MediaUmat – Terkait Rusia yang meminta Perang Amerika Serikat-Israel versus Iran ini dihentikan seraya mengajak duduk di meja perundingan, Pengamat Hubungan Internasional dari Geopolitical Institute Hasbi Aswar, Ph.D. menegaskan, sebenarnya tidak ada negara yang mau perang ini terjadi, hanya Israel yang sangat menginginkannya.
“Bagaimanapun juga, tidak ada negara yang mau perang ini terjadi, hanya Israel yang sangat menginginkannya,” ujarnya kepada media-umat.com, Ahad (8/3/2026).
Hasbi melihat, banyak kalangan di AS yang menyatakan Presiden AS Donald Trump terlalu gampang tertipu dan dibohongi oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Padahal perang ini malah merugikan AS sendiri. Sebab dengan kacaunya Timur Tengah, semua bentuk kerja sama AS dan negara-negara Arab termasuk investasi 2 triliun bakal berhenti. Rusia pun sama, perang ini pasti juga akan merugikan Rusia baik secara ekonomi maupun militer khususnya dengan Iran.
Hasbi menilai, AS kelihatannya mulai panik dengan perlawanan Iran yang sengit. Iran dengan rudal-rudal murah, sementara Amerika menggunakan alat-alat perang yang mahal. Di sisi lain, tidak ada satu pun negara sekutu Amerika kecuali Israel yang mau ikutan perang, baik di Eropa maupun di Timur Tengah.
Selain itu, jelas Hasbi, mayoritas warga AS juga menghendaki penghentian perang ini. Dan seruan-seruan Trump untuk memprovokasi warga Iran, termasuk kaum Kurdi di Iran juga tidak bersambut. Kementerian Pertahanan AS pun sudah mengingatkan kalau perang terus terjadi pasokan rudal Amerika akan semakin menurun.
“AS kelihatannya ingin cepat menyelesaikan perang ini, entah dengan meningkatkan eskalasi di tengah ketidakpopulerannya atau sebagai strategi akhir lalu mencoba berdamai degan Iran sambil mencari momentum menghentikan perang ini,” ucapnya.
Terakhir, Hasbi meminta umat Islam harus berani bersikap terhadap AS dan Israel. Perang sepekan ini menunjukkan bAS tidak punya daya jika berperang sendirian. Sekarang buktinya. Hanya karena masih mendapatkan izin pangkalan militer di negara-negara Arab termasuk jalur udara, dan laut yang membuat AS masih bisa menyerang. Sebab Amerika itu sangat jauh sekali jaraknya dari dunia Islam jadi AS butuh sokongan dari negara-negara di kawasan dan dekat degan Timur Tengah.
“Dari sini kita bisa melihat, untuk perang di Timteng terlalu rumit bagi AS. Seharusnya itu bisa jadi pelajaran bagi AS sekaligus jadi celah untuk bisa menahan dan menghentikan kekejasaman AS di Timteng dan dunia Islam,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat