Kritik Tajam Pimpinan Gontor di Depan Prabowo Tegaskan Pentingnya Peran Ulama

MediaUmat – Pernyataan menohok pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, di hadapan Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi pengingat pentingnya posisi serta peran ulama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Apa yang disampaikan oleh KH Hasan Abdullah Sahal hafizhahullah kemarin menunjukkan pentingnya peran ulama,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie, Farid Wadjdi, dalam program Sorotan Dunia Islam, Rabu pagi (23/9/2026) di Radio Dakta 107.0 FM Bekasi.

Pernyataan tersebut merespons pidato lugas Kiai Sahal dalam peringatan 100 tahun Gontor di Ponorogo, Sabtu pekan lalu. Di depan Presiden Prabowo Subianto, Kiai Sahal menyinggung jalur pendidikan Gontor, kesederhanaan pemimpin, hingga fenomena orang yang gemar “cari muka”.

Lebih lanjut Farid menekankan empat poin utama pidato tersebut: ulama di garda terdepan mendidik umat, kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar kepada umara, sindiran atas gaya hidup mewah elite politik, serta peringatan agar ulama tidak mendekati penguasa demi keuntungan pribadi.

“Ketika penguasa melakukan kesalahan, tugas pokok ulama adalah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Inilah karakter warisan para nabi, yaitu meluruskan penguasa jika salah,” tegas Farid.

Ia juga menyoroti fenomena oknum ulama. “Ini sindiran tajam kepada ulama yang mendekati penguasa bukan untuk menasihati, tetapi demi mendapatkan proyek dan keuntungan pribadi,” tambahnya.

Dua Tugas Utama Penguasa

Sebagai bahan evaluasi bagi Presiden Prabowo Subianto beserta Kabinet Merah Putih, Farid mengorelasikan pidato tersebut dengan krisis multidimensi saat ini yang terjadi akibat tidak ditegakkannya syariat Islam.

Ia lantas mengutip kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyyah karya Imam al-Mawardi mengenai dua tugas utama penguasa, yakni menjaga agama dan mengurus rakyat.

Menjaga agama berarti memastikan syariat ditegakkan dan kemungkaran dihentikan. Sedangkan mengurus rakyat mewajibkan penguasa menjamin kebutuhan dasar setiap individu, mulai dari sandang, pangan, dan papan, hingga keterjaminan akses pendidikan serta kesehatan yang terjangkau bahkan gratis.

Menurut Farid, karena Islam menetapkan bahwa agama adalah nasihat, siapa pun pemimpin berakidah Islam sepatutnya bergembira dan bersikap sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat) ketika menerima kritik jujur dari ulama agar selamat dalam menjalankan kekuasaannya.

“Imam itu adalah sebagai penggembala, dan dia akan dituntut tentang tanggung jawabnya ketika mengurus rakyatnya,” pungkasnya, mengutip hadits Rasulullah SAW.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: