Kunjungan Trump ke China dan Frustrasi AS terhadap Iran

Setelah KTT dua hari di Beijing, Presiden AS Trump meninggalkan China, namun ada menarik bahwa Washington dan Beijing memberikan penjelasan yang sangat berbeda tentang apa yang telah disepakati. AS menyoroti apa yang dianggapnya sebagai kemajuan dalam kesepakatan perdagangan baru dan peningkatan kerja sama ekonomi. China, di sisi lain, berfokus pada peringatan agar tidak melanggar garis merah terkait masalah Taiwan dan menyatakan penentangannya yang kuat terhadap perang AS-Israel terhadap Iran, menegaskan bahwa perang semacam itu seharusnya tidak pernah dimulai.

Meskipun kedua pihak merilis pernyataan resmi tentang pembicaraan Trump-Xi Jinping, akan tetapi hanya ada sedikit kesamaan di antara pernyataan mereka. Pernyataan Gedung Putih membahas isu-isu yang tidak disebutkan oleh China, sementara Kementerian Luar Negeri China berfokus pada hal-hal yang tidak ada dalam pernyataan Amerika. Perbedaan pesan ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas dalam hubungan tersebut, karena masing-masing pihak berupaya membentuk hasil KTT untuk melayani prioritas strategisnya sendiri (aljazeera.com, 15/5/2026).

Presiden AS Trump menghadapi kemunduran diplomatik besar dalam upayanya untuk memaksa Iran mengubah sikap dan tindakannya, hal ini menunjukkan keterbatasan tekanan unilateral dan kesalahan perhitungan strategisnya. Setelah berbulan-bulan konflik dan gencatan senjata, Iran terus mengendalikan Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak global yang vital, bahkan ketika Washington memberlakukan blokade angkatan laut dan menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz. Seruan Trump kepada sekutu-sekutu Eropanya dan NATO untuk bergabung dalam upaya militer untuk membuka kembali Selat Hormuz juga telah gagal, sehingga hal ini telah melemahkan pengaruh Amerika dan menciptakan perpecahan diplomatik di dalam aliansi mereka.

Kunjungan Trump ke China tampaknya sebagian didorong oleh harapan bahwa hal itu akan membantunya menekan Iran, tetapi meskipun ia dan presiden China sepakat bahwa Selat Taiwan harus tetap terbuka, tidak ada indikasi bahwa China akan bertindak langsung untuk memengaruhi Iran, bahkan pernyataan resmi China terus menggambarkan konflik Iran sebagai dialog yang tidak adil dan menegangkan, bukan memberikan tekanan.

Sementara itu, keterlibatan antara Amerika Serikat dan China terus menghasilkan banyak kerja sama ekonomi, dengan kesepakatan untuk meningkatkan hubungan perdagangan termasuk pembelian ratusan pesawat Boeing oleh China dan perluasan ekspor pertanian Amerika, semua ini menunjukkan langkah-langkah yang menegaskan bahwa saling ketergantungan ekonomi tetap ada meskipun terjadi ketegangan geopolitik.

Kesulitan yang dihadapi Trump dalam menekan Iran—yang diperparah oleh perpecahan di antara sekutu Amerika dan kurangnya dukungan yang tegas bahkan dari China—menyoroti keterbatasan strategi koersif unilateral, terutama ketika dilakukan tanpa koalisi yang luas. Ini seharusnya menjadi pelajaran strategis bagi kaum Muslim: jika Amerika, meskipun memiliki pengaruh militer dan politik yang sangat besar, harus menelan kesulitan untuk memaksakan kehendaknya pada satu kekuatan regional seperti Iran, maka front persatuan di antara negeri-negeri Islam akan benar-benar menjadi kekuatan yang jauh lebih besar di panggung dunia. [] Abdullah Aswar

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 19/5/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: