Manuver Taiwan: Mengungkap Kelemahan AS

 Manuver Taiwan: Mengungkap Kelemahan AS

Manuver Trump terkait Taiwan sudah menjadi hadiah bagi China, Trump’s Taiwan Gambit is Already a Gift to China (The New York Times, 18 Mei 2026).

**** **** ****

Pernyataan Trump baru-baru ini mengenai penjualan senjata AS ke Taiwan telah meningkatkan ketegangan geopolitik di Asia Timur dan sekaligus mengungkap semakin rapuhnya pengaruh global AS. Setelah pertemuan puncak di Beijing dengan Xi Jinping, Trump mengumumkan penundaan kesepakatan senjata senilai 14 miliar dolar yang diusulkan dengan Taiwan, yang menggambarkannya sebagai “alat tawar-menawar yang berharga” dalam pembicaraan yang lebih luas dengan China. Pernyataan ini segera memicu spekulasi bahwa Washington sekarang tidak lagi memandang Taiwan sebagai komitmen strategis, melainkan sebagai alat tawar-menawar dalam kesepakatan geopolitik yang lebih luas yang mencakup perdagangan dan keamanan regional.

China dengan cepat memanfaatkan pernyataan ini, di mana media pemerintahnya menggambarkan pernyataan Trump sebagai bukti bahwa dukungan AS untuk Taiwan bersifat kondisional, dan pada akhirnya didasarkan pada kepentingan timbal balik. Para pejabat dan komentator berpendapat bahwa kepemimpinan Taiwan, khususnya Presiden Lai Ching-te dan Partai Progresif Demokrat, tidak lagi dapat mengandalkan dukungan otomatis dari AS. Pesan-pesan China menekankan bahwa keamanan Taiwan tidak dapat dijamin hanya melalui pembelian alutsista dari Washington, dan menggambarkan pulau itu rentan menjadi alat tawar-menawar antara negara-negara adidaya yang bersaing. Dengan mengalihkan perhatian publik ke Taiwan selama KTT tersebut, Beijing berhasil mengalihkan wacana diplomatik dari upaya AS untuk menekannya terkait Iran.

Dilaporkan bahwa AS berharap China akan menggunakan pengaruhnya untuk menekan Iran agar tetap membuka jalur pelayaran dan mengurangi ketegangan di Teluk, tetapi China menolak. Meskipun China mendorong negosiasi antara Iran dan AS, namun China menegaskan bahwa China akan terus membeli minyak dari Iran dan tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk mengisolasi Iran secara ekonomi. Akibatnya, KTT tersebut hanya menghasilkan sedikit kemajuan nyata terkait Iran, hal ini menyoroti terbatasnya pengaruh yang dimiliki Washington saat ini terhadap Beijing.

Washington memasuki KTT tersebut dengan tujuan untuk bekerja sama dengan China terkait Iran, tetapi malah mendapati dirinya membela komitmennya di Pasifik sambil melunakkan pendiriannya terhadap Taiwan. Signifikansi KTT ini melampaui Taiwan dan Iran, mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam keseimbangan kekuatan internasional, dengan China yang memperkuat posisinya di jantung diplomasi global, sementara kepercayaan terhadap jaminan keamanan AS terus terkikis. Dunia mulai mempertanyakan keandalan aliansi AS, karena AS tampaknya lebih bersedia untuk menegosiasikan kembali komitmen jangka panjangnya ketika kepentingan strategis bergeser. Sementara itu, koordinasi antara China dan Rusia semakin mendalam, dengan kedua kekuatan tersebut memanfaatkan penurunan pengaruh AS. Mengingat perkembangan ini, KTT tersebut pada akhirnya mungkin akan dikenang bukan karena hasil langsungnya, tetapi sebagai tanda lain dari munculnya tatanan dunia baru—di mana Beijing, bukan Washington, yang mendominasi politik internasional dan kekuatan ekonomi.

Kesimpulannya, situasi ini menyoroti bagaimana konflik yang muncul di negeri-negeri Islam terintegrasi ke dalam persaingan yang lebih luas di antara kekuatan-kekuatan besar. Sementara China dapat mengubah ketidakstabilan di negeri-negeri Islam menjadi keuntungan strategis, sementara negeri-negeri ini tetap rentan terhadap musuh mereka, terpecah-pecah dalam tanggapannya, dan inilah yang membatasi pengaruh kolektifnya untuk membentuk hasil yang sejalan dengan tujuan politik bersama. Semua ini berakar dari ketiadaan Khilafah kaum Muslim, yang menghalangi munculnya kekuatan bersatu yang mampu secara nyata mengubah dinamika politik internasional sesuai dengan tujuan fundamental dan aspirasi global kaum Muslim. [] Haitsam bin Tsabit – Amerika

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 25/5/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *