Jurnalis Bicara Esensi Kembali ke Fitrah Pasca-Ramadhan

MediaUmat Jurnalis Joko Prasetyo menegaskan, esensi kembali ke fitrah pasca-Ramadhan harus melampaui dimensi ritual dan mewujud dalam penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) di segala aspek kehidupan.

“Esensi kembali ke fitrah pasca-Ramadhan harus melampaui dimensi ritual dan mewujud dalam penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) di segala aspek kehidupan,” tegasnya kepada media-umat.com, Ahad (22/3/2026).

Pasalnya, jelas jurnalis yang akrab disapa Om Joy tersebut, Islam bukan sekadar agama ritual yang mengatur shalat dan puasa. Islam adalah pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, hukum, sosial, pemerintahan, hingga politik luar negeri.

Ia berharap Ramadhan bukan sekadar masa istirahat spiritual sesaat, melainkan momentum titik balik bagi umat untuk melepaskan diri dari rutinitas sekuler yang kerap meminggirkan nilai-nilai Islam.

Karenanya, Om Joy menekankan, keliru besar jika ada yang menyempitkan Islam hanya pada urusan ibadah ritual semata. Karena, Islam merupakan sistem kehidupan yang utuh dan menyeluruh, yang pelaksanaannya bersifat fardhu kifayah.

“Upaya menegakkan syariat Islam secara kaffah merupakan fardhu kifayah, kewajiban kolektif umat agar hukum Allah benar-benar hadir dalam kehidupan manusia. Rasulullah SAW telah mencontohkannya melalui Negara Islam di Madinah, yang kemudian diteruskan dalam institusi kepemimpinan umat yang dikenal sebagai Khilafah Islam,” paparnya.

Soroti Luka Umat Global

Di tengah gema takbir kemenangan, Om Joy mengajak umat untuk tidak menutup mata terhadap realitas pahit dunia Islam di Gaza, Rohingya, Kashmir, hingga Xinjiang yang masih hidup dalam tekanan.

“Penderitaan ini adalah dampak langsung dari runtuhnya kesatuan politik umat sejak 1924. Terpecahnya dunia Islam menjadi negara-bangsa membuat umat kehilangan pelindung yang mampu menghalau ketidakadilan global,” ungkapnya, sehingga di balik gema takbir tak semua Muslim merayakan hari raya dengan aman.

Untuk itu, Om Joy mendorong setiap Muslim untuk merenungkan arah hidup pasca-Ramadhan. Sebab, menurutnya, umat saat ini tidak hanya memerlukan ketakwaan pribadi, tetapi juga keberanian untuk bersama-sama membela kaum tertindas serta mewujudkan kepemimpinan yang menegakkan syariat Allah, yakni Khilafah Islam ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Terlebih lagi, sebagaimana ditegaskan dalam QS al-Maidah: 3, kesempurnaan risalah menjadi landasan kuat bahwa Islam adalah agama yang diridhai Allah SWT.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…,”_ demikian penggalan ayat dimaksud.

Kesempurnaan risalah yang termaktub dalam ayat tersebut, kata Om Joy sekali lagi, seharusnya menjadi standar tunggal dalam menata kehidupan.

“Saat manusia berdiri di hadapan Allah kelak, yang diperhitungkan bukan identitas sosial atau jabatan kita, melainkan apakah kehidupan kita benar-benar selaras dengan ajaran Islam atau tidak,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: