MBOIS: Kerapuhan Internal, Akar Masalah Umat di Balik Serangan AS ke Iran

MediaUmat Terlepas dari perbedaan mazhab, serangan militer Amerika Serikat ke Iran pada Februari 2026 dinilai menegaskan bahwa masalah utama umat bukan sekadar agresi eksternal, melainkan kerapuhan internal kaum Muslim.

“Masalah terbesar umat ini bukan hanya karena agresi eksternal, tapi karena kerapuhan internal kita,” ujar Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi dalam Membongkar Isu (Mbois): Pasca Serangan ke Iran, Bagaimana Situasi dan Kepentingan Geopolitik Berikutnya? di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, dunia Islam saat ini terfragmentasi menjadi lebih dari 50 negara bangsa, dampak warisan kolonialisme Barat dan adopsi konsep nasionalisme pasca-runtuhnya Khilafah Utsmani.

Keberagaman mazhab di negeri-negeri Muslim adalah keniscayaan, bukan sumber perpecahan. Namun, masalah timbul ketika negara-negara Muslim terjebak dalam kepentingan nasionalisme sempit dan sektarianisme. Akibatnya, ketika satu wilayah diserang, negara Muslim lain sering kali hanya mampu menyatakan keprihatinan tanpa ada daya tangkal nyata.

Iran, meski berbasis Islam, dinilai tetap terjebak dalam pola negara bangsa dan sektarianisme. Iran dianggap lebih mengutamakan kemaslahatan domestik daripada persatuan global.

Sebagai solusi fundamental, umat Islam dipandang perlu kembali pada institusi khilafah. Kesatuan politik ini diyakini mampu menyatukan potensi dunia Islam untuk muncul sebagai kekuatan adidaya baru yang mampu mengimbangi dominasi AS dan melindungi kedaulatan umat secara menyeluruh.

“Di situlah letak penting kenapa umat Islam membutuhkan Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang akan menyatukan umat Islam dan menjadi negara adidaya yang seimbang dengan Amerika Serikat,” tandasnya.

Pelajaran Penting Lainnya

Selain itu, kata Farid, terdapat dua pelajaran penting lainnya dari peristiwa di Iran. Pertama, bersekutu dengan negara imperialis seperti AS adalah bunuh diri politik. Mereka hanya memanfaatkan mitra demi kepentingan sendiri dan tak segan menghancurkan sekutu demi prinsip pragmatisme.

“Ketika mereka melihat Iran tidak lagi sepenuhnya tunduk, maka mereka melakukan apa pun, termasuk tidak peduli bahwa Iran selama ini sudah banyak berkompromi dengan negara-negara Barat,” beber Farid.

Kedua, AS sangat mudah mencampakkan penguasa yang tidak lagi sejalan. Pola ini terlihat dari nasib pemimpin seperti Saddam Hussein, Muammar Khadafi, hingga Husni Mubarak, yang akhirnya disingkirkan atau dibinasakan ketika kepentingan strategis Amerika berubah.

Oleh karenanya, serangan AS ke Iran patut diduga bertujuan untuk mengubah rezim agar patuh dan menjadikan Iran sebagai negara boneka. “Itu tampak dari bagaimana Iran mulai menjalin hubungan yang erat dengan Cina. Inilah yang tidak diinginkan oleh Amerika,” kata Farid.

Di saat yang sama, Farid juga melihat peradaban Barat kini berada di ambang keruntuhan karena melanggar prinsip-prinsip yang mereka buat sendiri, seperti HAM, demokrasi, dan hukum internasional.

Hal ini membuktikan bahwa sistem internasional saat ini timpang. Umat perlu sadar bahwa kompromi tidak menjamin keamanan. “Selama kedaulatan suatu negeri tidak benar-benar independen, maka tekanan akan selalu datang kapan saja,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: