RT, 24 Agustus 2026 – Mata uang Iran mencatat penurunan tajam yang belum pernah terjadi sebelumnya, melampaui angka 200.000 toman (dua juta rial) terhadap dolar AS untuk pertama kalinya pada penutupan perdagangan hari Ahad (23/8), menurut data dari lembaga pengamatan pasar mata uang Iran.
Penurunan tajam nilai mata uang lokal ini terjadi bersamaan dengan pernyataan Presiden AS Trump dan Menteri Keuangannya Scott Bessent tentang niat Washington untuk memberlakukan paket sanksi baru yang bertujuan untuk memberikan tekanan ekonomi yang melumpuhkan pada Teheran agar mendorongnya mengubah kebijakannya.
Meningkatnya nilai tukar mata uang kini secara langsung berdampak pada biaya impor dan harga barang serta jasa pokok, yang menyebabkan penurunan daya beli rumah tangga dan menjadikan nilai tukar mata uang sebagai salah satu indikator paling menonjol dari dalamnya tekanan ekonomi yang dihadapi negara tersebut. Inilah yang menyebabkan beberapa politisi Iran menyerukan kesepakatan dengan AS untuk menyelamatkan situasi ekonomi negara tersebut.
Ada dua hal yang perlu dipertanyakan: Jika Iran mampu memproduksi rudal dan membangun program nuklir, bagaimana mungkin negara itu tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dan barang-barang lainnya, mengingat Iran adalah negara besar dengan sebagian besar sumber daya?! Bukankah ini kegagalan kebijakan selama beberapa dekade?
Adapun hal yang kedua, apa yang terjadi di Iran merupakan sebuah pelajaran keras bagi semua rezim yang bekerja sama dengan AS, bahwa suatu hari nanti AS akan berbalik melawannya dan mengambil alih kekuasaannya. Mungkin Iran saat ini menyesali jasa-jasa yang mereka berikan kepada AS dalam pendudukannya di Irak dan Afganistan dan meminta kelompok loyalisnya untuk tidak melawan pendudukan AS, khususnya di Irak (hizb-ut-tahrir.info, 24/8/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat