Kunjungan Netanyahu ke AS: Alasan dan Hasilnya

Perdana Menteri entitas Yahudi, Netanyahu, mengunjungi Amerika Serikat pada 27 Juli 2026 untuk menghadiri pemakaman Senator AS Lindsey Graham, seorang pendukung setia entitas Yahudi dan kejahatan-kejahatannya. Keesokan harinya, ia bertemu dengan Presiden Trump, pertemuan kedelapan mereka sejak Trump menjabat sebagai Presiden AS pada awal 2025, yang mencerminkan hubungan erat nan jahat yang mengikat keduanya.

Netanyahu mendapatkan dukungan dari Trump dan Partai Republik, saingan Partai Demokrat, meskipun kedua partai tersebut berlomba-lomba memberikan dukungan tanpa batas kepada entitas Yahudi itu. Hal ini dikarenakan entitas tersebut berfungsi sebagai pangkalan terdepan Amerika Serikat di jantung negeri-negeri Islam sekaligus sebagai “anjing gila”  yang menjaga kepentingan Amerika di kawasan.

Bahkan, mantan Presiden dari Partai Demokrat, Biden, mengunjungi entitas Yahudi pada 18 Oktober 2023 untuk mendukung agresinya terhadap Gaza, seraya menyatakan, “Jika (Israel) tidak ada, kita harus menciptakannya.”

Para pemimpin entitas Yahudi sangat memahami tujuan AS; namun mereka berupaya memanfaatkan dukungan AS untuk memperkuat dan memperluas entitas mereka, dengan tujuan mendominasi kawasan, mewujudkan “Israel Raya”, serta mencegah tegaknya kembali Khilafah, yang keberadaannya akan menandai akhir dari entitas mereka. Tujuan akhir mereka pada akhirnya adalah untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada dukungan AS dan mencapai kemerdekaan penuh mereka. Hal itu telah disampaikan oleh Netanyahu dalam berbagai pernyataan di berbagai kesempatan.

Netanyahu berupaya memanfaatkan kepercayaan Trump serta hubungan pribadi mereka, dengan tujuan menampilkan citra seolah-olah ia turut campur dalam kebijakan AS atau memengaruhi sang Presiden. Namun, Trump pernah menegurnya terkait sikapnya yang menentang Turki dan Presidennya, Erdogan, dalam masalah Suriah; Trump berkata kepadanya,” Saya mencintai Erdogan dan dia mencintai saya, dan dia telah melakukan untuk kami di Suriah apa yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.” Trump kembali menegur Netanyahu ketika ia meminta agar jet tempur F-35 tidak dijual ke Turki, dengan mengatakan, “Tidak seorang pun akan mendikte saya apa yang harus saya jual atau kepada siapa.” Trump juga secara terbuka menegur Netanyahu dalam konferensi pers bersama Emir Qatar di Prancis pada 16 Juni 2026, dengan mengatakan, “Trump mengatakan kepada (Israel) bahwa ia tidak menyetujui serangan (Israel) terhadap Beirut, dan Netanyahu sekarang harus lebih bertanggung jawab terhadap Lebanon. Tanpa Amerika Serikat, (Israel) tidak akan ada, dan tanpa saya, (Israel) juga tidak akan ada.” Situs web Amerika Axios mengutip dua sumber Amerika pada 1 Juni 2026 yang mengatakan bahwa Trump berkata kepada Netanyahu: “Sayalah yang menyelamatkanmu. Jika bukan karena saya, kamu akan berada di penjara. Kamu gila, semua orang membencimu sekarang, dan juga membenci (Israel) karena itu.”

Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa Trump sangat marah kepada Netanyahu, karena ia tidak bisa mentoleransi siapa pun yang mencuri perhatian darinya atau berani membantahnya. Trump selalu menempatkan dirinya di atas orang lain, ia yang mendiktekan ketentuan bukan yang menerimanya, dan ia siap menghancurkan siapa saja yang menentangnya, bahkan orang-orang terdekatnya sekalipun.

Sumber-sumber dari kalangan Yahudi dan Amerika melaporkan bahwa Netanyahu telah berulang kali berupaya mengadakan pertemuan dengan Trump selama dua bulan, namun Trump terus menolak hingga akhirnya kesempatan itu muncul setelah meninggalnya Graham, sosok pendukung tindakan kriminal entitas Yahudi.

Pada 31 Juli 2026, surat kabar Ibrani Maariv melaporkan bahwa kunjungan Netanyahu ke Amerika Serikat tidak diwarnai dengan sambutan hangat seperti biasanya; tidak ada yang menyambutnya di bandara, tidak ada karpet merah yang dibentangkan, serta tidak ada kamera, jurnalis, konferensi pers, maupun sesi pemotretan. Ia memasuki Gedung Putih layaknya pencuri di malam hari dan keluar melalui pintu belakang. Tidak ada pertemuan pribadi; sebaliknya, pejabat lain, termasuk mereka yang mengkritik Netanyahu, turut hadir. Ia mengalami penghinaan di Washington yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan di masa-masa tersulitnya saat pemerintahan Obama berkuasa. Koordinasi antara kedua belah pihak telah merosot di tengah perselisihan terkait Gaza, Lebanon, dan Iran. Trump memiliki kesempatan untuk menggambarkan Netanyahu sebagai sosok yang lemah, dan ia tidak melewatkan satu pun kesempatan tersebut.

Semua ini cukup untuk mengukur betapa hinanya sosok Netanyahu, dan betapa rendahnya status entitasnya di mata Amerika Serikat, serta betapa tidak berartinya pengaruh yang mereka miliki terhadap para penguasa negara tersebut. Amerika hanya memedulikan kepentingan dan hegemoninya sendiri; baik Yahudi maupun non-Yahudi tidak memiliki pengaruh kecuali jika hal itu sejalan dengan tujuan-tujuan kolonialisnya. Negara ini tidak dikendalikan oleh kaum Yahudi ataupun pihak lain, melainkan oleh para kapitalis yang menempatkan sosok boneka sebagai presiden dengan melibatkan publik dalam pemilihannya demi menciptakan ilusi adanya mandat rakyat, sehingga mereka dapat menyembunyikan para penguasa sesungguhnya di Amerika Serikat dan memperdaya masyarakat agar percaya bahwa negara tersebut adalah negara yang bebas dan demokratis.

Meskipun kaum Muslim yang berpikiran sederhana teperdaya untuk meyakini bahwa kaum Yahudi mendominasi pengambilan keputusan di Amerika Serikat, Trump justru menyingkap kenyataan yang sebenarnya: kaum Yahudi tidaklah berarti dan hanya berfungsi sebagai alat bagi kebijakan kolonialistik Amerika yang kejam dan bengis. Perlu dicatat bahwa sebelum menerapkan kebijakan ini di negeri-negeri Muslim, Amerika Serikat telah lebih dulu menerapkannya terhadap penduduk pribuminya sendiri dengan membunuh jutaan orang dan merampas tanah mereka, serta terhadap bangsa-bangsa di Amerika Selatan, dengan Venezuela dan Panama sebagai contoh utamanya, melalui pendudukan atas 55% wilayah Meksiko. Amerika Serikat juga menggunakan taktik serupa di Korea dan Vietnam, semuanya merupakan peristiwa di mana tidak ada pembicaraan mengenai kaum Yahudi ataupun pengaruh mereka.

Meskipun Netanyahu pergi ke AS sembari menyerukan perang melawan Iran, dan secara terbuka menentang kesepakatan apa pun, mengupayakan pergantian rezim, serta menginginkan pemerintahan pengganti yang tidak menimbulkan ancaman, tidak memiliki keunggulan militer, dan bersedia menormalisasi hubungan, bahkan ia secara aktif mendorong dan menjalin komunikasi dengan pihak oposisi, mengundang putra Shah untuk berkunjung pada tahun 2023 guna berkoordinasi dengan pejabat keamanan dalam melawan rezim Iran, dengan tujuan mendudukkannya di tampuk kekuasaan dan memulihkan hubungan seperti pada masa pemerintahan ayahnya, namun Netanyahu tetaplah sosok yang tidak terlalu berpengaruh.

Tampaknya Netanyahu kali ini pergi dengan tujuan lain, yaitu mencoba memperbaiki hubungan dengan Trump dan mendapatkan dukungannya kembali, karena ia akan maju dalam pemilihan Knesset Oktober mendatang, dan posisinya di dalam negeri telah melemah setelah Trump menegurnya dan tidak menunjukkan dukungan seperti sebelumnya. Namun, citra sebenarnya yang buruk dari entitas Yahudi telah terungkap kepada banyak orang Amerika karena pembantaian brutal yang dilakukannya di Gaza, kebijakan kelaparan, dan pembunuhan anak-anak, perempuan, orang sakit, dan tahanan. Mereka bahkan mengklaim bahwa perang melawan Iran bukanlah perang Amerika Serikat, melainkan perang entitas Yahudi, dan Netanyahu adalah orang yang mendorong Trump untuk terlibat di dalamnya. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan pada hari kunjungan terakhirnya ke Amerika menunjukkan bahwa 49% warga Amerika, termasuk 23% pemilih Trump dan 74% Demokrat, mendukung penangkapan dan pengadilannya, serta menuduh entitas Yahudi melakukan genosida di Gaza. Ini adalah persentase yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Amerika Serikat.

Pada 29 Juli 2026, juru bicara Hak Asasi Manusia PBB menyerukan kepada negara-negara untuk mengambil tindakan guna melindungi rakyat Palestina di Tepi Barat. Sebelumnya, ia telah menyerukan aksi militer terhadap entitas Yahudi, dengan menyatakan bahwa Piagam PBB memberi mereka hak ini untuk menghentikan genosida di Gaza. Namun, para penguasa Muslim tidak memiliki rasa kehormatan; mereka telah melawan mereka yang menyerukan aksi militer dan terus melanjutkan hubungan mereka dengan entitas Yahudi. Mereka tidak berbeda dengan Netanyahu dan terlibat dalam kejahatannya.

Netanyahu dan entitasnya tidak akan mampu melakukan apa yang mereka lakukan jika negara-negara di kawasan itu mengambil tindakan militer. Para penguasa mereka adalah yang terburuk dari yang terburuk dan telah menyimpang jauh dari jalan yang benar. Sehingga tidak ada keselamatan kecuali dengan menyingkirkan mereka dan rezimnya, lalu mendatangkan pemimpin yang baik dan berdedikasi untuk menerapkan hukum Allah di terhadap orang-orang Yahudi. [] Ustadz As’ad Manshur

Sumber: alraiah.net, 5/8/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: