MediaUmat – Di tengah ketegangan politik pasca-suksesi kepemimpinan di Iran, Hizbut Tahrir (HT) menyerukan solusi fundamental untuk memenangkan konfrontasi melawan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, yakni meninggalkan sistem republik dan beralih ke sistem Khilafah.
“Jika Iran mengadopsi sistem Khilafah, maka ia akan mampu meraih kemenangan atas Amerika,” demikian seruan yang dirilis dari Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir dan dikutip media-umat.com, Rabu (11/3/2026).
HT menegaskan, langkah ini merupakan jalan keluar bagi Iran untuk lepas dari krisis dan menghindari jebakan diplomasi Barat yang melemahkan kekuatan strategis negara.
Lima Alasan Khilafah Mampu Tumbangkan AS
Dalam rilisnya, HT memaparkan lima alasan fundamental mengapa sistem Khilafah diyakini mampu menumbangkan dominasi AS. Pertama, Khilafah adalah sistem pemerintahan berbasis hukum Allah yang sangat berbeda dengan republik.
Jelasnya, dengan menerapkan syariat Islam secara total, Iran diyakini akan mendapatkan pertolongan Ilahi untuk mengalahkan musuh-musuh kekufuran, sebagaimana kepemimpinan nabi dan khalifah terdahulu.
Kedua, sistem republik yang dinilai tetap bersifat sekuler meski dipimpin tokoh agama. Hal ini karena kedaulatan masih berada di tangan rakyat (hukum buatan manusia), bukan pada kedaulatan syariat.
Ketiga, kelemahan pemimpin republik semisal di Turki, Mesir, dan Pakistan yang hafal Al-Qur’an sekalipun, namun gagal membawa perubahan hakiki karena bekerja dalam bingkai sistem republik dan aliansi Barat (NATO).
“Hafalan Al-Qur’an para pemimpin tersebut tidak berdampak pada kebijakan jihad maupun pembelaan terhadap wilayah Muslim yang tertindas seperti Gaza dan Kashmir,” ungkap HT.
Keempat, sistem republik cenderung menempuh jalan damai melalui perundingan yang berujung pada pelucutan unsur kekuatan (nuklir dan senjata strategis). Karenanya, HT memprediksi AS akan terus menekan Iran di meja perundingan hingga jatuh dalam ketergantungan penuh.
Kelima, dengan mengubah menjadi Khilafah, Iran diyakini mampu menyatukan seluruh negeri Muslim dan memobilisasi kekuatan jihad global. Hal ini dianggap mampu mengisolasi kekuatan Barat dan menenggelamkan dominasi militer AS.
“Negara Khilafah akan berdiri sendiri dalam posisi internasional dan mendominasi dunia dengan kebenaran,” tegasnya.
Demikian seruan ini muncul menyusul penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru menggantikan ayahnya yang terbunuh pada Februari lalu. Meskipun militer Iran telah menyatakan kesetiaan, penunjukan tersebut mendapat penolakan keras dari Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan melakukan intervensi terhadap kedaulatan Teheran.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat