Kiai Labib: Doa agar Selamat dari Godaan Setan dan Tetap di Jalan Lurus
MediaUmat – Menjelaskan tafsir Al-Qur’an surah an-Nas, Ulama KH Rokhmat S. Labib menegaskan, permohonan terpenting seorang Muslim kepada Allah SWT adalah agar senantiasa ditetapkan di jalan yang lurus dan tidak disesatkan oleh setan.
“Permintaan tolong kita kepada Allah yang paling penting sebenarnya minta tolong kepada Allah agar kita tetap berada dalam jalan yang lurus, jalan yang benar, tidak disimpangkan apalagi disesatkan oleh setan,” terangnya dalam kajian Tafsir al–Wa’ie QS an-Nas yang ditayangkan kanal YouTube Rokhat S. Labib, Ahad (14/6/2026).
Menjelaskan bahaya setan, Kiai Labib menegaskan, setan tidak pernah rela manusia berada dalam ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu, setan terus berupaya menjauhkan manusia dari petunjuk dan agama-Nya.
“Setan itu paling tidak senang jika kita taat, kita berada dalam petunjuk, kita meniti jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengerjakan agamanya. Dia tidak ingin manusia masuk surga. Dia menginginkan manusia masuk neraka sebagaimana dirinya,” ujarnya.
Menurutnya, mengikuti langkah setan merupakan kerugian terbesar bagi manusia karena akan menjauhkan seseorang dari petunjuk Allah dan menyeretnya kepada kebinasaan.
“Tak ada orang yang paling rugi nasibnya kecuali orang yang mengikuti langkah setan itu,” katanya.
Ia menjelaskan, kerugian tersebut tidak berhenti pada hilangnya kenikmatan dunia, tetapi dapat berujung pada kekufuran yang mengantarkan seseorang kepada azab yang kekal.
“Kalau sampai kafir masuk nerakanya bukan sehari dua hari, bukan setahun dua tahun, bukan satu abad dua abad, tapi selama-lamanya,” ungkapnya.
Kiai Labib mengingatkan, bahaya setan tidak boleh diremehkan karena ia bekerja secara tersembunyi sehingga banyak manusia tidak menyadari tipu dayanya.
“Musuh yang paling berat itu adalah musuh yang tidak kelihatan,” paparnya.
Ia mencontohkan dampak mengikuti godaan setan, yakni ketika seseorang mulai meninggalkan ketaatan yang sebelumnya dijalankan, bahkan berbalik memusuhi perjuangan Islam.
“Yang tadinya shalatnya rajin tidak shalat, yang baca Quran tidak baca. Yang tadinya dakwah tidak dakwah, yang tadinya ikut berjuang justru menjadi musuh. Itu musibah dalam agama,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut jauh lebih berbahaya dibanding kehilangan harta atau musibah duniawi, karena musibah dunia tidak otomatis merugikan seseorang di hadapan Allah SWT.
“Motor hilang tidak berdosa. Apalagi kalau dia kemudian bersabar, dia mendapatkan pahala atas kesabarannya itu,” tuturnya.
Karena itu, ia menegaskan, yang paling harus dikhawatirkan seorang Muslim bukanlah hilangnya kenikmatan dunia, melainkan rusaknya agama akibat mengikuti langkah setan.
“Enggak ada musibah yang lebih besar dibandingkan musibah fiddin (dalam agama),” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat