AS sedang memperketat jerat di leher kaum Muslimin Iran, dengan menggunakan cara-cara berupa sanksi, pengepungan ekonomi, dan pencegahan militer. Pada 20 Agustus 2026, Thomas “Tommy” Pigott, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, mengeluarkan pernyataan pers yang menyatakan, “Selama beberapa dekade, rezim Iran telah menggunakan Hizbullah untuk menyebarkan teror di seluruh Timur Tengah. Hari ini, Departemen Keuangan AS memperbarui penetapannya terhadap Hizbullah atas tindakannya dalam mendukung Korps Garda Revolusi Islam Iran–Pasukan Quds (IRGC-QF).”
Seperti biasa, para penguasa kaum Musliminlah yang membantu AS dalam serangannya terhadap kaum Muslimin. Pada 7 Agustus, para penguasa Pakistan, Turki, dan Hijaz menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah, yang oleh Trump dinyatakan membuatnya “sangat senang”, dan yang memanfaatkan kemampuan nuklir Pakistan sebagai pencegah terhadap Iran.
Pada 15 Agustus, komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyelesaikan perjalanan selama 10 hari ke Timur Tengah, untuk memberikan instruksi kepada pasukan Bahrain, Irak, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Pada 18 Agustus, Aliansi Pertahanan Maritim Multinasional diaktifkan dalam sebuah sidang yang dipimpin oleh Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud di Jeddah. Aliansi tersebut merupakan aliansi angkatan laut kaum Muslimin untuk memisahkan Iran dari para proksinya di Yaman.
Semua ini ditambah dengan para penguasa Irak yang menggunakan kampanye antikorupsi untuk memisahkan Iran dari para proksinya di Irak, dan para penguasa Lebanon yang memisahkan Iran dari Hizb-nya di Lebanon.
Hanya tinggal masalah waktu sebelum AS memobilisasi pasukan kaum Muslimin melawan Iran, sembari menguji reaksi opini publik dunia terhadap pengerahan senjata nuklirnya, baik nuklir taktis maupun strategis.
Apa yang menyakitkan hati dan kemudian memenuhinya dengan kemarahan karena Allah سبحانه وتعالى adalah bahwa seandainya bukan karena para penguasa kaum Muslimin, Amerika tidak akan pernah mampu menyakiti negara Muslim mana pun, apalagi menyakiti negeri-negeri Muslim satu demi satu, sementara negeri-negeri lainnya menunggu giliran mereka.
Lautan memisahkan AS dari negara-negara Muslim, dari Indonesia hingga Maroko, dan kapal-kapal perangnya bergantung pada Sea Lines of Communication (SLOCs) yang panjang dan rapuh untuk menyerang negara Muslim mana pun.
Pangkalan-pangkalan militernya, termasuk pangkalan terdepannya, yaitu entitas Yahudi, berada di dalam negeri-negeri kaum Muslimin, dan bergantung pada Ground Lines of Communication (GLOCs) yang sangat terbuka untuk memperoleh air, makanan, pakaian, tempat berlindung, keamanan, dan senjata.
Lebih dari itu, Amerika tidak berada pada puncak kekuatannya, tetapi berada dalam masa kemunduran yang nyata, di mana ia hanya dapat berjalan tertatih-tatih, bergantung pada tongkat penopang dukungan dari para agen dan pengikutnya di kalangan kaum Muslimin.
Kemunduran ekonomi Amerika terlihat jelas dalam krisis utangnya yang sangat besar, di mana bank-bank dan perusahaan-perusahaan kapitalis mengisap kehidupan rakyat Amerika biasa untuk memenuhi perut mereka dengan riba (bunga).
Kemunduran militernya terlihat dalam ketidakmampuannya memaksakan kehendaknya terhadap sebuah faksi di dalam Korps Garda Revolusi Islam Iran yang menolak tunduk kepada AS. Hal itu juga terlihat dalam ketidakmampuan pasukannya yang pengecut untuk melancarkan serangan darat guna mencapai kemenangan atas Iran.
Kemunduran politiknya terlihat dalam retakan-retakan mendalam di dalam deep state-nya sendiri, dengan kaum Demokrat mencungkil mata kaum Republik, sementara sekutu-sekutu globalnya mendidih dalam kemarahan atas kesombongan dan sikap meninggalkan mereka.
Wahai Umat Islam dan Pasukan-Pasukannya!
Apa yang memenuhi hati dengan kesedihan adalah bahwa seandainya para perwira yang tulus dari pasukan-pasukan kita memanfaatkan kesempatan tersebut, menggulingkan tongkat-tongkat penopang Amerika, dan menyatukan negeri-negeri Muslim di bawah satu Khilafah Rasyidah (Khilafah yang mendapat petunjuk), hal itu akan memaksa Amerika melarikan diri dari negeri-negeri kita, setelah pangkalan-pangkalannya diserbu dan kapalnya ditenggelamkan di lautan kaum Muslimin.
Seandainya saja faksi yang melakukan perlawanan dalam Korps Garda Revolusi Islam Iran menjawab seruan Hizbut Tahrir, dengan memberikan nushrah (dukungan militer) kepadanya untuk mendirikan Khilafah, Iran akan menjadi titik dukungan yang kuat bagi penyatuan negara-negara Muslim.
Namun, dengan tidak adanya Khilafah, dan dengan menggunakan kekuatan Umat Islam untuk melawannya, bukanlah sesuatu yang mustahil bahwa cepat atau lambat Iran akan dipaksa untuk tunduk kepada Amerika.
Kecuali Khilafah menghentikan kezaliman Amerika, Amerika akan terus memperluas agresinya melampaui Iran ke seluruh negara Muslim, dengan dibantu oleh para penguasa kaum Muslimin.
Oleh karena itu, para perwira yang tulus di dalam pasukan-pasukan Muslim yang paling kuat—yaitu pasukan Pakistan, Hijaz, Turki, dan Mesir—harus segera bertindak untuk menggulingkan para penguasa yang berkhianat dan memberikan dukungan mereka kepada Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah Rasyidah (Khilafah yang Mendapat Petunjuk) berdasarkan Metode Kenabian, yang akan mengakhiri persekutuan dengan orang-orang kafir dan menyatukan negeri-negeri Muslim.
Pasukan kaum Muslimin manakah yang akan meraih kehormatan menjadi yang pertama memberikan dukungannya untuk memberdayakan Diin yang benar?
Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir