Cinta kepada Rasulullah SAW Harus Dibuktikan dengan Ittiba’

 Cinta kepada Rasulullah SAW Harus Dibuktikan dengan Ittiba’

Praktisi Pendidikan, Nurul, menegaskan, cinta kepada Rasulullah SAW harus dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti petunjuk beliau dalam kehidupan). Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Tematik Mencintai Nabi, Meneladani Risalah Rasulullah, Ahad (14/5/2026) di Depok.

“Sejatinya cinta kepada beliau bukan sekadar perasaan haru atau pujian di bibir semata, melainkan manifestasi dari keimanan yang menuntut ketaatan dan pembuktian nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya di hadapan puluhan peserta.

Ia pun menyampaikan hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”

“Hadits tersebut mengajarkan bahwa menempatkan cinta kepada Rasulullah SAW di atas segalanya adalah syarat kesempurnaan iman. Cinta yang sejati itu pada akhirnya akan melahirkan ketundukan dan kesadaran untuk senantiasa mengikuti jalan hidup beliau,” tuturnya.

Allah SWT juga, lanjutnya, menjadikan ittiba’ kepada Rasulullah saw.  sebagai standar kebenaran cinta kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 31, “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”

Menurutnya, ayat di atas, memberikan kejelasan bahwa jalan untuk menggapai ampunan dan kecintaan Allah SWT tidak ada lain kecuali dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai satu-satunya uswatun hasanah (suri teladan terbaik) dalam perkataan, perbuatan, maupun ketetapan beliau, sebagaimana ditegaskan pula dalam Al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 21 dan surah an-Nur ayat 54.

Bagi Muslimah, lanjutnya, keteladanan Rasulullah SAW dapat diwujudkan dalam berbagai peran, baik sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu, maupun pendidik generasi. Muslimah juga memiliki peran sebagai anggota masyarakat dan pengemban dakwah dengan kepedulian terhadap kondisi umat, melakukan amar makruf nahi mungkar, serta mengikuti metode dakwah Rasulullah saw.

“Sejarah mencatat, Rasulullah SAW tidak hanya berdakwah kepada individu, tetapi juga bertindak sebagai pemimpin masyarakat dan negara di Madinah. Dalam kepemimpinannya, beliau mengatur seluruh tatanan kehidupan berlandaskan risalah Islam, mulai dari menegakkan hukum yang adil, menerapkan sistem ekonomi yang bebas dari riba, menjaga keamanan warga, hingga mengatur hubungan sosial serta politik luar negeri,” bebernya.

Hal tersebut, tergasnya, membuktikan bahwa ajaran Islam yang dibawa beliau adalah sebuah sistem kehidupan yang sempurna dan tidak bisa dipisahkan dari tata kelola masyarakat.

“Oleh karena itu, setiap Muslimah memiliki potensi dan tanggung jawab kepemimpinan, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Menumbuhkan kepemimpinan muslimah dapat dimulai dengan memperkuat ilmu, meluruskan niat semata-mata karena Allah, melatih diri dalam kedisiplinan dan amanah, menghadirkan manfaat bagi sesama, serta membangun kolaborasi kebaikan yang disempurnakan dengan doa. Sebab, muslimah hari ini adalah cahaya bagi perubahan esok hari,” jelasnya.

Oleh karena itu, terangnya, ittiba’ kepada Rasulullah SAW secara sempurna hanya dapat diwujudkan melalui penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam seluruh aspek kehidupan, sebagaimana doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 127, “Rabbana taqabbal minna innaka antas-sami’ul ‘alim” (Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Menerima lagi Maha Mengetahui).

“Semoga ilmu yang kita pelajari menjadi cahaya pembimbing untuk terus memperbaiki diri, mengamalkannya, dan membawa keberkahan bagi kehidupan umat,” pungkasnya.[] Ayyuhanna Widowati

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *