Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan Rasul, termasuk kepada keluarganya, sahabatnya, dan semua orang yang mengikuti jalannya hingga Hari Kiamat.
Di antara musim keimanan terbesar yang dialami kaum Muslim setiap tahun adalah sepuluh hari pertama bulan Dzul-Hijjah. Ini adalah hari-hari yang telah dimuliakan Allah SWT dalam Kitab-Nya, disumpahkan, dan ditinggikan di atas semua hari lain di dunia, sampai-sampai Rasulullah SAW bersaksi bahwa hari-hari tersebut adalah hari-hari terbaik untuk melakukan amal saleh. Hari-hari yang diberkahi ini bukan hanya masa ibadah individu, tetapi juga terkait dengan peristiwa-peristiwa penting yang mengubah arah sejarah Islam. Di antara yang terbesar adalah Baiah Aqabah Pertama dan Kedua, yang membentuk dasar sejati bagi berdirinya negara Islam di Madinah Al-Munawwarah.
Merenungkan hubungan antara sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah dan Baiah Aqabah membuka pintu besar bagi kaum Muslim untuk memahami makna kemenangan, berjuang untuk Islam, membangun umat, dan mengingat jalan yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dalam menegakkan masyarakat dan negara Islam.
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah dalam Al-Quran
Allah SWT bersumpah dengan hari-hari ini dalam firman-Nya:
﴿وَالْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ﴾
“Demi fajar dan demi sepuluh malam.” (TQS, Al-Fajr [89] : 1-2).
Mayoritas ulama tafsir menyimpulkan bahwa “sepuluh malam” merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzul-Hijjah, termasuk Abdullah bin Abbas, Ibnu Katsir, Ath-Thabari, dan Al-Qurtubi.
Ibnu Katsir berkata: “Yang dimaksud dengan itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah … dan jika Allah SWT bersumpah demi sesuatu hari itu, maka hal ini menunjukkan betapa penting dan tingginya kedudukan sesuatu hari itu, lalu bagaimana jika sumpah itu demi hari-hari yang merupakan hari-hari terbesar di dunia?”
Dan AllahSWT berfirman:
﴿وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ﴾
“Dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan.” (TQS. Al-Hajj [22] : 28).
Abdullah bin Abbas berkata: “Hari-hari yang ditentukan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah.” Dalam Tafsir ath-Ttabari, disebutkan: “Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah dalam as-Sunnah an-Nabawiyah telah ditetapkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:
«ما من أيَّامٍ العملُ الصَّالحُ فيها أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيَّامِ»
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.” (HR. Bukhari).
Dan dalam riwayat lain:
«ما من أيَّامٍ أَعْظَمُ عندَ اللهِ ولاَ أَحَبُّ إليه العَمَلُ فيهِنَّ من هذه الأيامِ العشرِ»
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah, dan tidak ada hari-hari yang lebih dicintai-Nya untuk amal saleh, daripada sepuluh hari ini.” (HR. Ahmad).
Pada hari-hari tersebut amal-amal saleh dikerjakan: haji, takbir (mengucapkan Allahu Akbar), dzikr (mengingat Allah SWT), puasa, dan kurban. Sehingga Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Penyebab perbedaan luhur sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah adalah karena menyatunya induk-induk ibadah (ummahāt al ibādah) di hari-hari itu.”
Baiah Aqabah … Momen yang Mengubah Sejarah
Selama musim haji, dan pada malam-malam bulan Dzul Hijjah, titik balik terbesar dalam sejarah dakwah Islam terjadi.
Baiah Aqabah Pertama
Pada tahun kedua belas diangkatnya Nabi sebagai Rasul, dua belas orang dari suku Aus dan Khazraj datang dan berbaiah (berikrar setia) kepada Nabi SAW atas dasar Islam, ketaatan, dan menjauhi semua kemaksiatan. Baiah ini merupakan baiah atas keimanan dan awal penyebaran Islam di Yatsrib. Nabi SAW mengutus Mus’ab bin ‘Umair bersama mereka untuk mengajarkan Islam kepada orang-orang, sehingga Islam masuk ke rumah-rumah di Madinah.
Baiah Aqabah Kerdua
Tahun berikutnya, juga selama musim haji, Baiah Agung berlangsung ketika tujuh puluh tiga pria dan dua wanita datang dan berbaiah kepada Rasulullah SAW untuk memberikan nushrah (dukungan) dan perlindungan, mendengarkan, menaati, dan melakukan pembelaan kepadanya sebagaimana mereka membela keluarga mereka sendiri.
Di sinilah Islam bertransisi dari tahap kelemahan ke tahap pendirian negara. Nabi SAW bersabda kepada mereka:
» أُبَايِعُكُمْ عَلَى أَنْ تَمْنَعُونِي مِمَّا تَمْنَعُونَ مِنْهُ نِسَاءَكُمْ وَأَبْنَاءَكُمْ«
“Aku baiah kalian untuk melindungiku seperti kalian melindungi istri-istri dan anak-anak kalian.”
Baiah Agung ini bukan sekedar pertemuan singkat, berlalu begitu saja dan kemudian lenyap; Itu adalah pakta pendirian, perjanjian nushrah (dukungan), dan deklarasi kelahiran sebuah umat politik. Dari sinilah dimulai hijrah, dan kemudian negara Islam didirikan di Madinah Al-Munawwarah.
Mengapa Kaum Anshar Begitu Mulia dan Hebat?
Sebab kaum Anshar tidak hanya beriman dalam hati mereka saja, tetapi mereka juga memberikan nushrah (dukungan) kepada agama Islam, memikul bebannya, menghadapi semua bangsa Arab, dan memberikan perlindungan serta kekuasaan untuk dakwah Islam. Allah SWT memuji kaum Anshar, dengan firman-Nya:
﴿وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ﴾
“Orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (kaum Muhajirin), mereka (kaum Anshar) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka.” (TQS. Al-Hasyr [69] : 9).
Kaum Anshar memahami bahwa Islam bukan hanya ibadah individu, melainkan juga sebuah pesan (risalah), aturan (hukum), masyarakat, dan negara.
Bertemunya Kemulian Masa dan Kemuliaan Perbuatan
Salah satu pelajaran paling mendalam bagi seorang Muslim Islam adalah bahwa Baiah Aqabah terjadi pada musim yang disucikan oleh Allah SWT, dan pada hari-hari yang termasuk hari-hari terbaik dalam setahun. Ketika kemuliaan masa, kemuliaan nushrah (dukungan), kemuliaan persahabatan, dan kemuliaan menegakkan agama bertemu, maka menghasilkan berdirinya sebuah negara terbesar yang dikenal dalam sejarah.
Oleh karena itu, sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah bukan hanya hari-hari untuk mengenang dan berpuasa, melainkan juga pengingat praktis tentang makna pengorbanan; dukungan, menyampaikan dakwah, aksi kolektif, dan menegakkan Islam dalam realitas kehidupan.
Betapa pentingnya bagi kaum Muslim saat ini untuk mengingat kembali makna-makna ini! Umat Islam saat ini mengalami perpecahan, tirani, dominasi politik dan ekonomi, kepatuhan kepada Barat, hilangnya situs-situs suci, dan perpecahan yang menggerus persatuan kaum Muslim. Situasi kaum Muslim saat ini sangat mirip dengan situasi kaum Muslim di Makkah sebelum Hijrah: kelemahan, penindasan, tirani kekuatan kekafiran, dan ketiadaan otoritas Islam yang mempersatukan.
Namun, sirah Nabi mengajarkan kaum Muslim bahwa perubahan tidak datang melalui kekacauan atau reaksi emosional, melainkan melalui kesadaran, dakwah, kesabaran, dan membangun umat secara intelektual dan politik, kemudian dengan mencari nushrah (dukungan) dari mereka yang berkuasa dan berpengaruh, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW hingga Allah memberinya para pendukung (kaum Anshar).
Kewajiban Orang-Orang yang Berkuasa dan Berpengaruh
Kaum Anshar adalah teladan bagi orang-orang yang memberikan nushrah (dukungan). Oleh karena itu umat saat ini membutuhkan: orang-orang yang tulus, para cendekiawan yang jujur, orang-orang yang berpengaruh, dan orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, untuk mendukun dan membantu penegakan kebenaran dan keadilan, serta memberantas ketidakadilan dari umat ini.
Allah SWT berfirman:
﴿وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾
“Sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (TQS. Al-Hajj [22] : 40).
Dukungan itu bukan sekedar kata-kata, melainkan juga sikap, pengorbanan, dan pengambilan tanggung jawab.
Kabar Gembira Nabi SAW untuk Kaum Muslim
Dalam hadits sahih bahwa Nabi SAW bersabda:
«ثم تكونُ خلافةً على مِنهاجِ نُبُوَّةٍ»
“Maka akan ada (ditegakkan) kembali Khilafah ‘ala minhājin nubuwah.” (HR. Ahmad).
Kabar gembira ini menanamkan harapan dalam umat Islam, dan meyakinkan mereka bahwa masa depan adalah milik agama (Islam) ini, betapapun beratnya cobaan atau betapapun besarnya kekuatan ketidakadilan.
Namun, terwujudnya janji tersebut terkait dengan ke-istiqomah-an, yaitu sikap teguh pendirian, konsisten, dan terus-menerus dalam melakukan kebaikan atau ketaatan di jalan Allah SWT, serta mengikuti metode yang benar dari Nabi SAW dalam mewujudkan perubahan.
Kesimpulan
Sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah bukanlah sekadar hari-hari yang berlalu begitu saja dalam ingatan kaum Muslim, melainkan sebuah sekolah keimanan dan sejarah yang agung, mengingatkan umat tentang mulianya ketaatan, pentingnya memberikan dukungan, makna pengorbanan, dan bagaimana negara Islam pertama dibangun. Di hari-hari yang diberkahi ini, kaum Anshar berbaiat, dakwah mencapai hasil, perjalanan untuk mendirikan negara dimulai, dan wajah sejarah berubah.
Saat ini, kaum Muslim sangat membutuhkan kehadiran kembali semangat Aqaba: semangat memberikan dukungan, semangat berjuang untuk Islam, semangat persatuan, dan semangat memikul tanggung jawab, agar umat ini dapat kembali meraih kejayaannya, dan Islam dapat sekali lagi memimpin kehidupan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT.
Solusi terbaik untuk masalah sosial, politik, ekonomi, dan akidah yang tengah diderita umat dan kemanusiaan berdasarkan hukum Islam adalah kaum Muslim harus kembali sepenuhnya kepada penerapan hukum Allah dan berupaya untuk membangun entitas persatuan bagi kaum Muslim yang akan menjunjung tinggi agama dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan keadilan, rahmat, dan bimbingan.
﴿هَٰذَا بَلَاغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
“(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.” (TQS. Ibrahim [14] : 52). [] Prof. Abdus Salam Al-Badri
Sumber: Al-Waie [Arab], Edisi 478, Tahun Ke-40, Dzul Qi’dah 1447 H./Mei 2026 M.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat