Kemunduran Peradaban Barat … Itulah yang Mereka Katakan dengan Mulut Mereka Sendiri [4]
Oleh: Yusuf Al-Sarisi – Baitul Maqdis
4. Buku “The Sorrows of Empire: Militarism, Secrecy, and the End of the Republic (Air Mata Imperium: Militerisme, Kerahasiaan, dan Tamatnya Republik)”, karya Chalmers Johnson (2004)
Penulis menyodorkan analisis, bukan kritik terhadap kebijakan luar negeri Amerika setelah runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin. Buku ini berfokus pada dampak peningkatan kekuatan dan superioritas militer Amerika terhadap kebijakan luar negeri AS, serta potensi konsekuensi negatif dari hegemoni jenis ini.
Buku ini menawarkan pandangan kritis terhadap kebijakan luar negeri Amerika, termasuk perang di Irak dan Afghanistan, serta dampak ekonomi, politik, dan budaya dari perang-perang tersebut terhadap Amerika dan dunia, serta konsekuensi potensial dari meningkatnya penggunaan kekuatan militer di dunia.
Terdapat konflik antara arogansi kekuasaan imperialis dan distorsi budaya serta nilai-nilai inti demokrasi. Bahaya ini mengancam Amerika Serikat, yang menempuh jalan yang sama dengan Uni Soviet pada tahun 1980-an. Uni Soviet runtuh karena tiga alasan: (1) kontradiksi ekonomi internal yang diakibatkan oleh kekakuan ideologis, (2) ekspansi imperialis yang berlebihan, dan (3) ketidakmampuan untuk melakukan reformasi. Meskipun mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk terjadinya hasil yang sama di Amerika Serikat, mengingat kekayaannya yang lebih besar, namun persamaan antara keduanya tidak dapat disangkal.
Komentar: Penulis menyamakan Amerika dengan Uni Soviet sebelum keruntuhannya dan memperingatkan bahaya keruntuhan Amerika sendiri, dengan menarik persamaan antara keduanya. Alasan yang ia kaitkan dengan keruntuhan adalah kejumudan pemikiran, kontradiksi ekonomi, ekspansi kolonial, dan ketidakmampuan untuk melakukan reformasi, semua ini adalah alasan sebenarnya yang dapat menyebabkan kegagalan atau keruntuhan suatu negara. Namun, ada perbedaan mendasar antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, yaitu alternatif kapitalis terhadap komunisme tersedia dan efektif, sedangkan saat ini tidak ada model peradaban yang layak untuk bersaing dengan Amerika dan Barat. Sementara Islam adalah alternatif potensial, akan tetapi belum terwujud dalam negara yang benar-benar mengembannya secara nyata.
5. Buku “Suicide of the West (Bunuh Diri Barat)”, karya Richard Koch dan Chris Smith (2006)
Para penulis mengidentifikasi enam pilar utama peradaban Barat: Kekristenan, optimisme, sains, pertumbuhan ekonomi, liberalisme, dan individualisme. Mereka menunjukkan bagaimana ide-ide ini telah menderita serangan internal tanpa henti selama satu abad dan bagaimana ide-ide tersebut tidak lagi menginspirasi atau menyatukan Barat, sehingga pergeseran menuju bunuh diri kolektif tampak tak terhindarkan.
Adapun bunuh diri yang mereka maksud adalah berakhirnya sukarela yang dipaksakan peradaban Barat pada dirinya sendiri, yaitu suatu akhir di mana tidak ada agresi asing yang berperan. Bunuh diri dalam buku ini adalah bentuk transformasi peradaban Barat yang mempelopori menuju peradaban lain dengan nilai-nilai lain yang jauh berbeda dari nilai-nilai Barat dengan enam pilar khasnya. Peradaban Barat berada di persimpangan jalan, di mana Barat dapat menempuh jalan kebiadaban, agresivitas, dan keegoisan yang terpusat, yang akan mengarah pada fasisme baru dan imperium kolonial baru, sehingga hal ini akan menjadi indikasi keruntuhan yang tak terhindarkan dan akan segera terjadi, dimana dampak internalnya akan lebih menghancurkan daripada dampak eksternalnya.
Komentar: Meskipun benar bahwa pilar-pilar yang disebutkan oleh kedua penulis tersebut merupakan ciri khas peradaban kapitalis Barat, namun itu bukanlah prinsip dasar ideologi kapitalisme. Oleh karena itu, fakta bahwa beberapa ciri tersebut, seperti Kekristenan, optimisme, sains, dan pertumbuhan ekonomi, tidak lagi menginspirasi Barat bukanlah penyebab bunuh diri Barat. Sementara keegoisan, agresi yang biadab, fasisme, dan kolonialisme, yang semuanya diperingatkan oleh para penulis tersebut merupakan hal yang melekat pada kapitalisme sejak awal dan tidak pernah terpisah darinya; mungkin hanya uslubnya saja yang berubah. Kedua penulis ini tampaknya adalah kaum konservatif, yang ingin menekankan nilai-nilai konservatif yang berlaku di Eropa dan Amerika sebelum revolusi seksual tahun 1960-an, dengan demikian mereka memperingatkan terhadap hilangnya nilai-nilai Kristen konservatif di masyarakat Barat.
6. Buku “Le capitalisme est en train de s’autodétruire (Kapitalisme Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri)”, Karya Patrick Artus dan Marie-Paule Virard (2008)
Dalam buku ini, para penulis menjelaskan kontradiksi dan paradoks yang aneh: perusahaan-perusahaan terbesar di dunia mengumumkan keuntungan yang belum pernah terjadi sebelumnya, memberikan bonus yang sangat besar kepada para manajer mereka, dan membagikan dividen rekor kepada para pemegang saham mereka, sementara pertumbuhan ekonomi – setidaknya di Eropa – stagnan, pabrik-pabrik semakin dipindahkan ke negara lain, serta pengangguran dan ketidakstabilan para pekerja meningkat. Ya begitulah bentuk nyata kapitalisme yang irasional. Meskipun tampaknya berada di puncaknya, maka di saat itu juga ia menghadapi bahaya terbesarnya. Inilah hakikat kapitalisme yang tanpa visi, menggunakan miliaran dolarnya untuk hal yang tidak bermanfaat, dan gagal berinvestasi atau bekerja untuk membangun masa depan. Dalam menghadapi keresahan sosial, pemerintah biasanya hanya menangani gejalanya, mengabaikan akar penyebab masalah untuk menemukan solusi ekonomi yang tepat.
Akar permasalahan terletak pada tren saat ini yang didukung oleh kapitalisme dalam bentuk neoliberalnya yang brutal dan dominan. Di sina ada irasionalitas dalam perilaku investor besar; mereka menuntut perusahaan untuk mencapai keuntungan yang sangat tinggi, sehingga perusahaan berusaha balik modal setelah tiga bulan, daripada investasi jangka panjang. Mereka juga dengan sengaja menurunkan upah pekerja dan gagal menciptakan peluang kerja baru.
Buku ini menjelaskan secara rinci, dengan menyajikan banyak contoh nyata, tren yang menyimpang yang menyebabkan bahaya yang saat ini dihadapi kapitalisme—krisis bagi sistem kapitalis yang membuat Depresi Besar tahun 1929 tampak tidak berarti. Buku ini juga menganalisis krisis keuangan Asia dan efek dari “tradisi rasional”, di mana semua investor membeli sekuritas tertentu sambil secara bersamaan menjual sekuritas lainnya, yang mengakibatkan fluktuasi berbahaya. Lebih jauh lagi, buku ini mengungkap secara rinci skandal perusahaan-perusahaan besar yang terlibat dalam penipuan dan penyembunyian kebenaran.
Menurut dua penulis buku tersebut, perlu untuk berhenti mengejar keuntungan cepat melalui spekulasi pada derivatif dan instrumen keuangan lainnya. Di sini ada kebutuhan untuk mempercepat reformasi kebijakan tabungan dan memberlakukan aturan baru untuk pengelolaannya yang tepat, baik bagi para direktur maupun badan pengawas. Akibatnya, krisis kapitalisme baru, dan konsekuensi mengerikan yang mengikutinya, tidak dapat dihindari tanpa dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegahnya. Oleh karena itu, solusinya terletak pada kembali ke jalur tradisional ketika kapitalisme memimpin proses produksi dan memainkan peran positif dalam perkembangan masyarakat. Akibatnya, jika tindakan yang tepat tidak diambil, maka kapitalisme sedang menuju kehancuran dirinya sendiri.
Komentar: Buku ini menjelaskan bahwa kapitalisme menghancurkan dirinya sendiri karena adanya kekurangan dalam cara berpikir dan ukuran tindakan mereka, yaitu utilitas. Cara berpikir kapitalis—bersifat ekonomi—tidak menggali akar permasalahan dan penyebab sebenarnya, serta tidak berfokus pada pencarian solusi jangka panjang yang tepat, melainkan lebih berfokus pada pencapaian keuntungan langsung dan laba cepat dengan mengorbankan manfaat jangka panjang yang sebenarnya. Kedua hal ini menyebabkan kapitalisme menghancurkan dirinya sendiri akibat pengejaran keuntungan cepat; tetapi buku ini berfokus pada faktor ekonomi sebagai dasar kapitalisme dan melupakan doktrin sekularisme serta sistem-sistem yang muncul darinya,bahkan tidak menyadari bahwa kesalahan tersebut pada dasarnya terletak pada akar gagasan dasar dalam kapitalisme dan cara berpikir ilmiah di dalamnya, yang telah terputus dari kausalitas radikal dan terputus dari teleologi, sehingga tidak memberikan makna apa pun kepada manusia, kehidupan, dan alam semesta.
7. Buku “Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty (Mengapa Suatu Negara Gagal: Asal Usul Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan)”, karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson (2012)
Buku ini menawarkan analisis komprehensif tentang faktor-faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu negara dan masyarakat, serta memberikan penjelasan tentang kesenjangan besar dalam kemampuan ekonomi dan politik di antar berbagai negara. Hal ini membuktikan bahwa kesenjangan antara negara kaya dan miskin bukanlah hasil dari perbedaan individu dalam bakat atau sumber daya alam, melainkan hasil dari institusi politik dan ekonomi. Buku ini menunjukkan bahwa negara-negara yang menderita kegagalan dan kemiskinan adalah negara-negara yang menderita karena lembaga politik dan ekonomi yang buruk, seperti korupsi, kurangnya supremasi hukum, kurangnya representasi rakyat, dan campur tangan oleh elit politik dan ekonomi. Sebaliknya, negara-negara dengan lembaga yang kuat, transparan, dan demokratis akan berkembang; di mana terdapat pemisahan kekuasaan dan warga negara menikmati kebebasan mendasar serta perlindungan hukum.
Buku ini mengutip contoh-contoh historis dan kontemporer dari seluruh dunia, mulai dari Kekaisaran Romawi hingga negara-negara yang sedang berkembang di abad ini, untuk mengilustrasikan perbedaan dalam kinerja ekonomi dan politik. Buku ini memberikan pandangan komprehensif tentang pentingnya struktur kelembagaan dalam menentukan nasib suatu negara, dan menawarkan kesempatan untuk memahami transformasi historis dan faktor-faktor yang memengaruhi kemajuan negara dan kemakmuran rakyatnya.
Komentar: Buku ini menunjukkan pentingnya kerja terorganisir dan kelembagaan dalam pembangunan ekonomi dan politik, serta menegaskan bahwa sumber daya, kecerdasan, dan kualitas unsurl manusia saja bukanlah yang mendorong suatu negara untuk bangkit. Sebaliknya, pemeriksaan yang lebih mendalam mengungkapkan bahwa kerja terorganisir berakar pada kebangkitan pemikiran ideologis di dalam negara. Sebab, tanpa visi yang jelas, tujuan yang terdefinisi, dan tindakan produktif yang kausalitas, maka tidak ada kerja terorganisir yang dapat dicapai di dalam lembaga-lembaga negara. [bersambung]
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat