MediaUmat – Simulasi pelaku aksi teror di Bandara Sentani dinilai Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan, M.Ag. berbau kebencian terhadap Islam (islamofobia).
“Ada faktor internal pelaku dan perancang program latihan tersebut. Diduga kuat adanya kesengajaan yang didasarkan kebencian dengan Islam,” ujarnya kepada media-umat.com, Selasa (30/6/2026).
Pasalnya, simulasi Airport Emergency Exercise (AEE) oleh PT Angkasa Pura Indonesia di Bandara Sentani, Kamis (25/6/2026) menggambarkan pelaku teror berpakaian khas pria Muslim dengan bersorban, bergamis, dan berjanggut lebat, menenteng senjata sedang melakukan penyanderaan penumpang.
Skenario tersebut menuai protes keras dari berbagai pihak, termasuk MUI Papua, karena dinilai menyudutkan Islam. Riyan bahkan menyebut perancang atau tokoh intelektual di balik simulasi tersebut sebagai tindakan yang “biadab” karena sengaja memanfaatkan simbol Islam demi kepentingan tertentu.
Menurut Riyan, selain faktor internal kebencian perancang, ada tiga faktor eksternal yang melanggengkan islamofobia.
Pertama, adanya bias media lewat distorsi informasi yang kerap mengaitkan terorisme hanya dengan identitas Muslim.
Kedua, terdapat trauma sejarah seperti Perang Salib atau ekspansi kekhalifahan masa lalu yang memicu kecemasan irasional bahwa Islam mengancam kelompok lain.
Ketiga, maraknya politik identitas yang sengaja menjadikan Islam sebagai kambing hitam demi memenangkan kepentingan politik atau ekonomi.
Karenanya, turut mendukung sikap tegas MUI Papua, MSPI pun mendesak pihak penyelenggara untuk segera meminta maaf secara terbuka dan mendorong pemerintah agar melakukan investigasi internal.
“Harus ada sikap tegas agar penyelenggara meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya, serta meminta pemerintah daerah dan pusat melakukan evaluasi atas program latihan tersebut,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat