Kiai Labib: Jangan Berharap Kebatilan Kalah jika Kebenaran Tak Disebarkan

MediaUmat – Ulama Kiai Rokhmat S. Labib menegaskan, kebatilan dan kesalahan akan terus tersebar jika tidak ada yang membantah dan menjelaskannya.

“Kebatilan, kesalahan, itu bisa tersebar karena tidak ada yang meng-counter-nya. Tidak ada yang menjelaskannya. Istilahnya kegelapan akan tetap gelap kalau tidak ada terang yang menyingkapnya,” tuturnya dalam Islam dan Kehidupan: Islam Agama Sempurna, Tak Perlu Memilih Ideologi Lain di kanal YouTube Rokhmat S. Labib, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, untuk menyikapi sosialisme dan komunisme, umat Islam perlu memahami akidah yang mendasarinya serta sistem ekonomi dan pemerintahan yang ditawarkannya.

“Kalau kita lihat, ada dua aspek yang harus disorot, ya. Akidahnya, sistem yang lahir dari akidah itu. Dalam ini adalah sistem ekonomi dan sistem pemerintahannya,” jelasnya.

Kiai Labib menjelaskan, sosialisme-komunisme berlandaskan materialisme yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. Pandangan ini bertentangan dengan akidah Islam yang meyakini Allah sebagai Pencipta alam semesta.

“Sosialisme-komunisme itu adalah akidah materialisme, tidak mengakui adanya Tuhan. Karena menurut mereka, materi itu sesuatu yang abadi, yang tidak bisa diciptakan, tidak bisa dimusnahkan, hanya bisa berubah dari satu kondisi kepada kondisi yang lain,” ungkapnya.

Ia mempertanyakan pandangan materialisme tersebut dengan menunjuk keteraturan alam semesta yang, menurutnya, menunjukkan adanya Zat yang mengaturnya.

“Apalagi kalau kita lihat alam semesta yang ada begitu teraturnya ini. Mana mungkin ini tidak ada yang mengaturnya?” ujarnya.

Selain itu, ia mempertanyakan alasan manusia berbuat baik apabila kehidupan hanya dianggap berlangsung di dunia, tanpa adanya kehidupan akhirat dan balasan atas perbuatannya.

“Kalau orang menganggap bahwa hidup itu satu-satunya kehidupan, tidak ada akhirat, tidak ada balasan terhadap perbuatan yang dikerjakan, untuk apa orang melakukan kebaikan?” katanya.

Kelemahan Sosialisme sebagai Solusi Ketimpangan Kapitalisme

Kiai Labib menerangkan, sosialisme muncul sebagai respons terhadap ketimpangan kapitalisme, ketika kekayaan terkonsentrasi pada pemilik modal dan jurang kemiskinan melebar. Sosialisme menawarkan kepemilikan kolektif dan pengaturan kekayaan oleh negara sebagai jalan keluar.

“Semangat dari sosialisme itu awalnya adalah melawan kapitalisme. Ketika kekayaan itu terkonsentrasi kepada kaum kapital, pemilik modal, dan akhirnya terjadi jurang kemiskinan yang sangat luas, sangat lebar, maka mereka kemudian menganggap bahwa ini harus diselesaikan,” paparnya.

Ia menjelaskan, sosialisme menawarkan kepemilikan bersama dan pengaturan oleh negara untuk mencegah penumpukan kekayaan pada sebagian orang. Namun, menurutnya, pendekatan tersebut dapat menimbulkan persoalan baru.

“Cara menyelesaikannya adalah dengan tidak membiarkan kekayaan itu terkonsentrasi kepada sebagian orang. Harus dimiliki secara komunal, secara bersama-sama. Dengan apa? Negara yang mengatur,” jelasnya.

“Ini mungkin akan memberikan solusi bagi kapitalisme, tetapi akan menciptakan masalah baru,” tegasnya.

Menurut Kiai Labib, pemerataan yang ditawarkan sosialisme tidak otomatis menghasilkan kemakmuran. Ia menilai, jika sistem tersebut menghilangkan dorongan manusia untuk bekerja dan menghambat pertumbuhan, yang terjadi justru pemerataan kemiskinan.

“Mungkin akan terjadi pemerataan, tetapi bukan terjadi pemerataan kekayaan, tetapi pemerataan kemiskinan. Pertumbuhan tidak akan terjadi,” ujarnya.

Atas dasar itu, ia menilai kapitalisme maupun sosialisme-komunisme sama-sama bermasalah. Ketertarikan sebagian anak muda terhadap sosialisme, menurutnya, dapat muncul karena mereka belum memahami bahwa Islam juga mengatur persoalan ekonomi dan kepemilikan.

“Dalam Islam ini sebenarnya memang kedua-duanya bermasalah. Komunisme bermasalah, sosialisme-komunisme dan kapitalisme juga bermasalah,” katanya.

“Bisa jadi karena mereka tidak tahu bahwa Islam juga mengatur soal kepemilikan. Islam mengatur soal ekonomi,” jelasnya.

Kesempurnaan Sistem Islam

Berbeda dari kedua sistem tersebut, Kiai Labib menjelaskan, Islam mengakui kepemilikan pribadi sekaligus mengatur cara memperoleh kekayaan. Islam juga membedakan kepemilikan pribadi, publik, dan negara.

“Islam tidak membatasi orang hendak mempunyai jumlah kekayaan. Tetapi Islam membatasi bagaimana memperoleh kekayaan itu,” jelasnya.

Ia mencontohkan, Islam membatasi cara memperoleh harta agar tetap halal, antara lain dengan melarang pencurian, korupsi, riba, dan produksi barang haram. Islam juga menetapkan kategori kepemilikan publik dan kepemilikan negara di samping kepemilikan pribadi.

“Islam membatasi, misalnya, bagaimana itu dalam pengertian hanya boleh dengan cara yang halal. Tidak boleh mencuri, tidak boleh korupsi, tidak boleh riba, tidak boleh memproduksi barang-barang haram dan segala macamnya,” paparnya.

“Nanti ada tiga macam kepemilikan tadi. Kepemilikan pribadi, ada kepemilikan publik, ada kepemilikan negara,” imbuhnya.

Menurut Kiai Labib, pengaturan tersebut tidak menghilangkan dorongan manusia untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan diri serta keluarganya. Islam tetap mengakui kepemilikan pribadi sehingga semangat bekerja tidak dihilangkan dengan merampas hak kepemilikan.

“Islam juga tidak merampas, tidak menghilangkan kebutuhan makhluk tadi. Sehingga orang secara naluri, dia akan bekerja untuk bisa mencukupi dirinya, untuk mencukupi keluarganya dan seterusnya. Semangat untuk bekerja tadi tidak dihilangkan dengan Islam dengan cara dilucuti kepemilikan pribadinya,” terangnya.

Kiai Labib pun menyerukan agar kaum Muslim menyebarkan Islam sebagai cahaya yang menerangi sekaligus membantah pemikiran yang bertentangan dengannya.

“Maka kita serukan kepada kaum Muslimin, bawalah terang itu, bawalah cahaya itu agar yang gelap itu bisa lenyap. Dan cahaya itu tidak lain adalah Islam,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebatilan tidak akan terkalahkan jika kebenaran tidak disebarkan. Karena itu, ia mengajak kaum Muslim menggencarkan dakwah Islam.

“Datang dulu kebenaran, kemudian batil itu akan runtuh. Jadi, jangan berharap yang batil itu bisa terkalahkan kalau yang hak tidak disebarkan. Oleh karena itu, anjuran saya, mari kita gencarkan dakwah Islam,” pungkasnya.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: