Realitas Iran Saat Ini dan Bentrokan yang Kembali Terjadi Antara Iran dan Amerika Serikat
Soal:
Dengan terjadinya tukar menukar serangan antara AS dan Iran untuk kedua kalinya dalam dua hari… Garda Revolusi dalam pernyataan pada hari Ahad menganggap bahwa “pelanggaran gencatan senjata oleh AS bertentangan dengan Pasal 1 Nota Kesepahaman… yang ditandatangani pada 18 Juni antara Trump dan Masoud Pezeshkian”. Sebaliknya, Trump mengancam akan kembali berperang. Trump menulis dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya pada hari itu: “Mungkin akan tiba saatnya kita tidak lagi mampu bertindak secara rasional, dan kita akan terpaksa menyelesaikan misi secara militer setelah memulainya dengan sukses besar…”. Militer AS mengumumkan pada Sabtu malam Ahad bahwa mereka telah melakukan serangan udara terhadap target di Pulau Qasym, beberapa jam setelah Iran menargetkan sebuah kapal tanker minyak di Selat Hormuz… (al-Arabiya.net, 28 Juni 2026). Trump, bersama sekutu dekatnya, Netanyahu, telah melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, di mana Mursyid (Pemimpin Tertinggi) dan sekitar empat puluh pejabat senior Iran tewas, dan terjadi kerusakan dan kehancuran… Meskipun demikian, Iran menandatangani Nota Kesepahaman dengan Trump pada 18 Juni 2026 untuk membangun perdamaian di antara mereka, seolah-olah darah yang tertumpah dan fasilitas-fasilitas yang dihancurkan itu tidak pernah terjadi!! Adapun kaum Muslim lainnya, baik yang dekat dengan Iran maupun yang jauh, mereka menyaksikan apa yang terjadi seolah-olah mereka adalah pihak netral antara Iran dan Amerika, bahkan lebih dekat kepada Amerika! Jadi, sampai kapan lagi kaum Muslim akan terpecah belah, terombang-ambing oleh ombak kafir penjajah, setelah dahulu mereka memimpin dunia dengan membawa cahaya dan keadilan?!
Saya meminta jawaban yang menjelaskan realitas peristiwa yang terjadi? Lalu, bagaimana Umat ini dapat kembali hidup dan mulia? Terima kasih.
Jawab:
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita akan meninjau realitas peristiwa… dan kembalinya Umat ini, hidup dan mulia… Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya:
Pertama: Realitas peristiwa:
- Pada 17 Juni 2026, Bloomberg menerbitkan draf Nota Kesepahaman yang terdiri dari 14 poin antara Amerika Serikat dan Iran. Isinya identik dengan apa yang dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, pada 14 Juni 2026, mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran… Berikutnya penandatanganan Nota Kesepahaman yang tidak diperkirakan terjadi tiba-tiba antara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan mitranya dari Amerika, Trump, selama keberadaannya di Istana Versailles di Prancis di sela-sela KTT G7 pada 18 Juni 2026… Meskipun penandatanganan itu awalnya dijadwalkan berlangsung di Swiss, namun Trump, sang tiran, ingin mengingatkan kaum Muslim tentang Perjanjian Versailles setelah Perang Dunia I, yang menyebabkan runtuhnya Daulah al-Khilafah, negara kaum Muslim, dan menghancurkan persatuan mereka… Seolah-olah dengan memilih Istana Versailles, yang sebelumnya telah mengubah jalannya sejarah dengan menghancurkan al-Khilafah, Trump berusaha memasarkan dirinya dengan potret seorang pemimpin yang menciptakan sejarah, mengikuti jejak para pendahulunya! Begitulah, Memorandum tersebut ditandatangani dari jarak jauh secara elektronik di Istana Versailles, di bawah pengawasan mediator antara kedua pihak, Perdana Menteri Pakistan Syahbaz Syarif. Dengan itu, Memorandum tersebut dinyatakan resmi berlaku.. Hal itu terjadi antara Amerika dan Iran, meskipun Amerika, bersama sekutu dekatnya Netanyahu, telah melancarkan operasi militer tiba-tiba pada akhir Februari lalu yang menargetkan para pemimpin politik dan militer tertinggi rezim Iran, terutama pengambil keputusan utama yakni Mursyid (Pemimpin Tertinggi). Perang tersebut awalnya ditetapkan berlangsung selama empat hari, tetapi berlarut-larut hingga empat puluh hari, dan tidak mencapai tujuannya yang tercermin dalam penggulingan rezim saat ini atau mendatangkan pemimpin yang mengikuti Amerika untuk mengeluarkan Iran dari negara satelit yang beredar di orbit Amerika menjadi negara pengikut Amerika. Sebab beredarnya Iran di orbit Amerika selama 47 tahun, telah membuat Amerika tamak untuk menjadikan Iran sebagai negara pengikut, terutama karena Amerika mulai mengeluarkan Iran dari wilayah-wilayah yang diizinkan untuknya beroperasi di situ bersama Amerika, seperti Suriah, Irak, Lebanon, dan Yaman. Tetapi, situasi ini membuat di Iran ada sebagian orang yang berpikir untuk independen dari Amerika.. Garda Revolusi memainkan peran penting dalam hal ini. Kami telah membahas masalah ini secara rinci dalam Jawab Soal yang kami keluarkan pada 3 Juni 2026. Di antara apa yang kami katakan: “…Seperti yang terjadi di Venezuela ketika pasukan Amerika menculik presidennya, dan wakil presidennya serta orang-orang yang bersamanya menyerah kepada Amerika. Tetapi hal itu tidak terjadi di Iran setelah pembunuhan Mursyid (Pemimpin Tertinggi) Iran, Ali Khamenei dan beberapa pemimpin rezim. Garda Revolusi tetap teguh dan memutuskan untuk menghadapi agresi ini dan menyerang musuh… dan berusaha untuk independen dari Amerika, berkebalikan dengan kubu politik yang menginginkan kesepahaman dengan Amerika dan bekerja bersamanya sebagai negara satelit setidaknya, dan bukan sebagai negara pengikut…”. Keteguhan, kekuatan, dan pengaruh Garda Revolusi disebabkan oleh peran penting mereka dalam memilih Mursyid (Pemimpin Tertinggi) yang baru, Mojtaba Khamenei. Maka ia mendukung mereka dan mengandalkan mereka untuk mempertahankan kekuasaannya dan tidak menyetujui Nota Kesepahaman dan perdamaian dengan Amerika setelah Amerika membunuh Mursyid (Pemimpin Tertinggi) sebelumnya, yakni ayahnya, dan sejumlah pejabat lainnya.
- Namun, masalah ini berubah setelah kubu politik dalam pemerintahan Iran (Presiden, Ketua Parlemen, dan Menteri Luar Negeri) berhasil meyakinkan Mursyid (Pemimpin Tertinggi) bahwa Nota Kesepahaman tersebut demi kemaslahatan Iran, dan Presiden mengerahkan segenap usaha dalam hal itu. Berikutnya ada persetujuan tertulis Mursyid (Pemimpin Tertinggi), yang dipublikasikan di halaman X dan laman-laman komunikasi elektronik lainnya pada 18 Juni 2026. Di situ di mengatakan: “Ia memiliki sikap yang berbeda selama dilakukan pembicaraan dengan Amerika, tetapi ia menyetujui Nota Kesepahaman tersebut setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan para pejabat lainnya berjanji bahwa mereka akan memikul tanggung jawab untuk melindungi hak-hak bangsa Iran dan front perlawanan”. Seolah-olah ia menimpakan tanggung jawab kepada presiden dan para pejabat lainnya atas segala konsekuensi negatif bagi Iran yang diakibatkan oleh kesepakatan tersebut… Begitulah, Memorandum tersebut ditandatangani, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan di platform X pada 18 Juni 2026, setelah penandatanganan itu: “Ini adalah dokumen bersejarah dan pesan kuat dari Iran. Perdamaian akan dicapai di bawah sikap saling menghormati. Dan bahwa Iran selalu berkomitmen pada perdamaian internasional seraya menjaga martabat, kemerdekaan, kemajuan, dan kerja sama regional. Apa yang telah dicapai adalah buah dari ketahanan nasional, ideologi politik, dan diplomasi yang bertanggung jawab”… Berikutnya, suara Garda Revolusi pun surut sebagai bentuk kepatuhan kepada Mursyid (Pemimpin Tertinggi)… Anggota Parlemen Iran, Muhammad Manan Raisi mengungkapkan sikap Mursyid (Pemimpin Tertinggi) dalam pertemuan para pendukungnya, ia mengumumkan penentangannya terhadap Memorandum tersebut. Ia menyatakan: “Mursyid (Pemimpin Tertinggi) Mojtaba Khamenei meminta anggota Dewan Tertinggi Keamanan Nasional untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan “terkait Nota Kesepahaman” secara terpisah, dan yang tidak biasa, ia menetapkan persetujuan 75% anggotanya untuk Memorandum tersebut diratifikasi. Hanya satu orang anggota Dewan Keamanan Nasional yang menentangnya, sementara anggota sisanya memberikan suara mendukung… Tidak dapat dikatakan bahwa Mursyid (Pemimpin Tertinggi) menerima perjanjian tersebut dengan keridhaan penuh, tetapi juga tidak dapat dianggap sebagai penentangan terhadapnya…” (Iran International, 18 Juni 2026). Persetujuan mereka, dengan satu anggota pengecualian, terhadap Nota Kesepahaman dan kesiapan untuk menandatangani perjanjian secara final dengan Amerika menunjukkan bahwa ini membuka jalan bagi kembalinya negara mereka sebagai negara satelit. Ini tidak seperti pandangan Garda Revolusi sebelumnya, yang berusaha untuk menjadi negara independen!
- Begitulah, sayap politik jadi lebih kuat, yang keinginan paling jauhnya adalah kembalinya Iran beredar di orbit Amerika seperti dahulu, yakni seperti Turki, dan bukan sebagai negara pengikut seperti Mesir, Suriah, dan negara-negara regional semisal lainnya. Akibatnya, sayap politik di dalam pemerintahan memimpin dalam berbagai peristiwa dan negosiasi, sementara Garda Revolusi sedikit mundur.. Saya katakan sedikit, karena pengaruh Garda Revolusi belum sepenuhnya hilang, mereka berbeda dengan faksi politik. Sebelumnya, “televisi Iran pada hari Jumat mengumumkan peluncuran jalur komunikasi dengan AS mengenai Selat Hormuz…” (al-Arabiya, 26 Juni 2026). Namun, Garda Revolusi menafikan hal ini. “Juru bicara Garda Revolusi Iran, Hussain Muhibiy pada Jumat malam menafikan apa yang ia sifati sebagai klaim pejabat AS tentang pembentukan jalur komunikasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat terkait Selat Hormuz, menegaskan bahwa itu murni kebohongan.. Sebelumnya pada hari Jumat, Press TV Iran telah melaporkan pembentukan jalur komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat tentang Selat Hormuz (al-Arabiy al-Jadeed, 26 Juni 2026)). Dan juga, Garda Revolusi membalas serangan AS di pantai timur Iran.. Website Sabah News melansir sebuah pernyataan Garda Revolusi Iran yang di dalamnya Garda Revolusi menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan di pantai Iran, yang menyeru Garda Revolusi membalas di mana Angkatan Laut Garda Revolusi membombardir posisi-posisi markas militer AS di kawasan tersebut. Pernyataan tersebut menuduh Washington melanggar komitmennya dalam Nota Kesepahaman yang ditandatangani antara kedua pihak…” (al-Jazeera, 26/6/2026).
- Penandatanganan Nota Kesepahaman berarti Iran menerima gencatan senjata secara permanen dengan para penyerangnya dan berjanji untuk tidak memerangi mereka. Pasal I Nota Kesepahaman tersebut menyatakan bahwa hal itu “mencakup gencatan senjata segera dan permanen di semua front, termasuk Lebanon, dan Amerika Serikat dan Iran berjanji untuk tidak melakukan tindakan permusuhan apa pun melawan satu sama lain, dan untuk menahan diri dari mengancam atau menggunakan kekuatan terhadap pihak lain…”. Ini berarti bahwa Iran telah melepaskan diri dari perlawanan terhadap Amerika Serikat yang telah menyerangnya, membunuh para pemimpin seniornya, dan menghancurkan fasilitas nuklir dan vitalnya… Meskipun Pasal II menyatakan tidak adanya intervensi dalam urusan dalam negeri, namun pasal-pasal lain dalam perjanjian tersebut bertentangan dengan hal ini. Misalnya, Pasal 8 Nota Kesepahaman antara Amerika dan Iran: “Iran menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan berupaya memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir, dan Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk menyelesaikan masalah bahan nuklir yang telah diperkaya yang disimpan sesuai dengan mekanisme yang disepakati bersama…” (asy-Sharq, 18/6/2026). Dan Sky News melansir pada 24/6/2026: “Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa Iran tidak akan diizinkan untuk memiliki senjata nuklir, menunjuk bahwa Iran tidak dalam posisi yang baik untuk bernegosiasi dengan hancurnya tentara dan kemampuannya… Trump menambahkan bahwa inspektur nuklir akan berada di Iran pada waktu yang tepat…”. Jadi, semata teks yang menyatakan hal itu saja sudah merupakan campur tangan.
Sebagaimana, Pasal 6 membuat AS memiliki jalan untuk campur tangan dalam urusan Iran, karena menyatakan bahwa “AS berjanji untuk bekerja sama dengan mitra regionalnya dengan menyiapkan rencana komprehensif yang disepakati oleh kedua belah pihak, untuk rehabilitasi dan pembangunan ekonomi Iran, dengan menjamin penyediaan setidaknya $300 miliar. Pelaksanaan rencana ini, sebagai bagian dari perjanjian final, akan diselesaikan dalam waktu 60 hari”. Ini jalan untuk campur tangan, bahkan lebih dari itu!
- Terlepas dari semua itu, perjanjian tersebut di dalamnya ada permainan kata. Di satu sisi, dapat dipahami darinya perealisasian kepentingan Iran. Sementara di sisi lain, dapat dipahami dari perjanjian itu sebagai perealisasian kepentingan Amerika. Artinya, perjanjian itu penuh ranjau, dan mungkin enam puluh harinya itu tidak cukup untuk menghilangkannya sehingga diperpanjang! Hal itu seperti masalah pencabutan embargo … dan pembukaan kembali Selat Hormuz …
“Iran telah memperingatkan dari apa yang dianggapnya sebagai “pengaturan yang ambigu” mengenai jalur melalui Selat Hormuz, sebagai negara pesisir selat tersebut …” (Sky News, 26/6/2026). Ambiguitas ini terbukti dalam bentrokan antara Iran dan AS hari ini: “Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad menganggap bahwa “pelanggaran gencatan senjata oleh AS bertentangan dengan Pasal 1 Nota Kesepahaman dan akan menyebabkan penghentian total proses negosiasi”. Garda Revolusi juga mengklaim bahwa pengaturan yang diperlukan untuk mengendalikan navigasi di Selat Hormuz berada di tangan Iran, menurut Nota Kesepahaman yang ditandatangani pada 18 Juni antara Trump dan Masoud Pezeshkian”. (al-Arabiya.net, 28 Juni 2026). Juga dinyatakan di dalam Memorandum tersebut bahwa “Amerika berjanji untuk menarik pasukannya dari daerah-daerah di sekitar Iran dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan final dicapai”. Perlu dicatat bahwa Iran sebelumnya telah menuntut penarikan pasukan AS dari seluruh wilayah tersebut… AS juga akan mengembalikan dana Iran yang dibekukan senilai $12 miliar dengan syarat dana tersebut digunakan untuk membeli produk pertanian dan makanan Amerika! Wakil Presiden Trump, Vance, mengatakan kepada wartawan pada konferensi pers hari Senin bahwa “aset Iran yang dibekukan yang akan dilepaskan” akan dialokasikan “untuk membeli kedelai, jagung, dan gandum Amerika untuk kepentingan rakyat Iran” (al-Arabiya, 25 Juni 2026). Iran menafikan hal itu..
Qalibaf mengkonfirmasi pada hari Kamis “Apa yang diumumkan oleh AS bahwa Teheran akan menggunakan aset yang dicairkan untuk membeli produk pertanian Amerika adalah tidak benar…” (al-Arabiya, 25 Juni 2026). Kemudian, perjanjian final diratifikasi oleh Dewan Keamanan PBB! Satu pihak menafsirkan ini sebagai ketidakmampuan Iran untuk mengingkari pelaksanaannya, sementara pihak lain menafsirkan ini sebagai jaminan komitmen Amerika dengannya, seolah-olah hal itu bukan untuk kepentingannya! Lalu, Reuters melaporkan pada 18 Juni 2026, mengutip sumber yang mengetahui informasi tersebut, bahwa ada draft Dana Rehabilitasi dan Pembangunan yang tercantum dalam Nota Kesepahaman, yang menyatakan bahwa “tujuan Dana ini adalah untuk menciptakan insentif ekonomi guna tercapai kesepakatan final antara Teheran dan Washington, dan Dana ini tidak akan dibentuk kecuali kesepakatan final ditandatangani”. Itu adalah ranjau yang menyesatkan untuk memikat Iran agar melanjutkan negosiasi hingga penandatanganan final, menunggu Dana yang justru dhararnya akan lebih banyak daripada manfaatnya! Semua Pasal ini penuh ranjau yang ambigu!
- Trump menyadari bahwa ia telah gagal mencapai tujuannya melalui aksi militer. Ia terkejut dengan perlawanan Garda Revolusi terhadap agresinya… Realitas tersebut menekan Trump yang telah banyak kehilangan dalam perang yang dilancarkannya. Prestisenya telah merosot, dan kepercayaan kepadanya telah melemah di seluruh dunia, bahkan di dalam Amerika Serikat dan di dalam barisan partainya dan para pendukungnya sendiri. Hal ini tidak diragukan lagi akan memengaruhi pemilihan paruh waktu Kongres pada bulan November dan berikutnya pemilihan umum dua tahun kemudian. Pasal 4 dan 5 dari Nota Kesepahaman, yang berkaitan dengan Selat Hormuz, secara tidak langsung terkait dengan pemilihan paruh waktu Kongres di Amerika. Seperti sudah diketahui, penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan pemberlakuan blokade laut oleh AS di sana -dan selat Hormuz merupakan jalur air yang dilalui seperlima minyak dan gas alam cair dunia- telah melumpuhkan lalu lintas maritim yang mengakibatkan kenaikan tajam harga bahan bakar dan gas, yang secara alami diikuti oleh kenaikan harga pangan secara paralel. Hal ini secara otomatis berdampak pada pemilihan paruh waktu. Oleh karena itu Trump sangat perhatian untuk menandatangani perjanjian dengan Iran untuk memulihkan arus lalu lintas melalui Selat Hormuz. Sebab pembukaan kembali Selat Hormuz akan dengan cepat menurunkan harga minyak global… Begitulah, Trump menemukan benda berharganya di dalam negosiasi dan Nota Kesepahaman untuk membuat kemenangan melalui negosiasi yang tidak dapat ia raih melalui agresi militer! Ketika Garda Revolusi menentangnya dengan perlawanan heroiknya, ia menemukan perlindungan di dalam pihak politik rezim Iran (Presiden, Ketua Parlemen, dan Menteri Luar Negeri). Tokoh-tokoh ini memainkan peran utama dalam membujuk Mursyid (Pemimpin Tertinggi) untuk menerima negosiasi dan Nota Kesepahaman, dan berikutnya meredakan suara Garda Revolusi… Hal yang menegaskan keinginan kuat Amerika untuk mencapai kesepakatan dengan Iran adalah apa yang dinyatakan di Pasal 3, yang menyatakan: “Iran dan Amerika Serikat berjanji untuk bernegosiasi dan mencapai kesepakatan final dalam jangka waktu maksimal 60 hari, yang dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama”. Yakni hingga jika diperlukan perpanjangan! Setelah Amerika gagal dengan opsi militer untuk mengubah rezim Iran menjadi negara pengikut, Amerika menampakkan keinginan kuat untuk bernegosiasi dan mencapai kesepakatan final, serta menerima kembalinya Iran sebagai negara satelit seperti semula, setelah muncul suara-suara yang menyerukan independensi penuh dari Amerika, terutama dari Garda Revolusi.. Trump menghitung hal itu sebagai kemenangan dan untuk itu dia difasilitasi oleh sayap politik, terutama presiden Iran! Lalu kesiapan Iran untuk bernegosiasi dan berikutnya kemudian terjadi penandatanganan kesepakatan final, seiring dengan pandangannya bahwa Amerika tidak dapat merealisasi tujuannya terhadap rezim Iran melalui perang. Ini berarti kembalinya Iran ke titik awal sebagai negara satelit.
- Setelah itu, dan setelah penandatanganan kesepakatan tersebut, Trump berusaha memperbaiki hubungan dengan Iran dan kaum Muslim pada umumnya.. Di satu sisi, Trump mengatakan kepada web site Amerika Axios pada 19 Juni 2026, “Sayangnya, saya telah menyakiti Mursyid (Pemimpin Tertinggi) Iran, Mojtaba Khamenei”. Ini terjadi setelah persetujuan Mursyid (Pemimpin Tertinggi) terhadap Nota Kesepahaman tersebut, seolah-olah Trump berterima kasih kepadanya.. Di sisi lain, ia berpura-pura menekan entitas Yahudi pada waktu di mana ia ingin entitas Yahudi bertindak atas perintahnya dalam perang dan perdamaian mereka! Maka Trump menegur Netanyahu secara terbuka, yang mana Trump menyatakan di Evian, Prancis, pada konferensi pers di sela-sela KTT G7 pada 16 Juni 2026, “bahwa ia telah memberi tahu “Israel” bahwa serangannya terhadap Beirut tidak ia setujui dan bahwa Netanyahu sekarang harus lebih bertanggung jawab terhadap Lebanon… Tanpa saya, Israel tidak akan ada…” (al-Jazeera, 16 Juni 2026). Wakilnya, Vance, mengatakan dalam konferensi pers: “Saya katakan kepada anggota pemerintahan “Israel” yang mengkritik Trump bahwa dua pertiga dari senjata yang telah melindungi Israel selama tiga bulan terakhir dibuat oleh tangan orang Amerika dan dibayar dengan uang pembayar pajak Amerika… Seandainya saya menjadi anggota di pemerintahan Israel, saya tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang tersisa di seluruh dunia” (New York Times, 18 Juni 2026). Pernyataan Trump dan wakilnya benar seandainya mereka tulus, tetapi bagaimana mungkin, sementara entitas Yahudi tidak bergerak kecuali dengan dukungan Amerika dalam agresinya terhadap Palestina, Lebanon, dan semua tempat?! Entitas Yahudi terlalu tidak signifikan untuk memiliki bobot dengan sendirinya. Entitas Yahudi itu sebagaimana yang Allah SWT firmankan:
﴿لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ﴾
“Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan” (TQS Ali Imran [3]: 111).
Entitas Yahudi tidak memiliki kekuatan intrinsik kecuali dengan tali dukungan dari Allah dan tali dukungan dari manusia. Mereka telah memutuskan tali (dukungan) Allah sejak para nabi mereka dan hanya tersisa tali dukungan dari manusia! Amerika mendukung mereka dalam agresi mereka terhadap Lebanon dan apa yang mereka sebut zona penyangga. Trump berada di balik agresi mereka dan kelangsungan hidup entitas mereka, sebagaimana pernyataan-pernyataannya yang disebutkan sebelumnya… Semoga Allah membinasakan mereka.. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan! Mereka masih tetap menduduki sebagian wilayah Lebanon dan membom daerah-daerah Lebanon dengan senjata Amerika dan justifikasi Amerika dengan dalih atas dasar membela diri!
- Inilah realita peristiwa secara singkat. Dan yang wajib adalah tidak memberi Trump melalui negosiasi, apa yang tidak dapat ia peroleh melalui perang, terutama karena Iran bukanlah negara kecil atau lemah. Sebab Iran memiliki kekuatan untuk bertahan dalam perang yang panjang dan mengalahkan Amerika serta mengusirnya dari kawasan tersebut dengan memalukan, seperti Amerika diusir dari Afghanistan pada tahun 2021. Dan kemudian Iran akan menjadi sepenuhnya independen dengan politiknya, dan tidak kembali menjadi negara satelit dan tidak jatuh ke tingkat negara pengikut. Sebab Iran memiliki luas wilayah daratan yang sangat besar yaitu 1,6 juta kilometer persegi, memiliki beragam medan termasuk pegunungan, gurun, lembah, dan garis pantai. Populasinya sekitar 90 juta jiwa. Dan Iran memiliki dimensi strategis. Iran memiliki perbatasan dengan banyak negara, yang dapat menjadi titik akses untuknya dalam menghadapi potensi blokade apa pun. Iran memiliki sumber daya energi seperti minyak dan gas. Demikian juga memiliki sumber daya alam lainnya. Iran memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri berkat lahan pertaniannya yang mencukupi. Iran juga memiliki industri militer yang mampu memproduksi senjata untuk pertahanan diri, seperti rudal jarak jauh dan drone, yang semuanya dapat dikembangkan lebih lanjut, bersama dengan industri sipil.. Bahkan, hingga kemampuan nuklir, Iran mampu. Ketika pada tahun 2018 Trump menarik diri dari perjanjian nuklir tahun 2015, Iran mampu memperkaya uranium hingga sekitar 60%, mencapai sekitar 440 kg, peningkatan signifikan dari batas 3,67% yang ditetapkan dalam perjanjian tahun 2015.
Oleh karena ini, penandatanganan Nota Kesepahaman dan berikutnya dimulai negosiasi untuk membuatnya ditandatangani secara final menurut poin-poin Memorandum tersebut, penandatanganan ini merupakan pemberian konsesi yang besar! Ini menyelamatkan Amerika yang kalah dalam pertempuran dengannya (Iran) padahal Amerika telah terlibat dalam perang ini dan menyibukkannya lebih dari empat bulan. Namun, kepemimpinan politik Iran kurang memiliki kemauan yang tulus dan ideologis yang hakiki, bahkan mereka berdiri menghadang Garda Revolusi ketika Garda Revolusi berupaya berjalan untuk independen dari pengaruh Amerika dan siap berkorban dalam menolak agresi Amerika dan teman dekatnya, entitas Yahudi. Alih-alih begitu, sebaliknya presiden Iran justru menandatangani Nota Kesepahaman tersebut dan merealisasi untuk Trump apa yang tidak dapat ia capai melalui perang!
Kedua: Adapun bagaimana Umat Islam akan kembali kepada kehidupan yang mulia setelah kehinaan yang mereka alami ini, perkara tersebut bukanlah hal yang tidak diketahui, tetapi telah tertulis di dalam Kitab Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, dan di dalam Sunnah Rasulullah yang benar dan terpercaya; yakni Khilafah milik kaum Muslim yang memerintah mereka dengan apa yang telah Allah turunkan:
﴿وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيراً مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ﴾
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” (TQS al-Maidah [5]: 49).
Dan seorang khalifah yang berjihad bersama mereka di jalan Allah. Imam Muslim telah mengeluarkan … dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda:
«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
“Sesungguhnya seorang imam laksana perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya”.
Kemudian ada berabad-abad sejarah yang mengatakan keagungan Daulah Islam, al-Khilafah ar-Rasyidah, dan kemuliaan serta keadilan kaum Muslim.. Mereka menolong Allah dengan memutuskan hukum menurut apa yang telah Allah turunkan, sehingga Dia menolong mereka.. Dan ketika negara mereka dihancurkan melalui konspirasi kafir penjajah bersama agen-agen mereka di negeri kaum Muslim, kaum Muslim menjadi berada dalam kehinaan, kerendahan, dan kesempitan hidup.
﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً﴾
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit” (TQS Thaha [20]: 124).
Tetapi situasi ini tidak akan berlangsung lama, dengan izin Allah, karena al-Khilafah pasti kembali sesuai dengan janji Allah yang benar:
﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (TQS an-Nur [24]: 55).
Dan sesuai kabar gembira dari Rasul-Nya saw setelah pemerintahan tiran yang kita jalani ini. Imam Ahmad telah mengeluarkan… dari Hudzaifah, ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda:
«… ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَتَ»
“… kemudian akan ada kekuasaan tirani dan akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Dia mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”, kemudian beliau diam”.
Maka al-Khilafah akan kembali, insya Allah. Dan pertolongan Allah bagi orang-orang yang menolong agama-Nya merupakan janji dari Allah SWT:
﴿وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (TQS al-Hajj [22]: 40).
Namun, Allah SWT telah menetapkan bahwa kemenangan tidak akan turun kepada kita dari langit, dibawa oleh para malaikat-Nya, dan para malaikat itu menegakkan al-Khilafah untuk kita sementara kita hanya duduk diam. Sebaliknya, kita harus berjuang, bersungguh-sungguh dan penuh kesungguhan, dan mencari kejujuran dan keikhlasan dalam apa yang kita kerjakan, dan kita yakin dengan janji Allah tentang pemberian kekuasaan bagi orang yang beriman dan melakukan amal saleh. Begitulah, dengan dua hal: iman dan amal saleh:
﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ…﴾
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi…” (TQS an-Nur [24]: 55).
Dan semua itu jelas dalam sirah Rasulullah saw. bagaimana beliau berjuang dan bagaimana beliau menghadapi bahaya… hingga pertolongan Allah SWT datang kepada beliau. Beliau menolong Allah maka Allah menolong beliau. Dan inilah sunah Allah SWT:
﴿سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً﴾
“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu” (TQS al-Fath [48]: 23).
Begitulah, Rasulullah saw. berjuang. Dan begitulah para Sahabat beliau ridhwânullâh ‘alayhim meneladaninya. Dan begitulah seharusnya kita. Maka pertolongan Allah pasti akan datang dan tidak ada keraguan sedikitpun, dengan izin-Nya SWT, dan semoga segera terjadi dalam waktu dekat.
Inilah yang akan menyelamatkan Umat, mengembalikan kemuliaannya, memperkuat kekuasaannya, dan membuat musuh-musuhnya berpikir seribu kali sebelum menyerangnya. Hanya ini saja, dengan kembalinya Khilafahnya, dan menerangi bumi dengan kebaikan dan keadilannya. Sebagaimana al-Khilafah dahulu menghancurkan kesombongan para Kaisar dan Kisra, demikian pula al-Khilafah akan menghancurkan kesombongan para pengikut mereka, seperti tiran Trump dan semisalnya di antara kaum kafir penjajah..
﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ﴾
“Pada hari (kemenangan) itu, orang-orang mukmin bergembira karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (TQS ar-Rum [30]: 4-5).
﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ﴾
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya” (TQS Qaff [50]: 37).
13 Muharram 1448 H
28 Juni 2026
https://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/110223.html
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat