Strategi AS di Panggung Internasional: Pengepungan Empat Dimensi dan Hegemoni yang Goyah
Setelah kembali ke Gedung Putih, Trump segera mengambil langkah-langkah tajam, terkadang provokatif, dan tak terduga dalam kebijakan luar negeri. Apa yang tampak di permukaan sebagai langkah-langkah terisolasi atau impulsif, pada kenyataannya adalah manifestasi dari doktrin geopolitik yang terpadu dan agresif yang bertujuan untuk mempertahankan hegemoni global AS dan membangun kembali penyangga keamanan. Strategi ini diimplementasikan di empat poros geopolitik utama:
- Benua Amerika: Doktrin Monroe yang Diperbarui dan Sabuk Keamanan Pertama
Dalam kerangka melindungi kepentingan-kepentingan vitalnya, AS berupaya membersihkan benua Amerika—yang merupakan sabuk keamanan pertama—terutama dari kekuatan-kekuatan asing. Doktrin Monroe (Amerika untuk orang Amerika), yang sempat melemah dalam waktu yang cukup lama, kini kembali mendapatkan momentumnya:
- Pengendalian Terusan Panama: Jalur vital bagi perdagangan global dan transit strategis ini diambil kembali dari pengaruh perusahaan-perusahaan China dan dikembalikan sepenuhnya ke bawah kendali Washington. Hal ini merupakan pukulan telak bagi pengaruh logistik Beijing di kawasan Amerika Latin.
- Pengendalian Rezim dan Pengaturan di Amerika Latin: Melalui tekanan terbuka, intrik militer dan politik, serta kudeta militer terhadap rezim-rezim yang menentang, AS mulai membentuk pemerintahan yang menjalankan perintahnya tanpa keraguan. Praktik pembelian loyalitas dan pelibatan para pemimpin militer lokal telah memicu kebingungan serta kekhawatiran yang mendalam di kalangan elite militer di seluruh dunia, sehingga memaksa banyak negara untuk melakukan rotasi dan pergantian personel secara mendesak di dalam tubuh angkatan bersenjata mereka.
- Mengakhiri Pengaruh Inggris: Melalui dukungan terbukanya terhadap Javier Milei di Argentina, Washington memanfaatkannya untuk mengungkit kembali persoalan Kepulauan Falkland (Islas Malvinas) yang berada di bawah kendali Inggris. Demikian pula, tuntutan ekonomi dan politik yang dibebankan kepada Kanada bukanlah sekadar aspirasi regional; melainkan langkah-langkah yang bertujuan untuk mencabut hingga ke akarnya pengaruh serta jejak sejarah Inggris di benua ini.
- Tembok Perbatasan dan Tekanan Domestik: Tembok di perbatasan selatan dan larangan imigrasi bukan sekadar tindakan terhadap pengungsi; sebaliknya, kedua hal ini adalah bagian yang terorganisir dari kebijakan yang bertujuan untuk sepenuhnya menundukkan kaum Muslim yang mukhlis di Amerika ke dalam sistem, dan memberikan tekanan pada mereka yang menolak untuk mematuhinya, baik dengan memperketat pembatasan atau mendeportasi mereka.
Singkatnya, AS berupaya untuk memperkuat hegemoni absolutnya atas benua ini; Hal ini dicapai dengan mengeliminasi China dari Panama, melemahkan kepentingan ekonomi Rusia dan China di benua tersebut, juga membatasi pengaruh Inggris.
- Poros Eropa: Mereplikasi Hegemoni dan Sabuk Pengaman Kedua
Masuknya modal dan teknologi China secara mendalam ke Eropa mulai membayangi hegemoni mutlak AS di Benua Lama. Demi menghidupkan kembali dominasinya, Washington menempuh langkah dengan mengaktifkan instrumen-instrumen yang menentukan:
- Intimidasi strategis: Klaim terbuka atas Greenland menebar kepanikan di kalangan politik Eropa. Tujuan sebenarnya dari klaim ini bukanlah untuk memperoleh wilayah, melainkan untuk memeras Eropa dan memaksanya memutuskan segala hubungan dengan Rusia dan China.
- Pembebanan biaya finansial: Dengan memaksa Eropa menanggung pengeluaran aliansi NATO, AS berhasil mengamankan “sabuk pengaman kedua” bukan dengan biayanya sendiri, melainkan dengan menggunakan uang pihak Eropa sendiri.
- Kebijakan Anti-China: Mengekang Potensi Pesaing melalui Jalur Darat dan Laut
Karena AS memandang China sebagai pesaing material terbesarnya, yang mengingatkan pada kekuatan ekonomi dan industri AS sendiri yang tengah berkembang pesat sebelum Perang Dunia Kedua, AS telah memulai proses untuk mengisolasi China di panggung internasional:
- Membongkar Aliansi: Demi melemahkan kemitraan strategis antara China dan Rusia, Rusia dijebak ke dalam kemelut di Ukraina hingga kekuatannya terkuras. Rencana tersebut bertujuan untuk menjebak Beijing ke dalam kemelut serupa melalui pintu masuk Taiwan.
- Mengganggu Rantai Pasok: Serangkaian tindakan ditujukan terhadap jalur perdagangan global China; Terusan Panama ditutup bagi pengaruh China, sementara aliran energi dari Amerika Latin serta aliansi Teheran-Moskow turut dihambat. Berbagai upaya tengah dilakukan untuk memperlambat mesin ekonomi China dengan memutus akses kilang dan fasilitas pemrosesan—yang dirancang untuk menangani jenis bahan baku tertentu—terhadap pasokan bahan-bahan tersebut.
- Strategi untuk Negeri Islam: Membendung Ancaman Ideologi yang Sebenarnya
Namun, ancaman terbesar, paling mendasar, dan bersejarah bagi AS tidak diwakili oleh China atau Rusia. Setelah AS merebut kepemimpinan internasional dari Inggris, AS juga mewarisi panji-panji memerangi Islam. Saat ini, AS menganggap syarat penting untuk mempertahankan tahtanya yang goyah adalah dengan mencegah kembalinya Islam ke arena kehidupan dan pusat pemerintahan:
- Perang Salib yang Berkelanjutan: Penghancuran Afghanistan pada tahun 2001, Irak pada tahun 2003, serta kemudian Somalia dan negeri-negeri kaum Muslim lainnya, semata-mata bertujuan untuk mencegah bangkitnya negeri-negeri Islam.
- Memadamkan Kebangkitan: Gelombang kebangkitan publik (Musim Semi Arab) yang meletus pada tahun 2011 telah disesatkan melalui slogan-slogan demokrasi palsu dan gerakan-gerakan yang menipu. Revolusi di Mesir, Tunisia, dan Libya berubah menjadi kontra-revolusi di tangan agen-agen Barat. Sementara itu, rakyat Suriah, yang menolak untuk tunduk kepada kaum kolonialis, dihujani dengan ribuan ton rudal dari NATO dan Rusia.
- Memicu Represi Global: AS telah memberikan lampu hijau bagi negara-negara lain untuk menindas kaum Muslim secara brutal, dengan tujuan menundukkan mereka dan mematahkan tekad mereka. Genosida terhadap etnis Uighur di China, penghancuran masjid-masjid di India, pembantaian di Myanmar, serta penindasan sistematis di Rusia dan Eropa, maka semua ini merupakan bagian dari kebijakan luas untuk menghancurkan umat Islam dan menekan mereka dari segala sisi.
- Genosida di Gaza dan Perisai Zionis: Kekejaman yang dilakukan oleh entitas Yahudi di Palestina bukan sekadar langkah untuk menjamin keamanannya. Sebaliknya, tindakan tersebut merupakan pembantaian yang dikelola dan disponsori langsung oleh Washington, dengan tujuan untuk mengintimidasi kaum Muslim di kawasan tersebut, mencegah penyatuan mereka di bawah satu pelindung Islam, yaitu Khilafah, juga semua itu dilakukan untuk meruntuhkan kesadaran dan tekad kaum Muslim.
- Kartu Iran dan Konflik yang Direkayasa: Setelah keteguhan luar biasa rakyat Gaza memicu gelombang kekaguman dan ketertarikan terhadap Islam di seluruh dunia, AS bergerak mengaktifkan isu Iran untuk mengalihkan perhatian publik. Washington mendorong skema ini demi mencapai dua tujuan: pertama, menguasai minyak dan jalur perairan Iran guna menghambat Chins; dan kedua, menanamkan ilusi tentang “Israel Raya” di kalangan entitas Yahudi, sembari tetap menjadikannya sekadar alat dan agen di bawah kendalinya.
Kesimpulannya: Agresi tidak menentu yang ditunjukkan AS saat ini tidak mencerminkan kekuatan absolutnya. Sebaliknya, hal ini merupakan bukti nyata hilangnya kendali AS atas tata kelola global dan krisis mendalam yang menimpa sistem negara tersebut. Permasalahan yang dihadapi kaum Muslim saat ini bukan hanya sekedar kebijakan rezim tertentu, namun pergolakan dan kematian seluruh tatanan kapitalis, yang dicekam oleh teror akan kebangkitan Islam. Satu-satunya cara untuk mematahkan pengepungan empat dimensi ini terletak pada kaum Muslim yang meninggalkan perbatasan dan ilusi geopolitik yang dibuat oleh Barat, dan berintegrasi bersama untuk membangun perisai mereka yang sebenarnya: Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah. [] Ustadz Badruddin bin Abdullah
Sumber: alraiah.net, 21/10/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat