Mafhum al-Hasanah dan as-Sayyi`ah di dalam QS an-Nisa` [4]: 78 dan 79

Soal :

Bismillâh ar-rahmân ar-rahîm

Segala puji hanya milik Allah. Dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya. Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullâh wa barakâtuhu. Semoga Allah melindungi dan menjaga Anda ya Syaikh kami yang terhormat, dan menambah karunia-Nya kepada Anda serta memberi taufik Anda kepada apa yang Dia cintai dan ridhai. Kami memohon kepada Allah, Yang Maha Tinggi, agar mempercepat pertolongan dan peneguhan kekuasaan untuk kita, dan agar mewujudkannya melalui kedua tangan Anda dalam waktu dekat… Dialah Pelindung dan Maha Kuasa atas hal itu …

Allah Yang Maha Tinggi berfirman di dalam Kitab Suci-Nya, di dalam ayat 78 dan 79 Surah an-Nisa`:

﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِ اللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا (٧٨) مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا﴾

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (78) Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi” (TQS an-Nisa` [4]: 78-79).

Bagaimana kita dapat mempertemukan antara keberadaan kebaikan (al-hasanah) dan keburukan (as-sayyi`ah) berasal dari Allah, sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat pertama, dengan keberadaan kebaikan –al-hasanah– (saja) berasal dari Allah, sedangkan keburukan (as-sayyi`ah) berasal dari diri sendiri, sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat kedua, padahal ayat pertama di dalamnya ada teguran untuk orang-orang yang mengatakan tentang keburukan, “Ini berasal dari kamu”, di akhir ayat.

﴿فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثاً

Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

Saya berharap dari Anda penjelasan yang jelas, karena setelah meninjau beberapa potongan video dari beberapa syaikh kontemporer, saya tidak menemukan apa yang saya cari. Dan ucapan mereka sebagian besar bersifat umum dan tidak ada rincian di dalamnya. Dan semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik kepada Anda.

 [Mahmud Sanqarth]

Jawab:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.

Pertama: hai Saudaraku, topik pertanyaan Anda adalah firman Allah Yang Maha Tinggi di dalam dua ayat mulia:

Ayat pertama:

﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِ اللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا﴾

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (TQS an-Nisa` [4]: 78).

Ayat kedua:

﴿مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا﴾

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi” (TQS an-Nisa` [4]: 78-79).

 

Ayat pertama diturunkan mengenai orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik. Hal itu karena ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, mereka berkata: “Kami terus mengalami penurunan hasil panen pertanian dan buah kami sejak orang ini dan para sahabatnya datang kepada kami”. Mereka menisbatkan penurunan hasil panen dan kegersangan itu, dan mereka menyebutnya sebagai “as-sayyi`ah (keburukan)”, kepada Rasulullah saw… Tetapi jika ada kesuburan pada tanaman pertanian dan buah-buahan (yang mereka sebut “al-hasanah -kebaikan-“) mereka mensibatkannya kepada Allah dan mereka katakan, “Ini adalah dari sisi Allah Maka diturunkanlah ayat mulia tersebut yang menyatakan bahwa semua kesuburan pada tanaman pertanian dan buah-buahan, atau semua kegerangan dan penurunan hasil panen yang menimpa tanaman pertanian dan buah-buahan, semuanya berasal dari Allah… Kemudian Allah menjelaskan ketidaktahuan (kebodohan) mereka. Allah SWT berfirman:

﴿فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثاً

Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (TQS an-Nisa` [4]: 78)

 

Adapun ayat kedua berkaitan dengan perbuatan manusia.. Jika seseorang dari mereka melakukan kebaikan dan mendapati kebaikan, keberkahan, dan taufik (al-hasanah), maka hendaklah ia memuji Allah, karena hal itu berasal dari karunia dan kemurahan Allah… Jika ia melakukan keburukan dan mendapati bahaya/kerugian (adzan) atau ditimpa musibah (as-sayyi`ah -keburukan-), maka hendaklah ia menyadari bahwa ini disebabkan oleh perbuatan buruknya, sebagaimana firman Allah SWT di dalam ayat lain:

﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (TQS asy-Syura [42]: 30).

Dan di dalam ini terdapat hikmah di dalamnya. Karena Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, telah menjelaskan masalah tersebut di dalam ayat kedua supaya mengusir bisikan setan dari hati orang-orang mukmin. Ayat pertama memberi pengertian bahwa (kelimpahan dan kemakmuran, serta kegersangan dan ketidaksuburan) berasal dari Allah SWT. Oleh karena itu, setan kadang kala membisikkan ke dalam hati manusia bahwa “kalian tidak punya pilihan dalam perbuatan kalian, perbuatan baik atau buruk, tetapi kalian terpaksa melakukannya, karena perbuatan baik dan buruk kalian semuanya berasal dari Allah SWT sehingga kalian tidak akan dimintai pertanggungjawaban karenanya”.  Maka Allah menurunkan ayat yang kedua untuk menjelaskan bahwa perbuatan manusia yang dilakukannya atas pilihannya sendiri, dia bertanggungjawab atasnya. Jika ia melakukan perbuatan baik dan menerima kebaikan di dunia atau di akhirat, maka itu merupakan karunia dan kemurahan dari Allah SWT. Jika ia melakukan perbuatan buruk dan ditimpa musibah akibat hal itu atau dijatuhi hukuman di dunia atau di akhirat, maka itu disebabkan keburukan yang dilakukannya.

Begitulah, maka perkara-perkara tersebut menjadi lurus. Karena kesuburan dan kegersangan yakni rezeki, semuanya berasal dari Allah SWT, jika sedikit atau banyak, kesuburan maupun kegersangan.. Dan bahwa apa yang menimpa manusia merupakan akibat perbuatannya yang dia lakukan atas pilihannya: Jika apa yang menimpanya merupakan kebaikan, ia diberi balasan di dunia atau di akhirat, maka itu merupakan karunia, kemurahan, dan rahmat dari Allah (yaitu, berasal dari Allah). Dan jika apa yang menimpanya merupakan keburukan seperti hukuman di dunia atau di akhirat, maka itu disebabkan keburukan yang dilakukannya (yaitu, bersal dari dirinya sendiri).

Kedua: Untuk penjelasan lebih banyak, saya kutipkan di bawah ini apa yang dikatakan seputar dua ayat mulia tersebut dalam beberapa kitab tafsir:

  1. Dinyatakan di dalam Tafsîr Ibni Katsîr:

[Kemudian Allah SWT berfirman: ﴿مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ﴾ –Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah- yakni berasal dari karunia, kelembutan, kebaikan, dan rahmat Allah. ﴿وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ﴾ – dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri- yakni: dari kamu sendiri dan dari perbuatanmu sendiri, sebagaimana firman Allah SWT:

﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ﴾ [الشورى: 30]

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (TQS asy-Syura [42]: 30).

As-Sudi, al-Hasan al-Basri, Ibnu Juraij, dan Ibnu Zaid berkata: ﴿فَمِنْ نَفْسِكَ﴾ yakni karena dosamu.

Qatadah berkata: ﴿مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ﴾ – Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri– sebagai hukuman, wahai anak Adam, karena dosa-dosamu. Ia berkata: “Dan disebutkan kepada kami bahwa Nabi Allah saw.  bersabda:

لَا يُصِيْبُ رَجُلًا خَدْشُ عُوْدٍ، وَلَا عَثْرَةُ قَدَمٍ، وَلَا اِخْتِلَاجُ عِرْقٍ، إِلَّا بِذَنْبٍ، وَمَا يَعْفُوْ اللهُ أَكْثَرٌ

“Tidak lah menimpa seorang laki-laki luka akibat tertusuk kayu, tersandungnya kaki, atau berdenyutnya pembuluh darah, kecuali karena dosa, dan apa yang Allah maafkan jauh lebih banyak”.

Ini yang dimursalkan oleh Qatadah. Dan telah diriwayatkan dengan sanad yang bersambung di dalam ash-Shahîh:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ هَمٌّ وَلَا حَزَنٌ، ولا نَصَبٌ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada kekhawatiran, kesedihan, atau kesulitan yang menimpa seorang mukmin, bahkan duri yang menusuknya sekalipun, kecuali karenanya Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya”.]

 

  1. Disebutkan di dalam Tafsîr al-Qurthubî (Surat an-Nisa` [4]: Ayat 78).

[Firman Allah SWT:

﴿أَيْنَما تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمالِ هؤُلاءِ الْقَوْمِ لَا يَكادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثاً

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (TQS an-Nisa` [4]: 78).

Firman-Nya SWT: ﴿وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ﴾ –dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”- yakni jika orang-orang munafik mengalami kelimpahan, mereka berkata, “Ini adalah dari sisi Allah”. ﴿وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ﴾  – dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana- yakni kegersangan dan ketidaksuburan, mereka berkata, “Ini berasal dari kamu,” yakni, “Hal itu menimpa kami karena pertanda burukmu dan pertanda buruk teman-temanmu…”.

Dan ayat tersebut diturunkan mengenai orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik. Hal itu karena ketika Rasulullah saw. datang ke al-Madinah, mereka berkata: “Kami terus mengalami penurunan hasil panen pertanian dan buah-buahan kami sejak orang ini dan para sahabatnya datang kepada kami”. Ibnu Abbas berkata: “Makna ﴿مِنْ عِنْدِكَ﴾ –berasal dari kamu- yakni karena buruknya pengaturanmu. Dan dikatakan ﴿مِنْ عِنْدِكَ﴾ –berasal dari kamu- yakni karena pertanda burukmu, sebagaimana telah kami sebutkan, yaitu karena pertanda buruk kalian yang menimpa kami. Mereka mengatakan itu sebagai ungkapan tathayyur. Allah SWT berfirman: ﴿قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ﴾ – Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”-, yakni kesulitan dan kemudahan, kemenangan dan kekalahan berasal dari Allah, yaitu karena ketetapan (qadha`) dan ketentuan (qadar) Allah. ﴿فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ﴾ – Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik)– yakni orang-orang munafik ﴿لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثاً -hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?-, yakni apa masalahnya dengan mereka sehingga mereka tidak memahami bahwa semuanya berasal dari Allah?..]

Saya harap di dalam jawaban ini ada kecukupan, wallâh a’lam wa ahkam.

 

Saudaramu, Atha` bin Khalil Abu ar-Rasytah

 

04 Shafar al-Khair 1448 H

18 Juli 2026 M

 

https://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/110541.html

 

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: