Para Penguasa Muslim, Pengikut si Bajak Laut Trump, Mereka Tidak Melihat Jalan Keluar darinya!

 Para Penguasa Muslim, Pengikut si Bajak Laut Trump, Mereka Tidak Melihat Jalan Keluar darinya!

Mereka Itu “Tuli, Bisu, dan Buta, Sehingga Mereka Tidak Dapat Kembali.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 18)

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato di Florida, pada 2 Mei 2026, di West Palm Beach, di mana ia fokus pada perang dengan Iran dan blokade laut. Ia memuji Angkatan Laut AS, yang menggambarkan operasi penyitaan kapal-kapal Iran dengan mengatakan, “Kita seperti bajak laut”, serta menegaskan penghancuran tentara Iran dan blokade pelabuhan-pelabuhannya. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan pada hari Kamis, 30 April 2026, bahwa “Aktor asing tidak memiliki tempat di Teluk kecuali di perairan terdalamnya.” Pernyataan Mojtaba ini muncul lebih dari tujuh minggu setelah pengangkatannya sebagai Pemimpin Tertinggi baru negara itu menyusul pembunuhan ayahnya, yang hingga kini belum terlihat atau terdengar kabarnya oleh rakyat Iran. Sebuah pesan yang dikaitkan dengannya berbunyi, “Kita dan tetangga kita di seberang Teluk Persia dan Teluk Oman memiliki takdir yang sama, dan aktor asing—yang datang dari ribuan kilometer jauhnya dengan niat serakah—tidak memiliki tempat di sini kecuali di perairan terdalamnya.” Pesan pada hari Kamis ini disampaikan saat Trump bersiap untuk memberlakukan blokade jangka panjang terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang ia anggap sebagai taktik tekanan utama untuk memaksa Iran melanjutkan negosiasi yang bertujuan mengakhiri perang.

Meskipun Trump mengakui dirinya sebagai bajak laut yang menjarah jalur air dan kapal-kapal yang berlayar di lautan kaum Muslim, namun para penguasa Muslim masih mencari dukungannya, serta menjadikannya sebagai panutan dan pemimpin mereka. Meskipun terdapat bukti yang jelas bahwa bajak laut tidak dapat menandingi kekuatan angkatan laut yang sebenarnya, dan bajak laut ini beroperasi di luar batas hukum internasional, norma, dan nilai-nilai kemanusiaan, namun rezim-rezim yang ada di negeri-negeri Muslim masih takut pada bajak laut ini, bahkan percaya bahwa bajak laut ini adalah kekuatan yang tak terkalahkan! Apa lagi yang mereka inginkan selain pengakuan dari si bajak laut sendiri, setelah menjadi jelas bagi semua orang yang memiliki mata untuk melihat bahwa kekuatan kafir penjajah di balik bajak laut ini telah gagal menaklukkan negeri Islam yang selama beberapa dekade telah dikenai sanksi internasional, yang telah sangat menghambat pengembangan kekuatan militer yang sebanding dengan kemampuan penuh rakyatnya?

Seandainya rezim mana pun yang ada di negeri-negeri Islam memiliki sedikit saja kemandirian dalam pengambilan keputusan, niscaya ia pasti akan memanfaatkan kesempatan emas ini untuk membebaskan diri dari penjajahan Barat, dan ia pasti mampu membangun negara adidaya di dunia, daripada terus-menerus bergantung pada Amerika di beberapa waktu, dan pada Inggris atau Rusia di waktu lain. Namun, bersikukuh rezim-rezim ini untuk selalu tunduk kepada kaum kafir penjajah, tanpa memikirkan pembebasan sama sekali dari tuan mereka, kaum kafir penjajah, maka semua ini menegaskan bahwa rezim-rezim ini sama sekali tidak memiliki hubungan dengan umat Islam ini. Mereka hanyalah rezim fungsional (bawahan), sehingga tidak terpisahkan dari tuan mereka yang telah menempatkannya sebagai pencuri dan bajak laut atas umat, yang menjarah sumber daya serta keyakinannya.

Sungguh di tengah situasi ini menegaskan bahwa hanya Hizbut Tahrir satu-satunya penggagas dan pengusung proyek Khilafah ‘ala minhājin nubuwah, yang memiliki visi Syariah mengenai kewajiban membebaskan umat dari kaum kafir penjajah, dan kewajiban mempersatukan umat di bawah naungan Khilafah. Hizbut Tahrir juga merupakan satu-satunya yang memiliki kesadaran politik dan pandangan jauh ke depan untuk mengatur urusan umat dan seluruh umat manusia. Oleh karena itu, wajib bagi mereka yang tulus ikhlas di antara orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan (ahlul quwah wal man’ah) memberikan dukungan kepada Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah Rasyidah Kedua ‘ala minhājin nubuwah, yang akan membebaskan mereka dan umatnya dari hegemoni kaum kafir penjajah dan memimpin umat manusia dengan Islam yang agung.

 

Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *