Eskalasi Konflik Timteng, UIY: Umat Islam Jadi Korban

MediaUmat Konflik yang terus membara di kawasan Timur Tengah dinilai tidak hanya menempatkan umat Islam sebagai penonton, tetapi juga memosisikan mereka sebagai korban utama dari konstelasi geopolitik global.

“Bukan hanya menjadi penonton, kaum Muslimin justru menjadi korban,” ujar Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) dalam Live Fokus: Perang Iran-Amis Kembali Pecah, Kenapa? di kanal YouTube UIY Official, Ahad (19/7/2026).

Pernyataan tersebut merespons kembali memanasnya ketegangan militer di Timteng, menyusul aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran usai kesepakatan (MoU) yang dinilai rapuh. Eskalasi ini memicu ancaman gangguan keamanan di titik-titik vital perdagangan dunia, seperti Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, serta memperluas dampak ekonomi bagi negara-negara di kawasan Teluk.

Menurut UIY, dominasi kepentingan politik AS dan aksi agresif Israel menjadi pemantik utama yang menyeret negara-negara Muslim ke dalam krisis berkepanjangan.

AS dinilai UIY, berusaha mengontrol dinamika politik kawasan untuk mempertahankan hegemoninya, sementara Israel berupaya melemahkan posisi Iran sebagai satu-satunya kekuatan strategis yang tersisa.

“Dari perspektif Israel, dia tidak akan pernah rela Iran itu dibiarkan begitu saja. Makanya betul ini situasi yang point of no return bagi Amerika juga bagi Israel,” tegas UIY.

Ia menambahkan, posisi Iran yang terdesak akibat embargo bertahun-tahun serta kehilangan sejumlah tokoh penting justru mendorong perlawanan yang makin keras, termasuk potensi aksi penutupan jalur maritim internasional yang berisiko memicu krisis global.

Perlunya Konsolidasi dan Integrasi Politik Umat

Lebih jauh, UIY menyayangkan potensi besar yang dimiliki dunia Islam saat ini—mulai dari demografi mencapai dua miliar jiwa, posisi geografis strategis, hingga penguasaan mayoritas sumber daya minyak dunia—belum mampu dimanfaatkan secara optimal untuk menghentikan berbagai agresi.

“Potensi itu sepertinya sia-sia. Mengapa? Karena itu potensi yang tidak terintegrasikan secara politik,” jelasnya.

Ia menilai, selama umat Islam tidak memandang krisis geopolitik dalam satu kesatuan dan hanya berfokus pada kepentingan regional sempit, posisi kawasan akan terus rentan menjadi arena perebutan pengaruh negara-negara besar.

“Intinya kita harus punya agenda untuk kembali mengonsolidasikan umat melalui integrasi secara politik, dengan terus melakukan aktivitas politik untuk mengembalikan umat di bawah kepemimpinan yang memang sesuai dengan apa yang menjadi ajaran dari kita punya agama. Itulah Al-Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwah,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: