Khilafah News: Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Krisis Energi Dunia

MediaUmat Ketegangan di Selat Hormuz yang dipicu dinamika pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai narator Khilafah News bukan sekadar konflik regional, melainkan ancaman serius terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.

“Ini bukan sekadar konflik, ini titik rawan energi global, ketika Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang berubah bahas soal Selat Hormuz, para analis melihat sinyal tekanan besar,” ungkapnya dalam Perang Timteng Berdampak Lebih Buruk dari Krisis Minyak 1970-an? di kanal YouTube Khilafah News, Selasa (24/3/2026).

Narator Khilafah News menjelaskan, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia setiap hari, sehingga setiap gangguan, sekecil apa pun, dapat langsung memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan volatilitas pasar.

“Gangguan kecil saja bisa langsung mendorong lonjakan harga energi dunia,” ujarnya.

Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat-Israel versus Iran, tambahnya, telah mendorong reaksi cepat pasar, ditandai dengan kenaikan harga minyak dan meningkatnya risiko inflasi global.

Lebih jauh, narator menilai dampak krisis ini tidak merata, dengan negara-negara industri di Eropa seperti Jerman, Italia, dan Inggris menghadapi tekanan besar akibat ketergantungan energi, sementara negara Asia seperti Jepang dan India terancam pelemahan ekonomi karena tingginya impor minyak.

“Negara berkembang justru menghadapi dampak paling keras, depresiasi mata uang karena impor energi membengkak, sementara subsidi energi menguras anggaran negara yang memicu dilema fiskal,” tegasnya.

Di sisi lain, ia menyoroti lemahnya respons global, termasuk aliansi seperti NATO, yang dinilai tidak mampu meredam kompleksitas krisis yang mencakup aspek militer, energi, dan ekonomi sekaligus.

“Dunia sedang menghadapi krisis berlapis, Jika eskalasi terus berlanjut, gangguan rantai pasok energi bisa berubah menjadi krisis ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.

Sebagai penutup, narator menilai krisis ini merupakan konsekuensi dari sistem global yang berjalan saat ini.

“Ini bukan lagi soal siapa yang berperang, tapi siapa yang paling siap bertahan dari dampaknya, dan dunia Muslim akan menyambut krisis demi krisis akibat kapitalisme yang masih diterapkan di muka bumi,”pungkasnya.[] Ikbal

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: