MediaUmat – Analis Politik Forum of Contemporary Ummah Studies (FoCUS) Iwan Januar sebut dua faktor penyebab ketidaksadaran umat dengan kepalsuan para pengkhianat.
“Namun mengapa umat tidak kunjung sadar dengan kepalsuan yang dilakukan para pengkhianat tersebut? Ada dua sebabnya,” tuturnya kepada media-umat,com, Jumat (10/4/2026).
Pertama, simbol-simbol Islam yang mereka mainkan. Saudi adalah pihak yang paling diuntungkan. Adanya dua simbol kemuliaan Islam di negeri, Makkah dan Madinah, menyebabkan banyak orang – termasuk kalangan alim – yang rela menjadi _die harder_ (pendukung berat) Saudi.
“Apalagi KSA (Kingdom of Saudi Arabia) mengklaim diri mereka adalah khadimul haramayn, pelayan dua tanah suci,” tukasnya.
“Umat melihat Saudi sebagai representasi ajaran Islam dan dianggap sebagai rezim suci dan berkhidmat pada Islam. Padahal, KSA adalah negara sekuler yang hari ini makin terang-terangan mengadopsi ideologi liberalisme,” imbuhnya.
Bertahun-tahun pula, sebut Iwan, Saudi menjadi sekutu setia bangsa Barat penjajah. Dari Inggris di era awal dan sekarang beralih ke AS. Bertahun-tahun pula hanya menatap krisis di Palestina dan mengulang retorika sama. Tetapi tak ada tindakan nyata melakukan pengusiran terhadap kaum zionis, dan membela kesucian al-Aqsha. Bahkan menembak sebutir peluru pun tidak pernah dilakukan.
“Namun begitu masih saja ada sebagian orang memuja-muja KSA. Seolah-olah mengurus Masjidil Haram dan jamaah haji lebih utama dan mulia ketimbang jihad fi sabilillah membebaskan Palestina,” terangnya.
Ia pun mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah at-Taubah ayat 19, yang artinya, “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.”
Kedua, kelihaian para pengkhianat itu memainkan politik retorika dan mengkamuflase persekongkolan mereka dengan rezim Barat bahkan Zionis Yahudi.
Para penguasa itu, jelasnya, adalah politisi yang licik memainkan peran di depan umat. “Menggebu-gebu seolah membela Islam namun bergandeng tangan dengan para pembunuh umat, yakni Barat (AS dan sekutunya) juga Zionis Israel,” bebernya.
“Rezim Turki misalnya tampak di podium seperti pembela Islam. Namun sebenarnya mereka secara langsung dan tidak langsung men-support genosida di Gaza. Turki menjadi penghubung impor minyak bumi dari Azerbaijan menuju Israel melalui pipa Baku–Tbilisi–Ceyhan (BTC),” ungkapnya.
Pipa BTC, sebutnya, merupakan koridor energi utama timur‑barat yang menyalurkan minyak dari Laut Kaspia ke Mediterania. Terminal akhirnya berada di Pelabuhan Ceyhan (Turki), lokasi pengiriman minyak ke Israel. Entitas Zionis tersebut membutuhkan 30-46 persen impor minyak dari Azerbaijan.
“Sepanjang konflik Iran dengan AS, pasukan Garda Revolusi Iran mengancam Israel akan meledakkan pipa tersebut. Namun tak kunjung dilakukan,” ujarnya.
Menurutnya, minyak bumi Azerbaijan tersebut diolah salah satunya menjadi bahan bakar jet tempur Israel yang menggempur berbagai sasaran di Gaza dan Libanon. Artinya, Turki membantu negara Zionis sepanjang genosida di Gaza.
“Umat masih sering terpedaya dengan permainan simbol keislaman dan retorika politik yang dimainkan para penguasa dunia Islam. Sehingga kerap salah dalam menyikapi berbagai krisis di tubuh umat. Saatnya umat berpikir politis dan ideologis agar mendapat gambaran jernih persoalan di dunia Islam,” tandasnya.[] Ajira
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat