Kepanikan Harga Minyak Naik, Bukti Rapuhnya Ekonomi Kapitalis
MediaUmat – Ismail dari Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) menyatakan ‘kepanikan masyarakat tentang kenaikan harga minyak yang tercatat melonjak hingga 59% karena penutupan Selat Hormuz oleh Iran’ sebagai bukti rapuhnya tata ekonomi kapitalis liberal.
“Nah, di tengah kepanikan ini kita jadi melihat satu hal. Betapa rapuhnya tata ekonomi kapitalis liberal yang selama ini kita agung-agungkan,” ujarnya dalam video Update Perang Timur Tengah Siapa yang Lebih dulu Kalah | Selat Hormuz Penentu Kemenangan Perang, Sabtu (11/4/2026) di kanal YouTube Khilafah News.
Sebab, menurutnya, sistem ini persis seperti yang digariskan Allah dalam QS al-Ankabut ayat 41 sampai 43, yang mengutip penjelasan Imam Ibnu Katsir, “Perumpamaan orang yang bersandar pada kekuatan selain Allah itu seperti sarang laba-laba, rumah yang paling lemah.”
“Artinya, siapa pun yang bersandar pada kekuatan fisik, jabatan, atau kekayaan tanpa fondasi spiritual dan sistem yang kokoh, pada akhirnya akan hancur sendiri,” tegasnya.
Ismail melihat perbedaan pengelolaan sumber daya seperti yang dicontohkan adalah industri militer Iran dikelola langsung oleh negara. Ketika butuh rudal, negara tinggal instruksi produksi langsung jalan, cepat, efisien, tanpa negosiasi panjang.
“Amerika Serikat dikelola swasta. Baru-baru ini saja, Departemen Pertahanan Amerika Serikat sempat terancam membatalkan kontrak senilai 200 juta US dollar atau sekitar Rp3,36 triliun dengan perusahaan AI Antropic hanya karena masalah kebijakan penggunaan teknologi,” bebernya.
Bayangkan, lanjutnya, di tengah krisis, produsen alutsista malah sibuk nego kontrak dan skema bisnis, bukannya langsung memenuhi kebutuhan negara.
“Akibatnya saat negara dalam kondisi krisis finansial atau butuh gerak cepat di medan tempur, kebijakan jadi lambat,” tuturnya.
Padahal, lanjutnya, strategi tempur Amerika Serikat dirancang untuk shock and down (serangan cepat).
Jika, lanjut Ismail, logistiknya saja harus nunggu tanda tangan kontrak, maka strategi itu jadi gagal. “Inilah gambaran nyata kapitalis liberal,” sebutnya.
Ketika menguntungkan, sebutnya, swasta meraup profit luar biasa. Tapi giliran rantai pasok bermasalah, negara yang disuruh jadi tukang servis untuk menyelesaikan masalah.
Kondisi seperti ini, sebutnya, membuat pertanyaan reflektif, yang sebetulnya negara dan pemerintah ini ada untuk kepentingan rakyat ataukah untuk kepentingan segelintir oligarki.
“Sistem yang rapuh ini tidak akan pernah bisa menjamin keadilan. Makanya kita harus sadar, jangan pernah bergantung pada entitas yang lemah, kapitalis liberal,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat