Kemunduran Peradaban Barat … Itulah yang Mereka Katakan dengan Mulut Mereka Sendiri [3]
Oleh: Yusuf Al-Sarisi – Baitul Maqdis
- Buku dan Prediksi Barat tentang Kemunduran Peradaban Kapitalis
Keruntuhan kapitalisme adalah nubuat bagi banyak pemikir Barat sendiri. Pertanyaan mendasar mereka bukanlah bagaimana atau mengapa kapitalisme akan runtuh, tetapi kapan runtuhnya: segera terjadi, atau akan tertunda? Untuk menegaskan kemunduran dan kejatuhan peradaban kapitalis Barat yang akan segera terjadi, kami akan menyebut satu persatu kesaksian sekelompok pemikir dan filsuf Barat dari dalam peradaban itu sendiri, yang menunjukkan kerusakan peradaban kapitalis dan kehancurannya yang akan segera terjadi. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan tahun penerbitan buku-buku tersebut, diikuti dengan komentar atau catatan singkat untuk masing-masing buku, sebagai berikut:
1. Buku “The Rise and Fall of the Great Powers (Bangkit dan Jatuhnya Kekuatan-Kekuatan Besar)”, Paul Kennedy (1987)
Dalam bukunya “The Rise and Fall of the Great Powers”, sejarawan Paul Kennedy mengungkapkan kebijakan dan ekonomi negara-negara besar dari tahun 1500 M. hingga 1981 M. serta alasan kemunduran mereka. Ia menjelaskan bahwa kebangkitan negara-negara besar terkait dengan ketersediaan sumber daya ekonomi, dan dominasi negara-negara besar sangat terkait dengan sumber daya yang tersedia dan kemampuan untuk menanggung beban ekonomi. Ia juga menjelaskan bahwa ekspansi militer yang berlebihan yang tidak sebanding dengan ketersediaan kemampuan telah menyebabkan kemunduran dan kejatuhan relatif. Ia lebih lanjut menyatakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi negara-negara besar adalah kebutuhan keamanan yang melebihi apa yang dapat disediakan oleh sumber daya yang tersedia, dan ambisi yang meningkat yang tidak memiliki pondaasi ekonomi.
Oleh karena itu, ia memprediksi kemunduran Uni Soviet, kebangkitan China dan Jepang, perebutan eksistensial untuk Pasar Bersama Eropa, dan kemunduran relatif Amerika Serikat hingga akhir abad ke-20. Ia memperkirakan bahwa setiap defisit atau kekurangan dana, terutama di bidang militer, akan menyebabkan terbenamnya bintang (kemunduran) negara adidaya mana pun.
Kennedy menerapkan “hukum” tersebut pada Amerika Serikat, sehingga ia sampai pada kesimpulan pesimistis bahwa negara itu memang telah terjangkit penyakit yang sama yang sebelumnya telah melandanya. Ekonomi Amerika sangat produktif pada tahun 1945 M, tetapi pangsa produksi dan perdagangan globalnya telah menurun secara relatif sejak tahun 1960 M. Kemudian pada tahun 1980 M, negara ini menyaksikan penurunan terus-menerus dalam ekspor pertanian dan industrinya, sehingga kemudian berubah dari kreditor terbesar menjadi debitur terbesar dengan kecepatan yang semakin meningkat; hal ini disebabkan oleh perluasan pengaruh yang berlebihan, yang membebaninya dengan pengeluaran ekonomi serta beban politik dan sosial yang tidak dapat ditanggungnya, sehingga negara ini menyusut dan terpaksa mengurangi pengaruhnya, sehingga hal ini secara pasti akan menyebabkan penurunan dan hilangnya kekuatan dan kekuasaan.
Komentar: Penulis mengaitkan kemunduran negara-negara adidaya semata-mata pada faktor ekonomi saja, dan ini merupakan kekurangan dalam pemahaman komponen pembentukan negara adidaya seperti ideologi, budaya, kekuatan lunak (soft power), kekuatan militer dan politik, dan lain-lain. Alasan para peneliti memperhatikan bukunya adalah terkait prediksinya tentang jatuhnya Uni Soviet dan bangkitnya China, yang memberikan kredibilitas pada pendapatnya; namun, prediksinya tidak berdasarkan kenyataan. Kebangkitan memiliki fondasi yang mendasarinya, yaitu pemikiran ideologis, dan darinya muncullah peningkatan dan perbaikan dalam ekonomi, politik, pendidikan, kekuatan militer, dan lainnya. Apa yang terjadi dengan Uni Soviet adalah runtuhnya tatanan konsep, standar, dan keyakinan komunis. Kebangkitan China adalah kebangkitan ekonomi dalam sistem kapitalis dan atas kemauannya. Adapun kemunduran kekuatan Amerika, maka itu utamanya bukan disebabkan oleh faktor ekonomi, melainkan lebih karena ketidakstabilan sistem nilai dan sistem kapitalis secara internal dan eksternal, serta adanya perpecahan dan keretakan yang mendalam yang menggerogoti masyarakat Barat dan lingkaran politik mereka.
2. Buku “The Grand Chessboard: American Primacy and Its Geostrategic Imperatives (Papan Catur Besar: Keunggulan Amerika dan Imperatif Geostrategisnya)”, karya Zbigniew Brzezinski (1997)
Penulisnya adalah seorang ilmuwan politik dan ekonom, serta profesor di Universitas Harvard. Bukunya membahas isu-isu kebijakan luar negeri Amerika dan tantangan yang dihadapi Amerika Serikat di dunia modern. Tema sentral buku ini adalah konsep “keunggulan Amerika”, sebuah istilah yang merujuk pada pentingnya Amerika Serikat menempatkan dirinya sendiri dan perannya di dunia. Dalam buku tersebut, Brzezinski menganalisis tantangan yang dihadapi Amerika Serikat dan bagaimana mencapai keunggulan Amerika melalui strategi spesifik di berbagai bidang, seperti keamanan nasional, perdagangan internasional, dan kepemimpinan global.
Dalam bukunya, Brzezinski mengacu pada studi mendalam tentang kebijakan luar negeri Amerika dan sejarahnya, dengan fokus pada transformasi terkini dalam sistem internasional dan dampaknya terhadap posisi Amerika. Buku ini menyajikan visi strategis yang bertujuan untuk mencapai kepentingan Amerika Serikat di dunia secara efektif dan berkelanjutan. Brzezinski berpendapat bahwa masyarakat yang dikuasai oleh hedonisme (maksudnya rakyat Amerika) tidak dapat menetapkan hukum moral bagi dunia, dan peradaban mana pun yang gagal memberikan kepemimpinan moral pasti akan binasa.
Komentar: Penulis berupaya menyajikan visi strategis yang bertujuan untuk mencapai kepentingan Amerika di dunia secara efektif dan berkelanjutan. Dengan visinya ini, ia menghendaki agar Amerika semakin memperkuat dominasinya di dunia, mengabaikan banyak alasan kegagalan kebijakan Amerika secara global dan upayanya untuk memaksakan peradaban dan sistemnya kepada dunia dengan kekerasan, sambil secara bersamaan memerangi peradaban lain, khususnya peradaban Islam. Namun, Amerika, yang telah kehilangan kepemimpinan moral dan nilai-nilai kemanusiaannya karena tindakan dan sistemnya yang korup, tidak layak untuk menetapkan hukum moral atau hukum yang berkaitan dengan hak asasi manusia, hak perempuan, dan hak anak bagi dunia, sebab ia sedang tenggelam dalam upaya memuaskan hawa nafsunya dan keberpihakannya pada kebatilan. Sehingga masa depannya pasti binasa, insya Allah.
3. Buku “After the Empire: The Breakdown of the American Order (Setelah Kekaisaran: Kejatuhan Kekuasaan Amerika)”, karya Emmanuel Todd (2003)
Buku ini merupakan studi kritis tentang kebijakan luar negeri Amerika dan posisi Amerika Serikat di dunia setelah berakhirnya Perang Dingin. Todd menganalisis transformasi radikal yang dialami dunia setelah runtuhnya Uni Soviet dan bagaimana transformasi ini memengaruhi tatanan global dan peran Amerika sebagai kekuatan dunia utama. Buku ini berfokus pada pemahaman perubahan demografis dan ekonomi yang terjadi di dunia selama abad ke-20 dan bagaimana transformasi ini menyebabkan kekuatan global melemahkan Amerika Serikat.
Gagasan Todd dalam buku ini didasarkan pada analisisnya tentang demografi, sejarah, dan kebijakan ekonomi; ia menyajikan pandangan yang relatif optimis tentang masa depan dunia setelah penurunan pengaruh Amerika. Pada saat yang sama, ia berfokus pada transformasi yang terjadi di masyarakat Barat, menunjukkan bahwa transformasi ini dapat memengaruhi kekuatan dan pengaruh Barat secara umum.
Penggunaan istilah “The Breakdown of the American Order (Kejatuhan Kekuasaan Amerika)” oleh penulis merujuk pada hilangnya atau menurunnya kepercayaan terhadap peluang dan kesuksesan yang diwakili oleh model kehidupan Amerika, di berbagai aspek seperti ekonomi, politik, dan masyarakat. Pergeseran negatif ini berdampak pada kepercayaan terhadap sistem politik dan kemampuan untuk memengaruhi pengambilan keputusan.
Komentar: Penulis menganalisis alasan-alasan penurunan kekuatan dan pengaruh Amerika dan Barat di dunia dan di negara-negara Barat sendiri, serta mengaitkan alasan-alasan tersebut dengan perubahan demografis, kebijakan luar negeri, dan kebijakan ekonomi; yang menyebabkan goyahnya kepercayaan dunia dan masyarakat Barat terhadap sistem yang mereka terapkan. Hal ini benar karena mencerminkan ketidakpuasan negara-negara dan masyarakat di dunia terhadap Barat dan kebijakan-kebijakannya; tetapi alasan sebenarnya dari kemunduran kapitalisme Barat terletak pada ideologi kapitalis itu sendiri, yang tidak mampu mendiagnosis masalah dalam semua aspek kehidupan dan gagal menyelesaikannya karena dibangun di atas fondasi yang korup, sehingga kebangkitannya adalah kebangkitan yang salah dan hanya menambal kekurangan setiap kali kegagalannya muncul di sana-sini; tetapi penambalan memiliki batas dan setelah itu kegagalan total pemikiran Barat akan terjadi secara internal dan eksternal, sehingga pada akhirnya ideologi korup ini akan lenyap jika ditemukan alternatif yang baik untuk bersaing dengannya dalam realitas internasional. [bersambung]