Blokade Iran Ditolak Sekutu, Pelajaran Berharga bagi Kedaulatan Negeri Muslim

 Blokade Iran Ditolak Sekutu, Pelajaran Berharga bagi Kedaulatan Negeri Muslim

MediaUmat – Penolakan sejumlah negara anggota NATO, termasuk Inggris dan Prancis, terhadap rencana blokade laut Selat Hormuz oleh Presiden AS Donald Trump, menurut Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana harus menjadi pelajaran berharga bagi dunia Islam.

“Situasi ini harus memberikan pelajaran penting bagi dunia Islam, terutama di tengah pergolakan geopolitik di kawasan Teluk,” ujarnya media-umat.com, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, sikap sekutu NATO yang memilih menjaga jarak dan fokus pada diplomasi menunjukkan empat poin krusial yang harus dicermati negeri-negeri Muslim.

Pertama, pentingnya kemandirian dan kedaulatan. Menurutnya, konflik ini membuktikan kekuatan besar seperti AS selalu menempatkan kepentingan nasional di atas segalanya.

“Bagi penguasa dunia Islam, ini pengingat bahwa mengandalkan perlindungan asing adalah kebijakan yang rapuh,” cetus Budi.

Kedua, bahaya ketergantungan logistik. Budi menekankan, menyerahkan keamanan urat nadi ekonomi seperti Selat Hormuz kepada kekuatan eksternal hanya akan menjadikan negara kawasan sebagai objek permainan geopolitik.

Ketiga, urgensi persatuan di atas kepentingan sektoral. Menurut Budi, diperlukan sinergi regional yang riil antarnegara Muslim untuk mengimbangi dominasi kekuatan global.

“Solidaritas nyata diperlukan untuk menandingi hegemoni,” tegasnya.

Keempat, penguatan kedaulatan untuk menghindari perang proksi. Negeri-negeri Muslim harus berhenti menjadi pengikut blok militer asing. Budi meyakini dengan potensi yang ada, umat Islam mampu mewujudkan misi rahmatan lil ‘alamin melalui kekuatan global yang mandiri.

Krisis Kepercayaan Transatlantik

Di sisi lain, penolakan Inggris hingga Spanyol dipandang sebagai krisis kepercayaan yang mendalam dalam hubungan transatlantik. Penolakan akses pangkalan militer dan wilayah udara bagi operasi AS disebut Budi sebagai “pembangkangan operasional” yang langka.

“Ketidakharmonisan ini memuncak setelah Gedung Putih merespons dengan ancaman sanksi. Situasi ini memaksa Eropa mulai memikirkan strategic autonomy atau kemandirian pertahanan,” ulasnya.

Sebagai solusi, Budi menyeru dunia Islam untuk memperkuat kerja sama keamanan regional yang mandiri.

“Dunia Islam memiliki potensi besar menjadi kekuatan global tanpa harus berada di bawah bayang-bayang payung keamanan asing,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *