Ichsanuddin Noorsy: Konflik AS-Iran Lebih dari Sekadar Ideologi

MediaUmat – Pengamat Ekonomi Politik Dr. Ichsanuddin Noorsy menegaskan, eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak boleh hanya dibaca sebagai pertikaian ideologi atau masalah keamanan regional semata.

“Konflik Iran-Amerika tidak bisa dibaca semata sebagai pertikaian ideologi atau keamanan regional,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, ketegangan yang terjadi merupakan simpul dari pertarungan yang jauh lebih besar, yaitu perebutan kendali atas sumber energi global, penentuan harga komoditas, hingga dominasi mata uang transaksi internasional.

Artinya, perang modern saat ini telah bergeser menjadi perang totalitas yang melibatkan struktur ekonomi. Bahkan, setiap dentuman rudal di kawasan strategis, dinilainya merupakan upaya sistematis untuk mempertahankan dominasi greenback atau dolar AS.

Tak hanya itu, sambung Noorsy, AS melakukan hal itu demi menjaga arus petrodolar dan memastikan negara-negara di orbit tersebut tetap patuh pada sistem keuangan Washington dan City of London.

Noorsy menyoroti, sejak AS mengalami deindustrialisasi dan beralih menjadi ekonomi pasca-industri (post-industrial economy), kekuatan militer kini berfungsi sebagai jangkar utama hegemoni finansial. Dengan kekuatan militer yang menjamin stabilitas wilayah energi, AS dapat terus mengekspor obligasi dan mata uangnya ke seluruh dunia.

Ketergantungan Struktural

Strategi ini secara tidak langsung memaksa otoritas keuangan global untuk terus berkiblat pada suku bunga The Fed. “Hasilnya adalah ketergantungan struktural,” ulasnya, yang berarti kebijakan ekonomi yang terlalu fokus pada suku bunga (finansialisasi) dan mengikuti AS (The Fed) hanya menguntungkan investor besar dan membuat negara terperangkap dalam inflasi, pengangguran, dan kelaparan (pemiskinan struktural).

Sedangkan terkait posisi krusial Selat Hormuz, Noorsy berpendapat, gangguan keamanan di jalur tersebut adalah instrumen tekanan terhadap struktur ekonomi global. Kenaikan harga minyak akibat konflik justru memberikan keuntungan strategis bagi AS yang kini berstatus sebagai eksportir energi.

“Ini adalah perang ekonomi struktural; siapa yang mengendalikan produksi dan distribusi, dialah yang memegang kendali atas bangsa-bangsa,” ujarnya merujuk pada logika Henry Kissinger, tentang energi yang tetap menjadi tuas kendali geopolitik.

Pun serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco, sambung Noorsy, narasi false flag operation atau operasi bendera palsu juga patut diwaspadai. “Tuduhan serangan yang diarahkan untuk menyudutkan Iran disinyalir sebagai skenario untuk memicu konflik yang lebih luas guna menguatkan harga minyak pasca-Hormuz,” ulasnya.

Tak hanya itu, operasi militer ini juga dipandang sebagai bagian dari perang ekonomi struktural untuk mengendalikan distribusi, harga, dan transaksi energi yang tetap berbasis dolar.

Lebih lanjut, Noorsy memperingatkan, sasaran perang kini juga telah meluas ke fasilitas publik dan instalasi vital seperti desalinasi air yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dampaknya, negara-negara Arab akan mengalami gangguan keuangan serius yang dapat menghentikan ambisi mereka dalam membiayai industri masa depan, seperti kecerdasan buatan (AI).

“Hal ini mempertegas bahwa ada pihak yang sengaja mengatur agar pasar dan modal tetap berada dalam kendali mereka,” analisisnya lagi.

Terakhir, perang militer ini hanyalah puncak gunung es dari perang ekonomi yang jauh lebih menentukan di bawah permukaan. Karenanya, Noorsy mengajak publik untuk melihat siapa yang akhirnya memegang mata uang transaksi dan siapa yang meraup keuntungan finansial di balik biaya konflik yang mahal.

“Dalam permainan besar ini, pasar tidak pernah netral karena sangat bergantung pada siapa yang memegang kendali narasi dan kekuasaan,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: