas tercermin dalam sikap Donald Trump terhadap perang melawan Iran; sebab tampak seperti serangkaian perubahan mendadak yang tidak memiliki rencana (benang merah) yang koheren atau hubungan strategis yang menyeluruh, melainkan diatur oleh tuntutan dan tekanan situasi langsung, sehingga terlihat seperti reaksi politik bukan perencanaan jangka panjang atau visi yang koheren. Berikut adalah contoh-contoh kontradiksi yang paling signifikan:

Pertama: Dari “Penghancuran Total” Menjadi “Penundaan Sementara”

Pada saat eskalasi yang bertepatan dengan pekan keempat perang, Trump mengeluarkan ultimatum: buka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau hadapi kehancuran fasilitas energi Iran (aljazeera.net, 22/3/2026).

Namun sebelum tenggat waktu berakhir, ia menarik kembali pernyataannya dan mulai berbicara tentang penundaan serta tekanan negosiasi (masrawy.com, 23/3/2026).

Pergeseran ini bukanlah manuver yang terencana, melainkan lebih merupakan penarikan diri yang tergesa-gesa di bawah tekanan realitas, sebuah penurunan sikap dari kesombongannya. Laporan menunjukkan bahwa ia tidak melaksanakan ancamannya, meskipun diulang-ulang, dengan alasan sedang melakukan negosiasi dengan kepemimpinan Iran yang baru—klaim yang dibantah Iran (noonpost.com, 24/3/2026).

Di sinilah tampak celah pertama: keputusan untuk berperang, kemudian penarikan diri tepat sebelum pelaksanaannya.

Kedua: Dari Retorika Pemusnahan ke Bahasa “Dialog Konstruktif”

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Trump mengancam akan mengembalikan Iran ke Zaman Batu, dengan mengatakan: “Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua atau tiga pekan ke depan. Kita akan mengirim mereka kembali ke Zaman Batu tempat mereka seharusnya berada. Sementara itu, diskusi sedang berlangsung.” (aljazeera.net, 2/4/2026).

Namun dalam pidato yang sama, ia berbicara tentang negosiasi yang sedang berlangsung dan kesepakatan yang hampir tercapai, serta tentang orang-orang yang sama sekali berbeda dan sangat profesional serta rezim yang lebih rasional di Iran (iranintl.com, 2/4/2026).

Pertanyaannya di sini adalah: bagaimana wacana pemusnahan dapat diselaraskan dengan wacana negosiasi, kecuali jika wacana itu sendiri merupakan alat tekanan langsung, dan bukan ekspresi dari strategi yang koheren?

Ketiga: Dari Internasionalisasi Krisis hingga Penarikan Diri dari Krisis

Pada fase pertama, Trump menyerukan kepada sekutu—dari Eropa hingga Asia—untuk berpartisipasi dalam pengamanan Selat Hormuz (skynewsarabia.com, 17/3/2026). Ia juga mengharapkan banyak negara, terutama sekutu NATO, untuk mengirimkan kapal perang agar kapal dapat melewati Selat Hormuz (reuters.com, 15/3/2026).

Namun, dalam pernyataan lain, dengan jelas Trump berkata bahwa negara lain harus mengambil alih perlindungan Selat tersebut; Amerika Serikat tidak membutuhkan itu, bahwa ia dapat “membiarkan negara-negara yang menggunakannya” menemukan solusi sendiri (alaraby.co.uk, 15/3/2026).

Trump kemudian kembali mendesak mereka untuk campur tangan lagi, dalam seruan berulang (alaraby.co.uk, 3/4/2026).

Keragu-raguan ini mencerminkan ketiadaan visi yang jelas: Apakah ini perang Amerika? Atau beban yang harus dialihkan kepada pihak lain?

Dalam konteks ini, artikel Pierre Haski di Le Nouvel Observateur, menawarkan kritik langsung tidak hanya terhadap Amerika Serikat tetapi juga terhadap posisi Eropa itu sendiri. Haski berpendapat bahwa masalahnya tidak terletak hanya pada perilaku Trump tetapi juga pada respons Eropa yang ragu-ragu dan penerimaan diam-diam terhadap kebijakan yang salah arah, dengan menyatakan: “Kehati-hatian diplomatik kita … pada akhirnya menjadikan kita korban yang rela.” (aljazeera.net, 1/4/2026).

Keempat: Dari Tekanan Maksimum ke Keringanan Ekonomi

Sementara Trump mengancam akan menghancurkan ekonomi Iran, laporan-laporan menyebutkan upaya untuk menenangkan pasar dan menurunkan harga minyak melalui kebijakan yang fleksibel. Memang, pasar itu sendiri telah menjadi sandera dari pernyataan-pernyataannya; setiap eskalasi menaikkan harga, seperti yang terjadi dengan ancaman untuk merebut Pulau Kharg (dw.com, 30/3/2026), dan setiap de-eskalasi menurunkannya, seperti yang terjadi dengan pernyataannya bahwa perang akan segera berakhir (aa.com.tr, 1/3/2026).

Di sini tampak kontradiksi yang mendasar: kebijakan perang di satu sisi, dan kebijakan stabilitas ekonomi di sisi lain, tanpa kemampuan untuk mengkompromikan keduanya.

Kelima: Dari “Kemenangan Segera” Menuju Perang Tanpa Akhir

Trump menegaskan bahwa perang hampir selesai dan akan berakhir dalam dua atau tiga minggu. Namun, secara bersamaan ia mengancam eskalasi lebih lanjut (yang berpotensi dilakukannya invasi darat) dan mengakui kelanjutan operasi militer tanpa kerangka waktu yang jelas. Hal ini telah menyebabkan “Euronews”, misalnya, mengajukan pertanyaan berikut: Apa yang ada di balik pernyataan yang kontradiktif ini? Apakah Trump sedang mempersiapkan operasi darat melawan Iran pada Jum’at Agung?

Bahkan, beberapa analis percaya bahwa pidatonya tidak memiliki definisi kemenangan atau strategi keluar. Oleh karena itu, kemenangan berubah dari tujuan strategis dengan sasaran tetap menjadi slogan yang berubah-ubah. Dalam konteks ini, Jenderal Michel Yakovleff, mantan Wakil Kepala Staf SHAPE (Supreme Headquarters Allied Powers Europe), Komando Sekutu Tertinggi NATO yang bertanggung jawab untuk mengoordinasikan operasi aliansi di Eropa, menyampaikan analisis pedas tentang strategi Amerika, menegaskan dalam sebuah wawancara dengan “Le Figaro” bahwa “Trump benar-benar telah kalah dalam perang.”

Keenam: Dari Menolak Perang Berkepanjangan hingga Terseret ke Dalamnya

Trump, yang membangun retorika politiknya berdasarkan penolakan terhadap “perang bodoh (stupid wars)”, kini mendapati dirinya terlibat dalam perang tanpa akhir dengan eskalasi yang terus-menerus dan biaya yang meningkat. Ironisnya, perang yang sama ini dimulai sebagai kampanye cepat tetapi telah berubah menjadi konflik berkepanjangan, seperti yang diperingatkan oleh banyak laporan (lemonde.fr, 2/4/2026).

Ironisnya, semakin lama perang berlarut-larut, semakin jelas tuduhan Iran: bahwa pembicaraan tentang negosiasi digunakan sebagai kedok untuk manuver militer, di mana negosiasi bukanlah alternatif untuk perang, melainkan perpanjangan atau kedok untuk perang itu sendiri.

Singkatnya: Kebijakan Tanpa Pusat

Perang tersebut dibangun di atas premis bahwa rezim Iran akan cepat runtuh jika kepemimpinan puncak dan Pemimpin Tertinggi menjadi sasaran, tetapi dengan kegagalan tersebut, retorika mulai berubah, pembicaraan tentang “rezim baru” dan “kepemimpinan alternatif” mulai muncul. Tujuan perang juga bergeser dari melenyapkan program nuklir dan persenjataan rudal menjadi melenyapkan jembatan dan fasilitas energi, dari mengendalikan Selat Hormuz menjadi mengendalikan minyak. Artinya, tujuan itu sendiri sedang didefinisikan ulang setelah kegagalan untuk mencapainya. Hal ini menjelaskan pergeseran dari tujuan yang jelas menjadi kumpulan pesan yang kacau. Kita tidak lagi terkejut ketika Trump menyatakan dalam satu pidato bahwa perang telah berakhir, pertempuran masih berlanjut, kemenangan telah diraih, dan eskalasi akan segera terjadi! Adegan ini digambarkan seperti di “ruang cermin” yang memantulkan gambar-gambar yang kontradiktif tanpa arah yang jelas (washingtonpost.com, 2/4/2026).

Kontradiksi-kontradiksi ini tidak dapat direduksi menjadi kebingungan sesaat, melainkan mencerminkan pola berulang dalam pengambilan keputusan yang didasarkan pada respons terhadap tekanan sekilas, bukan pada perencanaan sebelumnya; pada modifikasi tujuan, bukan pada peninjauan alat; dan pada penggunaan wacana sebagai alat taktis situasional, bukan sebagai kerangka strategis yang mengatur tindakan politik dan militer yang berjalan sesuai rencana.

Lebih tepatnya, tampak tidak adanya strategi yang diuji oleh peristiwa, melainkan peristiwa itu sendiri bertindak sebagai titik tekanan, yang terus-menerus membentuk kembali keputusan dengan setiap ujian. Dampak dari pola ini meluas melampaui kekacauan internal, pemecatan tokoh-tokoh militer senior, dan penurunan popularitas presiden; hal itu juga merusak kepercayaan sekutu dan menimbulkan keraguan tentang keandalan komitmen Amerika, sehingga membuka jalan bagi terkikisnya jaringan aliansi yang telah menjadi landasan pengaruh internasional Washington selama beberapa dekade. Pada saat yang sama, fluktuasi ini tercermin dalam citra Amerika Serikat sebagai negara adidaya global, karena prestisenya secara bertahap terkikis seiring dengan keputusan-keputusannya yang tampak lebih mirip reaksi situasional daripada ekspresi kepemimpinan strategis yang stabil, sebuah kesenjangan yang semakin melebar dari waktu ke waktu.

Kekosongan strategis yang ditinggalkan oleh kemerosotan kemampuan negara adikuasa untuk memimpin dunia ini, insya Allah, akan memberikan kesempatan kepada mereka yang memiliki alternatif peradaban Islam, untuk menciptakan sejarah baru bagi umat dan membentuk kembali lanskap internasional berdasarkan Islam.

﴿وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ﴾

Dan tidak ada kemenangan itu selain dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (TQS. Ali Imran [3] : 126). [] Ir. Wisam Al-Athrasy

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 5/4/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: