Pertama: Lokasi dan Pentingnya Geografis
Selat Hormuz adalah satu-satunya jalur laut yang menghubungkan negara-negara Teluk Arab ke samudra terbuka, dan dari sana ke seluruh dunia. Kapal-kapal yang berangkat dari pelabuhan-pelabuhan penting seperti Basra di Irak, terminal ekspor di Kuwait, pelabuhan Ras Tanura dan Jubail di Arab Saudi, serta fasilitas ekspor di UEA, Qatar, dan Iran harus melewati jalur air wajib ini, sebelum mencapai Teluk Oman dan kemudian ke Samudra Hindia.
Selat ini tidak lebar menurut standar maritim internasional, dengan lebar sekitar 21 mil laut (sekitar 33 kilometer) pada titik tersempitnya antara pantai Iran dan Semenanjung Musandam Oman. Namun, jalur pelayaran sebenarnya yang digunakan oleh kapal komersial jauh lebih sempit, dan ia merupakan poin penting yang perlu dipertimbangkan ketika memperkirakan potensi ancaman atau penutupan jalur tersebut.
Untuk menghindari tabrakan antara kapal-kapal raksasa yang mendominasi rute ini, otoritas maritim menetapkan sistem untuk mengatur navigasi; menurut sistem tersebut, kapal-kapal yang menuju Teluk melewati jalur masuk khusus dengan lebar sekitar dua mil laut, sementara kapal-kapal yang berangkat menggunakan jalur paralel dengan lebar yang sama, dan zona penyangga selebar dua mil laut memisahkan pergerakan kapal-kapal yang menuju ke kedua arah.
Akibatnya, kapal-kapal terbesar di dunia bergerak lambat di perairan terbatas wilayah teritorial Iran dan Oman. Kapal tanker raksasa yang membawa jutaan barel minyak mungkin membutuhkan beberapa kilometer untuk mengubah haluan, dan kemampuan mereka untuk bermanuver dengan cepat sangat terbatas.
Kedua: Arteri Energi Global (Bahasa Angka)
Badan-badan energi internasional memperkirakan bahwa “pada tahun 2024, sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah, kondensat, dan produk minyak bumi melewati Selat Hormuz, setara dengan sekitar seperlima dari konsumsi minyak global dan lebih dari seperempat perdagangan minyak melalui laut.” Selain minyak mentah, sejumlah besar produk minyak bumi olahan seperti diesel, bensin, dan bahan bakar minyak berat melewati Selat Hormuz. Kilang-kilang di Teluk mengekspor bahan bakar ini ke pasar di Asia, Afrika, dan Eropa, memperkuat peran selat tersebut sebagai arteri vital untuk distribusi energi global.
Adapun di bidang Gas Alam Cair, Liquefied Natural Gas (LNG), maka negara Qatar memainkan peran penting, karena memiliki ladang gas terbesar di dunia. Pada tahun 2025, sekitar 110 miliar meter kubik LNG melewati Selat Hormuz, yang mewakili hampir 20% perdagangan LNG global. Karena gas tersebut diangkut oleh kapal tanker khusus, maka gangguan apa pun akan berdampak langsung pada rantai pasokan, menjadikan Selat Hormuz sebagai gerbang energi maritim terpenting di dunia modern.
Ketiga: Mungkinkah Selat Hormuz Ditutup?
Pada Juni 2025, Iran mengancam akan menutup selat tersebut, tetapi masalah ini bukan sekadar keputusan politik, melainkan dipengaruhi oleh pertimbangan yang kompleks:
- Ketergantungan ekonomi Iran: Ekonomi Iran secara organik terkait dengan sektor energi, dengan pendapatan minyak mewakili sekitar 85% dari total pendapatannya, dan sebagian besar terminal ekspornya terletak di Teluk. Oleh karena itu, selat tersebut juga merupakan jalur kehidupan bagi Iran, sehingga keputusan penutupan akan menjadi bunuh diri ekonomi. Namun, Iran mungkin memandangnya sebagai masalah eksistensial yang melampaui perhitungan keuangan.
- Kompleksitas praktis: Menutup selat secara teoritis mudah tetapi sangat kompleks dalam praktiknya. Gangguan seperti itu akan menyebabkan guncangan pada pasar global dan peningkatan tajam dalam biaya pengiriman dan biaya hidup.
- Dilema moneter: Bank sentral di seluruh dunia akan menghadapi risiko stagflasi, karena inflasi akan meningkat tajam, memaksa mereka untuk menaikkan suku bunga, yang akan menghambat pertumbuhan dan menyebabkan resesi yang dalam.
Keempat: Dampak Logistik dan Pengaruh Global
Tujuan Iran dalam mengancam ini adalah untuk mengubah krisisnya sendiri menjadi krisis global guna menekan Amerika, sedang dampaknya meliputi:
- Perubahan rute: Kapal akan dipaksa untuk mengelilingi seluruh Semenanjung Arab, meningkatkan konsumsi bahan bakar dan menempuh jarak ribuan mil laut, serta menunda pengiriman selama berminggu-minggu.
- Kelumpuhan industri: Keterlambatan kedatangan bahan baku akan menyebabkan perlambatan global dalam manufaktur dan kelangkaan komoditas.
- Isolasi pelabuhan: Pelabuhan-pelabuhan di Teluk akan sepenuhnya terputus dari perdagangan maritim, dengan perusahaan asuransi yang meninggalkan wilayah tersebut, biaya operasional yang melonjak, dan jutaan pekerja yang diberhentikan.
Kelima: Pihak yang Terdampak
Bertentangan dengan apa yang dipromosikan oleh beberapa pihak, termasuk pernyataan Trump bahwa Amerika tidak lagi membutuhkan minyak Teluk, justru Amerika akan menjadi salah satu pihak yang paling dirugikan melalui:
- Hilangnya prestise internasional
- Meningkatnya perpecahan internal dan keretakan di dalam blok Barat
- Harga energi domestik yang lebih tinggi karena keterkaitannya dengan harga global, yang akan meningkatkan biaya manufaktur Amerika
Adapun negara-negara Asia, yaitu China, India, Jepang, dan Korea Selatan, adalah yang paling rentan, karena 84% pengiriman minyak dan 83% pengiriman gas yang melewati Selat Hormuz ditujukan untuk pasar Asia.
Bagi Eropa, situasinya sangat buruk, karena mereka sudah menderita akibat dampak perang Ukraina dan gangguan pasokan gas Rusia. Sebuah laporan penelitian bulan Maret 2026, berjudul, “When the Strait Closes: Trade Dependencies and Shipping Disruption Scenarios for the Strait of Hormuz,” yang dilakukan oleh Supply Chain Intelligence Institute Austria bekerja sama dengan lembaga penelitian di Complexity Science Hub Vienna dan Delft University of Technology (TU Delft), menyatakan, “Model pengiriman mengungkapkan temuan penting: sementara gangguan singkat selama dua minggu atau kurang kemungkinan akan memiliki konsekuensi ekonomi yang terbatas, gangguan yang berlangsung lebih dari empat minggu menghasilkan dampak yang jauh lebih besar karena penundaan jadwal yang berantai menumpuk di seluruh jaringan pengiriman global.
Bagi Eropa, situasinya sangat buruk, karena Eropa sudah menderita akibat dampak perang Ukraina dan gangguan pasokan gas Rusia. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Institut Informasi Rantai Pasokan Austria bekerja sama dengan lembaga penelitian di Wina dan Universitas Teknologi Delft, penulis studi tersebut, Stefan Thorner, menyatakan: “Dampak ekonomi sangat bergantung pada lamanya penutupan wilayah Iran, dan jika penutupan berlangsung lebih dari empat minggu, maka gangguan pada rantai pasokan global dapat memburuk,” menurut Kantor Berita Jerman (DPA). Dalam artikel “Keamanan Eropa: Apa saja risiko yang dihadapi Eropa jika Selat Hormuz ditutup?” menyatakan: “Jika Iran menutup Selat Hormuz, Eropa akan menghadapi salah satu krisis multidimensi paling kompleks dalam beberapa dekade. Dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor energi saja, tetapi akan meluas ke ekonomi, keamanan, kebijakan luar negeri, dan bahkan stabilitas internal beberapa negara Eropa.”
Kesimpulannya: Perang saat ini telah menunjukkan kepada seluruh dunia kebutuhan mendesak akan tatanan dunia baru, setelah kelemahan sistem saat ini dan rusaknya lembaga serta negara-negaranya terungkap. Tidak ada yang lebih layak selain umat Islam dengan sistem Islam yang diwahyukan secara ilahi untuk memimpin transformasi ini, sistem yang akan membawa manusia keluar dari kesempitan keserakahan dan ketamakan materi, menuju keadilan Islam dan keluasan rahmatnya. [] Ustadz Hassan Hamdan
Sumber: alraiah.net, 25/3/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat