Tidak Ada Kebaikan yang Dapat Diharapkan dari Rezim yang Khianat

 Tidak Ada Kebaikan yang Dapat Diharapkan dari Rezim yang Khianat

Pertemuan ketiga Komite Militer Gabungan Maroko-Emirat diadakan pada tanggal 5 dan 6 Oktober 2026. Inspektur Jenderal Angkatan Bersenjata Kerajaan dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata UEA bersama-sama memimpin sesi penutup. Kedua pejabat tersebut memuji tingkat kerja sama militer antara negara mereka, khususnya di bidang peningkatan kapasitas, industri pertahanan, dan pelatihan, serta pertukaran pengalaman dan keahlian. Mereka juga menegaskan kembali komitmen mereka untuk lebih memperkuat dan mengembangkan kerja sama ini.

**** **** ****

Tidaklah mengherankan lagi jika rezim-rezim yang bersekutu dengan musuh-musuh Allah SWT dan Rasul-Nya SAW kini memihak AS dan entitas Yahudi, membanggakan normalisasi hubungan dengan entitas tersebut dengan menyebutnya sebagai peningkatan kerja sama diplomatik, serta saling bertukar kunjungan dan berpelukan dengan para pemimpin AS dan entitas Yahudi. Tidaklah mengherankan lagi jika rezim-rezim semacam itu secara terbuka dan terang-terangan bersekutu untuk melawan umat Islam, memosisikan proyek peradaban Islam sebagai lawan, serta menjadikan Abraham Accords (Perjanjian Abraham) sebagai kerangka kerja bagi tindakan politik dan aliansi regional.

Namun, hal yang berbahaya dari arah perkembangan pasca-Perjanjian Makkah ini adalah transformasi aliansi politik di bawah naungan kekufuran menjadi aliansi militer dan blok regional bersenjata yang bertindak sebagai proksi dalam perang salib melawan umat Islam. Hal ini menguras sumber daya negara-negara tetangga beserta angkatan bersenjata mereka dengan menyeretnya ke dalam perlombaan senjata, serta memperkuat pihak kafir kolonialis untuk semakin mencekik leher kita; sementara itu, blok-blok tersebut memperoleh kekuatannya dari dukungan AS dan melayani agenda entitas Yahudi. Dengan demikian, mereka menciptakan model keunggulan militer dan teknologi yang memikat kacung-kacung lain di kawasan tersebut serta menyeretnya untuk menyatakan keterlibatan dalam arus normalisasi secara terbuka.

Aliansi militer antara pihak-pihak yang menjadi pion AS (Arab Saudi, Turki, dan Pakistan) di satu sisi, serta pihak-pihak yang menjadi pion Inggris (Uni Emirat Arab dan Maroko) di sisi lain, muncul pada saat AS tengah mencari celah untuk keluar dari lingkaran kelelahan strategis yang menguras kapabilitas militernya. Hal ini terjadi di tengah upaya AS untuk mengakhiri pertempuran melawan Iran dan kelompok-kelompok proksinya secara tuntas, sementara Eropa berupaya menghentikan laju perang hibrida Rusia, di mana kedua pihak tersebut justru tampak jalan di tempat di tengah kemajuan militer, teknologi, dan ekonomi China.

Akan tetapi, sasaran utama dari jalan-jalan yang penuh tipu daya ini adalah kaum Muslim, yang diposisikan sebagai bahan bakar bagi perang sektarian, konflik antarmazhab, serta berbagai perang yang menguras sumber daya, semuanya dieksploitasi oleh para tiran dari negara-negara kapitalis yang kejam. Apa yang terjadi di Yaman, Sudan, serta sejumlah negara di Tanduk Afrika dan kawasan Sahel merupakan bukti yang paling nyata. Kesamaan di antara negara-negara yang terpecah-belah ini adalah bahwa mereka dicabik-cabik dan dipreteli oleh pihak-pihak yang sama, yang pada hakikatnya merupakan agen-agen regional yang itu-itu juga.

Oleh karena itu, aliansi-aliansi militer yang mencurigakan ini tidak lain adalah belati beracun yang ditusukkan ke punggung umat, yang dibawa oleh rezim-rezim yang telah mahir dalam pengkhianatan dan memosisikan diri di barisan musuh-musuh umat tersebut. Tidak ada orang yang berakal sehat akan mengharapkan kebaikan apa pun bagi Islam dan umatnya dari mereka, selama para penguasanya terus berpaling ke arah Gedung Putih dan membanggakan kesetiaan mereka kepada kaum Yahudi. Oleh karena itu, prinsip dasarnya adalah bahwa umat harus melepaskan diri dari para pengkhianat ini dan berbalik melawan mereka, serta membaiat seorang Khalifah yang mendapat petunjuk, yang memimpin mereka berdasarkan Kitab Allah SWT dan Sunnah Nabi-Nya SAW. Ia akan mengerahkan pasukan untuk menuntut pembalasan dari semua pihak yang zalim dan para pengkhianat, meruntuhkan sistem internasional yang kriminal ini, serta menata ulang dunia berdasarkan sistem ilahi yang diridhai oleh Tuhan semesta langit dan bumi.

Adapun bagi siapa saja yang berbaris di jajaran pihak kaum kafir Barat dan kolonialis, yang menikam kaum Muslim dari belakang, mengkhianatinya secara politik maupun militer, atau memperjualbelikan darahnya dengan dalih membela Palestina, maka hendaknya mereka segera mengingat sabda Rasulullah SAW:

«لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعْرَفُ بِهِ«

“Setiap orang yang berkhianat akan memiliki panji pada Hari Kiamat yang menjadi tanda pengenal dirinya.” (HR. Muslim).

Sumber: alraiah.net, 14/10/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *