HILMI: Masalah Gizi adalah Cermin Kerusakan Sistem
MediaUmat – Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai persoalan gizi di Indonesia bukan sekadar isu teknis, melainkan cerminan dari sistem yang bermasalah, selama sistem yang menaungi kebijakan publik masih rusak, maka solusi yang dihasilkan pun hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan.
“Masalah gizi adalah cermin sistem. Jika sistemnya rusak, maka solusi yang lahir hanya bersifat tambal sulam. Sebaliknya, jika sistemnya benar, maka solusi akan menyentuh akar masalah,” tegas HILMI dalam keterangannya kepada media-umat.com, Sabtu (13/6/2026).
Selain itu, HILMI juga menyebut, dalam perspektif Islam, pemenuhan kebutuhan gizi bukan sekadar program kebijakan, melainkan kewajiban syar’i yang harus ditunaikan negara. Prinsip keadilan dalam Islam mencakup pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, termasuk pangan yang layak dan bergizi.
“Dalam Islam, pemenuhan gizi bukan proyek, tetapi kewajiban syar’i negara. Allah SWT berfirman: ‘Sesungguhnya Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat kebajikan…’ (QS. An-Nahl: 90). Keadilan dalam ayat ini mencakup pemenuhan kebutuhan dasar manusia, termasuk pangan yang layak dan bergizi,” jelas HILMI.
Lebih jauh, HILMI menekankan, sistem Islam tidak hanya menawarkan program alternatif, melainkan perubahan paradigma secara total dalam tata kelola negara. Dari yang semula negara berperan sebagai fasilitator terbatas, menjadi penanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyat.
“Dengan sistem ini, lahirlah generasi yang sehat, kuat, cerdas, berintegritas, dan peradaban Islam yang mulia,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat