MediaUmat – Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra menilai kemajuan teknologi pada abad ke-21 yang ditandai revolusi digital, kecerdasan buatan, media sosial, dan ledakan informasi, tidak otomatis membuat manusia semakin memahami hakikat dirinya, tujuan hidup, dan arah kehidupannya.
“Kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti oleh meningkatnya kepastian makna hidup,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (3/9/2026).
Ahmad menjelaskan, fenomena tersebut dapat dilihat dari meningkatnya kelompok masyarakat yang tidak lagi berafiliasi dengan agama atau religiously unaffiliated, termasuk mereka yang mengidentifikasi diri sebagai agnostik, ateis, maupun tidak beragama. Kondisi itu menunjukkan bahwa melimpahnya informasi belum tentu mampu memberikan orientasi hidup yang kokoh kepada manusia.
“Berbagai penelitian menunjukkan meningkatnya jumlah masyarakat yang memilih tidak berafiliasi dengan agama, termasuk mereka yang mengidentifikasi diri sebagai agnostik, ateis, atau “tidak beragama,” tegasnya.
Menurut Ahmad, Islam menawarkan kerangka pandang atau worldview yang jelas dalam menjawab persoalan eksistensial manusia. Al-Qur’an, katanya, menjelaskan bahwa manusia bukan makhluk yang hadir secara kebetulan, melainkan ciptaan Allah SWT yang memiliki asal-usul, tujuan hidup, dan tujuan akhir yang pasti.
“Allah SWT telah menjelaskan, ‘Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku’ (QS adz-Dzariyat: 56). Ini menunjukkan bahwa tujuan hidup manusia bukan sekadar mengejar kenikmatan material atau pencapaian duniawi,” katanya.
Ia menuturkan, ibadah dalam Islam memiliki makna luas, yakni menjalani seluruh kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Selain itu, manusia juga diingatkan bahwa kehidupannya tidak berhenti di dunia karena pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.
“Allah SWT juga mengingatkan, ‘Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.’ Karena itu, seorang Muslim memiliki orientasi hidup yang jelas, yakni berasal dari Allah, hidup di dunia untuk menjalankan amanah dan beribadah, kemudian kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya,” jelasnya.
Ahmad menegaskan, tiga dimensi kehidupan tersebut menjadi fondasi penting bagi seorang Muslim dalam menghadapi perubahan zaman.
Menurutnya, revolusi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, maupun perubahan sosial yang begitu cepat tidak seharusnya mengubah identitas dan orientasi dasar seorang Muslim.
“Ketiga dimensi di atas tidaklah berubah bagi seorang muslim, apapun kondisi dunia ini. Bahkan semakin kacau dunia yang membawa migrasi agnostik masyarakat Barat, seorang muslim justru harus semakin kuat berpegang teguh dengan identitas kemusliman ini,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ahmad mengaitkan fenomena kebingungan manusia modern dengan pemikiran cendekiawan Muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai loss of adab dan confusion of worldview. Krisis utama peradaban modern tidak hanya terletak pada persoalan ekonomi, politik, atau teknologi, tetapi juga pada kekacauan dalam memahami hakikat Tuhan, manusia, alam semesta, ilmu pengetahuan, kebenaran, dan tujuan hidup.
“Ketika manusia kehilangan orientasi terhadap hakikat dirinya dan tujuan penciptaannya, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkembang sangat pesat tetapi tidak selalu diiringi dengan kebijaksanaan moral,” ungkapnya.
Ia menambahkan, manusia membutuhkan landasan pandangan hidup yang benar agar ilmu dan teknologi tidak sekadar menjadi instrumen untuk memenuhi kepentingan material, tetapi diarahkan untuk mencapai kemaslahatan dan kebaikan.
“Teknologi dapat berkembang sangat maju, tetapi tanpa orientasi yang benar manusia tetap bisa kehilangan arah. Karena itu, Islam memberikan worldview yang menyeluruh agar manusia memahami siapa dirinya, untuk apa ia hidup, bagaimana ia harus menjalani kehidupan, dan ke mana ia akan kembali,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat