Di Balik Kebahagiaan Idul Fitri, Umat Masih Terpuruk

MediaUmat Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, di balik kebahagiaan dan gema takbir Idul Fitri ada kesedihan karena kemenangan Ramadhan hanya dirasakan individu, sementara umat tetap terpuruk di segala sektor kehidupan.

“Begitu kita nengok situasi di luar diri kita, kita tidak bisa tidak pasti merasa sangat prihatin… bahagia tapi sedih, sedih tapi bahagia,” ungkap UIY dalam siniar Idul Fitri dan Masa Depan Umat di kanal YouTube UIY Official, Ahad (12/3/2026).

Pasalnya, sebut UIY, kebahagiaan Idul Fitri hanya mencerminkan kemenangan personal, bukan kemenangan umat secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan ibadah Ramadhan belum melahirkan perubahan peradaban.

“Boleh dong kita sebut bahwa kita ini menang… tapi bukan hari menang tapi menang secara individu,” jelas UIY.

Kontradiksi ini menunjukkan ibadah belum mengubah keadaan umat secara nyata. Nilai Ramadhan belum terhubung dengan realitas kehidupan umat.

“Kalau dibenturkan dengan realitas umat… mestinya menyatu… tapi ini tidak,” tegas UIY.

Akibatnya, umat hidup dalam paradoks: bahagia secara pribadi, namun sedih melihat kondisi umat yang jauh dari kemuliaan.

Artinya, jelas UIY, umat Islam hari ini telah jauh dari posisi ideal sebagai khairu ummah. Ketertinggalan terjadi di berbagai bidang kehidupan.

“Kita tertinggal secara ekonomi, secara politik, secara sains teknologi, secara apa pun,” ungkap UIY.

Kondisi ini menunjukkan umat kehilangan daya pengaruh dalam percaturan global. Bahkan, umat tak mampu menghentikan kezaliman terhadap kaum Muslim di berbagai wilayah.

“Kita tak bisa menghentikan kezaliman… kepada saudara kita di Gaza… dua tahun lebih,” tambahnya.

Menurut UIY, lemahnya posisi umat menunjukkan negeri-negeri Muslim berada dalam dominasi kekuatan besar dunia.

“Hampir seluruh dunia Islam itu tunduk pada kekuasaan global… dominan blok Barat,” paparnya.

Namun demikian, ia menegaskan, akar persoalan juga bersumber dari dalam tubuh umat, terutama dalam cara pandang terhadap identitas dan persatuan.

“Masalahnya… kita ini menyatu atau tidak itu bergantung pada persepsi kita tentang kita,” jelas UIY.

Cara pandang keliru ini melahirkan perpecahan akibat ide nasionalisme dan ashabiyah yang menjauhkan umat dari persatuan berbasis akidah.

“Muncul gagasan-gagasan… yang tidak berdasarkan universalitas iman… karena ashabiyah… nasionalisme,” lanjutnya.

Padahal, Islam telah menetapkan umat sebagai satu kesatuan yang diikat oleh keimanan.
Innamal mu’minuna ikhwah… itu persaudaraan universal karena keimanan,” tegas UIY.

Dalam konteks ini, UIY mengkritik cara pandang terhadap Idul Fitri yang direduksi menjadi sekadar perayaan simbolik tanpa refleksi ideologis.

“Selama ini masyarakat kita lebih memandang Idul Fitri… ganti baju baru… mestinya kembali ke cetak biru,” ujarnya.

Sementara itu, Konsultan dan Trainer Muhammad Karebet Widjajakusuma menegaskan, Ramadhan adalah madrasah ketaatan total yang seharusnya berdampak luas dalam kehidupan umat.

“Puasa itu… untuk kita punya kemampuan mengendalikan diri… punya kemauan untuk taat,” ungkap Karebet.

Namun, UIY menegaskan, jika ketakwaan hanya berhenti pada level individu, maka Islam kehilangan daya ubahnya sebagai sistem kehidupan.

“Kalau takwa hanya berhenti pada kerangka personal… maka agama ini hanya berhenti pada titik pribadi,” tegas UIY.

Karena itu, kebangkitan umat menuntut perubahan cara berpikir dari kesalehan individual menuju kesadaran kolektif berbasis akidah.

“Bangkit itu irtifaul fikri… dari memahami takwa secara fardiah menjadi dalam konteks jamaah,” jelasnya.

UIY juga menyoroti dominasi kapitalisme yang menguasai kehidupan umat dan menjauhkan dari nilai-nilai Islam.

Worldview yang dominan di dunia ini adalah kapitalisme… sangat menguasai kita semua hari ini,” ungkapnya.

Akibatnya, kepemimpinan umat kehilangan makna amanah dan berubah menjadi relasi transaksional yang kering dari nilai perjuangan.

“Amanah itu tidak ada… jadi kayak transaksi… saya dapat apa?” tambahnya.

Ia menegaskan, kebangkitan hanya mungkin terwujud melalui kepemimpinan ideologis yang berpegang teguh pada akidah dan syariat.

“Kita perlu menghadirkan sosok seperti Salahuddin Ayyubi… Muhammad al-Fatih,” ujarnya.

Karena itu, kebangkitan umat bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Jalan keluarnya adalah kembali kepada metode Rasulullah dalam membangun peradaban Islam melalui dakwah.
“Kita mesti betul-betul kembali ke cetak gurunya Rasul… energi Islam itu gak pernah padam… memungkinkan perubahan-perubahan besar… Islam itu agama dakwah… ketika bicara dakwah pasti bicara tentang generasi,” pungkas UIY.[] Zainardi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: