Misi Artemis II Simbol Babak Baru Persaingan Global

MediaUmat Narator Khilafah News menilai roket National Aeronautics and Space Administration (NASA) melesat membawa misi Artemis II bukan sekadar perjalanan ke bulan, tapi simbol babak baru persaingan global.

“Langit malam Florida, roket NASA melesat membawa misi Artenis 2 bukan sekadar perjalanan ke bulan, tapi simbol babak baru persaingan global,” ulasnya dalam video Misi Artemis II Berhasil, Cina Akan Menyusul? di kanal YouTube Khilafah News, Sabtu (12/4/2026).

Menurutnya, Amerika Serikat melalui Artemis II ingin kembali menancapkan kehadirannya bahkan berbicara tentang basis permanen di bulan dan misi lanjutan ke Mars.

“Gambar art yang dirilis NASA mengguncang dunia menunjukkan betapa kecilnya bumi di tengah ambisi besar manusia,” bebernya.

Namun, lanjutnya, di balik pencapaian ini ada dinamika yang jauh lebih besar lagi.

“Persaingan antara Amerika Serikat dan Cina kini tidak hanya terjadi di darat atau di laut, tapi juga di orbit dan permukaan bulan,” ujarnya.

Ia menuturkan, Cina secara terbuka menargetkan pendaratan manusia di bulan dalam dekade ini, memperluas program luar angkasa dan membangun stasiun orbitnya sendiri.

Sementara AS, imbuhnya, empat astronaut mengelilingi bulan tanpa mendarat mencetak rekor jarak terjauh dalam sejarah manusia melampaui era Apollo.

“Mereka bahkan sempat hilang kontak selama 40 menit saat melintasi sisi jauh bulan wilayah yang selama ini menjadi misteri,” ucapnya.

Persaingan ini, ungkapnya, mengingatkan dunia pada era Perang Dingin. Namun dengan teknologi yang jauh lebih canggih.

Jika dulu, tegasnya, perlombaan antariksa hanya soal prestis, kini terhubung langsung dengan kekuatan militer dan ekonomi.

“Satelit menjadi tulang punggung komunikasi global, navigasi hingga sistem pertahanan, negara yang menguasai orbit, menguasai informasi, negara yang unggul dalam teknologi luar angkasa berpotensi mengendalikan masa depan,” tandasnya.

Dalam perang-perang masa depan, simpulnya, keunggulan tidak akan ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi oleh kecerdasan, teknologi, dan kemampuan untuk menggunakan metode dan alat canggih secara efektif.

“Dari Ukraina hingga Timur Tengah, teknologi menjadi penentu utama. Drone murah bisa menganjurkan aset miliaran dolar, sementara sistem siber mampu melumpuhkan infrastruktur tanpa satu peluru pun ditembakkan. Bahkan investasi pada senjata laser dan peperangan elektronik terus meningkat di negara-negara besar,” kritiknya.

Terakhir, ia menyayangkan kekuatan kaum Muslim sekarang. “Kenyataannya sangat menyakitkan bahwa di era khilafah yang dulu berdiri di garis depan kekuatan militer dan inovasi di medan perang kini sudah tidak ada lagi saat ini,” tutupnya.[] Novita Ratnasari

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: