Kenaikan Harga Pertamax Tak Timbulkan Inflasi, Benarkah?

 Kenaikan Harga Pertamax Tak Timbulkan Inflasi, Benarkah?

MediaUmat Pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax tidak akan memberikan dampak besar terhadap inflasi Indonesia, dinilai terlalu menyederhanakan masalah.

“Pendapat Menkeu Purbaya bahwa kenaikan Pertamax ‘dampaknya minim ke inflasi karena bukan dipakai angkutan barang/umum’ memang berdasar secara makro, tapi terlalu menyederhanakan masalah,” ujar Peneliti dari Forum Analisis dan Kajian Kebijakan untuk Transparansi Anggaran (FAKKTA) Muhammad Ishak kepada media-umat.com, Senin (15/6/2026).

Ishhak membeberkan, porsi Pertamax terhadap total konsumsi BBM nasional sekitar 14-20%, ditambah beberapa persen dari Pertamax Turbo dan Dex series. Angka ini memang jauh lebih kecil dari Pertalite yang mendekati 80%, sehingga secara bobot di Indeks Harga Konsumen nasional, kenaikan ini tidak akan menggerek inflasi secara drastis.

Namun Ishak melihat, masalahnya, 14-20% pengguna BBM ini langsung terkena dampak kenaikan 32% (dari Rp12.300 menjadi Rp16.250), terlepas dari apakah mereka mengangkut barang atau tidak.

Masalah berikutnya kata Ishak, sebagian masyarakat justru mengalami kelangkaan Pertalite dan Solar subsidi sehingga harus antre panjang, dan sebagian pengendara yang kehabisan Pertalite terpaksa beralih membeli Pertamax atau Pertamax Turbo.

“Sehingga bagi kelompok yang mengalami kelangkaan dan pembatasan ini yang seharusnya justru berhak atas BBM bersubsidi, maka kenaikan harga Pertamax sebesar 32% langsung membebani mereka,” ungkapnya.

Karena itu Ishak mengingatkan, semestinya pasokan BBM bersubsidi dipastikan cukup sesuai kebutuhan masyarakat, bukan dibatasi sehingga memaksa masyarakat mengonsumsi BBM yang lebih mahal.

Dan untuk menutupi kebutuhan anggaran subsidi tersebut, pemerintah semestinya mengevaluasi dan memangkas belanja yang tidak produktif, lalu mengalihkannya untuk memastikan pasokan BBM subsidi tetap memadai,

“Bukan membatasi pasokan yang ujungnya memaksa masyarakat membeli BBM nonsubsidi yang mahal,” pungkasnya.[] Agung Sumartono

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *