PAKTA: Listrik Bermasalah, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Turun
MediaUmat – Menyikapi blackout (pemadaman listrik bergilir dalam skala luas) di Jawa dalam beberapa pekan terkahir, Ekonom PAKTA (Pusat Analisis Kebijakan Strategis) Muhammad Hatta menyatakan, bila listrik bermasalah maka pertumbuhan ekonomi yang berbasis listrik bisa menurun.
“Bayangkan kalau setiap aktivitas kita disertai semuanya dengan listrik, maka pertumbuhan ekonomi itu pasti akan melambat dan bahkan bisa turun,” tegasnya dalam FOKUS: Krisis Listrik, Ulah Oligarki Batubara? di kanal YouTube UIY Official, Ahad (28/6/2026).
Pasalnya, sebut Hatta, pertumbuhan ekonomi nasional yang telah mencapai lebih dari satu triliun dolar sangat ditopang oleh produksi barang dan jasa baru yang seluruh prosesnya bergantung pada ketersediaan listrik. Ketergantungan ini membuat setiap gangguan listrik berpotensi menghambat laju ekonomi secara signifikan.
“Secara umum tentu ini sudah menjadi bagian dari aktivitas yang tidak bisa dipisahkan lagi dalam kehidupan modern sekarang ini, dan itu berkaitan dengan dampak yang sangat luas,” tegasnya.
Maka, jelasnya, persoalan listrik tidak bisa dianggap remeh atau dipandang sebagai masalah kecil. Gangguan yang terjadi justru dapat memicu efek domino terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
“Makanya memang tidak bisa dianggap remeh, tidak bisa dianggap kecil ketika listrik ini mengalami permasalahan,” katanya.
Ironi
Ia juga menyoroti ironi yang terjadi di Indonesia, negara yang kaya sumber daya energi seperti batu bara dan panas bumi, tetapi masih menghadapi persoalan kelistrikan. Hal ini dinilai sebagai tanda adanya masalah dalam pengelolaan sumber daya energi nasional.
“Tapi anehnya ini terjadi di negeri ini di tengah batu bara yang begitu melimpah, belum lagi sumber energi lain seperti panas bumi dan seterusnya,” ujarnya.
Padahal, ketergantungan listrik nasional terhadap batu bara masih sangat tinggi. Bahkan mencapai lebih dari 60 persen. Hal ini menunjukkan bahwa batu bara menjadi tulang punggung utama dalam penyediaan energi listrik di Indonesia.
“Dalam kelistrikan kita, penggunaan batu bara itu masih sangat besar, setidaknya ada 60 persen lebih, sekitar 62 persen listrik kita energinya dihasilkan dari batu bara,” tegasnya.
Tidak hanya di sektor hulu, dominasi swasta juga terlihat di sektor hilir kelistrikan. Hatta menyebutkan, porsi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit swasta atau independent power producer (IPP) hampir menyamai setengah dari total pasokan listrik PLN.
“Setrum yang dijual oleh PLN itu sekitar 45 persen berasal dari pihak swasta, dari pembangkit listrik swasta,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi ini menunjukkan penguasaan swasta terjadi dari hulu hingga hilir. Mulai dari produksi batu bara hingga distribusi listrik. Bahkan, keterlibatan swasta juga mulai merambah sektor transmisi listrik.
“Jadi dari sisi hulunya ada swasta, dari sisi hilirnya juga swasta. Bahkan transmisinya juga sudah mulai ada pihak swasta, hampir menyeluruh ini dikuasai oleh swasta,” tegasnya.
Menurutnya, peran BUMN dalam sektor ini sangat terbatas dan jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan swasta. Hal ini memperlihatkan ketimpangan penguasaan sumber daya energi nasional.
“Kalau BUMN itu hanya sedikit, bisa dihitung dengan jari, sementara mayoritas itu dari pihak swasta,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat