Iran Diserang, Bentuk Kezoliman, Presiden tidak Boleh Netral

 Iran Diserang, Bentuk Kezoliman, Presiden tidak Boleh Netral

MediaUmat Sikap netral pemerintah Prabowo Subianto terhadap agresi Amerika Serikat (AS)-Zionis ke sejumlah negeri Muslim dinilai Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi, sebagai keanehan dan kontradiktif dengan nilai-nilai Islam.

“Ini kan aneh,” ujarnya kepada media-umat.com, Jumat (13/3/2026).

Menurutnya, prinsip Islam mewajibkan penolakan tegas terhadap kezaliman nyata, terlebih saat terjadi pembunuhan dan penindasan terhadap kaum Muslim.

Ia menegaskan, umat Islam diharamkan bersikap netral ketika penindasan terjadi di depan mata.

“Sangat jelas dalam Islam, melihat kezaliman kita harus menolak dan menghentikannya. Kita tidak boleh cenderung, basa-basi, apalagi ridha,” urainya mengutip QS Hud: 113 yang melarang cenderung kepada orang zalim agar tidak disentuh api neraka.

Farid menambahkan, sikap netral tersebut bertentangan dengan QS al-Mumtahanah: 9 tentang larangan menjadikan musuh sebagai sekutu.

Ia mempertanyakan alasan pemerintah tetap bersikap netral di tengah serangan terhadap Iran, Gaza, Yaman, dan Suriah.

“Bagaimana mungkin seorang Muslim mengatakan netral ketika kejahatan nyata di depan mata?” tambahnya.

Atas dasar itu, Farid mendesak Presiden Prabowo mengambil sikap tegas, minimal mengecam keras atau membela dengan memberikan pertolongan orang-orang yang tertindas sesuai mandat QS an-Nisa: 75 yang artinya, “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak…”.

Dan QS al-Baqarah: 190, yang artinya, “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Lebih lanjut, ia melihat kebijakan ini sebagai bentuk ketertundukan pada AS yang memperlemah solidaritas Muslim. Terlebih, RI masih bergabung dalam Board of Peace (BoP), organisasi yang dipimpin pihak yang terlibat penyerangan. Farid membandingkan posisi RI dengan Spanyol.

“Perdana Menteri Spanyol saja berani tegas menolak terlibat. Harusnya Presiden Prabowo sebagai pemimpin Muslim punya alasan lebih kuat untuk bersikap,” tegasnya.

Ia khawatir sikap netral dari negara Muslim terbesar seperti Indonesia justru membuat penjajah semakin arogan. “Netral itu harus ditangkap sebagai bentuk ketidakpedulian. Ini akan membuat kezaliman semakin merajalela,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *