Inilah Penyebab Harga Plastik Naik

MediaUmat Narator Khilafah News mengungkapkan, konflik di Timur Tengah berdampak luas hingga ke sektor industri di Indonesia yaitu naiknya harga plastik.

“Konflik di Timur Tengah mempunyai dampak yang luas hingga ke sektor industri di Indonesia dengan harga plastik yang naik gila-gilaan,” ujarnya dalam Update: Plastik Kresek Naik Gila-gilaan! Pedagang Mulai Panik, Ini Penyebabnya, Jumat (10/4/2026) di kanal YouTube Khilafah News.

Menurutnya, terganggunya distribusi minyak global membuat harga minyak dunia melonjak yang kemudian merembet ke industri turunan seperti petrokimia yang sangat bergantung pada harga bahan baku minyak.

“Dalam industri petrokimia, nafta menjadi komponen penting untuk memproduksi berbagai senyawa seperti etilena, propilena, dan butadiena. Senyawa-senyawa ini merupakan bahan dasar pembuatan produk sehari-hari mulai dari plastik, karet, hingga pelarut industri,” jelasnya.

Krisis ini, lanjutnya, bukanlah hal yang mengejutkan karena gangguan terhadap rantai pasok plastik dan industri petrokimia adalah konsekuensi dari pembangunan ekonomi berorientasi bahan bakar fosil yang sudah lama diprediksi.

“Banyak para pelaku industri dan para pemimpin dunia sudah sama-sama mengetahui bahwa ketergantungan pada minyak bumi dan plastik sekali pakai sebagai turunannya adalah bom waktu yang dapat menghancurkan ekonomi banyak orang,” imbuhnya.

Narator menandaskan, risiko itu menjadi nyata ketika konflik global langsung memukul rantai pasok plastik.

“Keengganan industri dan pemerintah untuk berinvestasi pada solusi hijau memaksa konsumen terjebak dalam krisis plastik global yang terjadi saat ini,” cetusnya.

Narator menyarankan, saatnya untuk mengambil langkah nyata dengan beralih ke alternatif-alternatif terbarukan serta pelarangan dan pembatasan kemasan plastik sekali pakai yang perlu diimplementasikan secara penuh.

“Keberadaan infrastruktur sistem guna ulang domestik tidak hanya dapat menyelesaikan masalah kelebihan muatan sampah, tetapi juga dapat membuka lapangan kerja, menjaga stabilitas rantai pasok, dan membangun kemandirian dari disrupsi komoditas global,” bebernya.

Melonjaknya harga plastik dan krisis di Selat Hormuz, tegasnya, menunjukkan rapuhnya ketahanan ekonomi kapitalisme yang dipraktikkan di berbagai wilayah dunia yang masih tergantung pada bahan bakar fosil dan industri turunannya.

“Saat para elite global menciptakan perang, masyarakat sipillah yang dipaksa menanggung bebannya,” tutupnya.[] Erlina

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: