Perang di Iran Membongkar Mitos Kekuatan Amerika yang Tak Terkalahkan

Perang di Iran Membongkar Mitos Kekuatan Amerika yang Tak Terkalahkan, dan Membuktikan bahwa yang Kurang dari Tentara Kita adalah Kemauan Politik, bukan Kemampuan Militer

Selama lebih dari 20 hari, Amerika dan entitas Yahudi telah melancarkan perang terhadap Iran setelah Amerika membawa ke kawasan itu kapal induk, kapal perusak, kapal penyapu ranjau, dan lebih dari 160 pesawat jet—siluman dan non-siluman, yang diklasifikasikan sebagai yang tercanggih di dunia, hingga mobilisasinya mencapai lebih dari sepertiga armada angkatan lautnya, yang setara dengan seluruh armada angkatan laut Prancis. Di sampingnya terdapat entitas Yahudi yang berpartisipasi dalam perang dengan lebih dari 200 pesawat jet, serta bantuan pangkalan-pangkalan Amerika yang tersebar di Timur Tengah dan Teluk, yang jumlahnya lebih dari dua puluh pangkalan dan instalasi utama, di samping puluhan lokasi dan titik pengerahan yang lebih kecil. Perang ini juga dibantu oleh pangkalan-pangkalan Inggris yang ada di kawasan tersebut dan di Inggris sendiri, serta pangkalan-pangkalan Prancis, dan juga dibantu oleh para penguasa Muslim di kawasan yang telah memanfaatkan tanah, wilayah udara, dan kemampuan militer mereka untuk melayani Amerika dalam perangnya melawan Iran. Terlepas dari semua ini, Amerika masih belum mampu mencapai apa yang diimpikannya, yaitu menaklukkan rezim Iran dan memaksanya untuk tunduk secara memalukan pada persyaratan kolonialnya dalam semalam.

Setelah presidennya, Donald Trump, dan pilar-pilar pemerintahannya membual, dan masih membual memiliki tentara terkuat dan tercanggih di dunia; juga setelah euforia yang menyelimuti mereka menyusul operasi penculikan presiden Venezuela dalam satu malam, mereka berpikir bahwa mereka dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan serta memerintah siapa pun yang mereka inginkan, dan mereka ditaati. Jadi, mereka melancarkan perang terhadap Iran dengan keyakinan bahwa mereka akan menyelesaikan misi dan memenangkan perang dengan mudah. ​​Bagaimana tidak, ketika Donald Trump sendiri terkejut bahwa Iran tidak menyerah hanya dengan melihat mobilisasi Amerika di kawasan tersebut!

Amerika gigit jari, harapannya gagal dan perhitungannya keliru. Sebab tentara Iran berhasil bertahan hingga saat ini, dan bahkan memberikan pukulan telak kepada Amerika di kawasan itu dengan menargetkan protegenya, entitas Yahudi, pangkalan militer Amerika yang tersebar di seluruh kawasan, serta radar dan sistem peringatan dini, yang menyebabkan sebagian atau seluruh sistem tersebut tidak berfungsi, serta menargetkan kapal-kapal Amerika dan navigasi melalui Selat Hormuz. Hal ini telah menyebabkan mereka mengalami kemunduran yang terlihat jelas di wajah dan pernyataan mereka, di mana sikap keras kepala tampak lebih dominan daripada realisme. Perang masih berkecamuk, dengan ancaman dan ancaman balasan yang terus berlanjut, sementara tentara Iran menunjukkan tekad dan kegigihan dalam menghadapi upaya Amerika dan entitas Yahudi untuk memaksakan kekalahan kepada mereka.

Amerika, dengan segala kesombongannya, memiliki lebih dari 3.700 hulu ledak nuklir dan rudal balistik, tidak hanya mengancam negara-negara tetangganya tetapi juga rudal antarbenua yang mengancam seluruh dunia, serta memiliki agen, proksi, dan lebih dari 128 pangkalan militer di seluruh dunia, yang dengannya Amerika mengancam dunia dan bahkan sekutu-sekutu masa lalunya, menyerang di mana pun ia mau. Namun pada saat yang sama, Amerika melihat bahwa Iran tidak berhak memiliki senjata nuklir atau rudal balistik, berdasarkan logika kekuasaan dan kesombongan, ini adalah logika yang sama seperti yang ada pada Firaun sebelumnya. Allah SWT berfirman:

﴿قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَى وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ﴾

“Fir’aun berkata, ‘Aku hanya mengemukakan kepadamu apa yang aku pandang baik dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar’.” (TQS. Ghafir [40] : 29).

Kini telah menjadi jelas bagi setiap orang yang memiliki mata bahwa Amerika, dengan segala kekuatannya, sekutunya, dan protegenya, yaitu entitas Yahudi, bukanlah negara adidaya atau pembuat mukjizat, dan bahwa tentara umat Islam memiliki kemampuan untuk melawan Amerika, kesombongannya, dan kolonialismenya. Satu-satunya yang kurang dari tentara umat ini adalah kemauan politik, yang disia-siakan oleh penguasa-penguasa pengkhianat, seandainya mereka tidak menahan tentara umat dan tidak mendukung penjajah kafir mengekang umat Islam melalui perjanjian-perjanjian pengkhianatan dan aliansi-aliansi yang memalukan, serta tidak menggadaikan kemauan mereka kepada penjajah kafir, tentu tentara umat Islam akan mampu mengalahkan Amerika dan sekutunya serta mempermalukan mereka. Peristiwa terkini menegaskan kebutuhan mendesak dan penting bagi umat Islam untuk menyingkirkan para penguasa dan mengambil kendali atas urusan-urusannya, menyerahkannya kepada orang-orang yang tulus dan mampu membimbingnya menuju martabat, pembebasan, dan pemberdayaan, serta mengakhiri kesombongan Amerika, tirani Yahudi, dan ambisi kolonial mereka di kawasan ini. Allah SWT berfirman:

﴿إِلَّا تَنفِرُواْ يُعَذِّبْكُمْ عَذَاباً أَلِيماً وَيَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوهُ شَيْئاً وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾

“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih serta menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (TQS. At-Taubah [9] : 39).

 

Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

apatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: