Presiden AS Menunjukkan Ketidaknyamanannya terhadap Iran dan Mengirimkan Pesan Ancaman kepada Para Pemimpin yang Bertemunya
Pada 22 September 2026, Trump mengatakan kepada Majelis Umum PBB: “Saya memulai negosiasi dengan Iran setelah menjabat pada Januari 2025 dan menawarkan kerja sama ekonomi penuh sebagai imbalan atas penghentian program nuklirnya dan dukungannya terhadap terorisme, tetapi Iran menolak, dan saya menganggap itu sebagai kesalahan besar.” Trump menambahkan: “Iran sedang menunggu untuk melihat bagaimana kinerja saya dalam pemilihan kongres paruh waktu, dan saya tidak akan membiarkan pemilihan tersebut memengaruhi kebijakan saya terhadap Iran.”
Pada saat yang sama, Trump mengatakan bahwa ia berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Iran segera setelah pemilihan kongres paruh waktu atau sebelumnya. Hal ini menunjukkan rasa frustrasinya atas ketidakmampuannya untuk menundukkan Iran sesuai kehendaknya, dan kekhawatirannya bahwa partainya akan kalah dalam pemilihan paruh waktu, sehingga ia menyatakan bahwa ia tidak akan membiarkan pemilihan tersebut memengaruhi kebijakan-kebijakannya yang kurang tepat.
Namun, ia menunjukkan kejantanannya dengan mengumpulkan para presiden dan menteri negeri-negeri Islam, termasuk Mesir, Lebanon, Suriah, Irak, Turki, dan Qatar, di sela-sela pertemuan Majelis Umum. Trump berdiri di hadapan mereka, mengancam Iran dan membual tentang menghancurkan kekuatan dan kemampuannya. Ia berkata, “Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Operasi militer Amerika Serikat telah merusak parah angkatan laut Iran, angkatan udara, pabrik senjata, fasilitas penyimpanan rudal balistik dan drone, serta sistem pertahanan udara. Kerusakan tersebut juga menyebabkan kerugian signifikan bagi perekonomian Iran, termasuk inflasi yang melebihi 300%. Tekanan finansial dan ekonomi yang diberikan Amerika Serikat kepada Iran bertujuan untuk memaksanya mengubah haluan.” Trump berkata, “Iran harus memilih antara kejayaan atau kehancuran.”
Ini adalah pesan ancaman dari Trump kepada para penguasa yang berkumpul bersamanya: bahwa siapa pun di antara mereka yang memberontak terhadap Amerika Serikat akan menghadapi nasib yang sama seperti Iran. Tetapi para penguasa ini—Erdogan, Tamim, Sisi, Abdullah II, dan al-Julani—entah gagal memahami atau lebih memilih penghinaan daripada martabat. Mereka tetap diam, mendengarkan ancamannya, tanpa bangkit dan membalikkan keadaan, menanggapi dengan pesan-pesan menantang dan kesiapan untuk melawan Amerika Serikat, atau memerintahkan penutupan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di negara mereka.
﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Padahal kekuatan, keperkasaan, dan kemuliaan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya, dan milik orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.” (TQS. Al-Munafiqun [63] : 8).
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 24/9/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat