Mengapa AS ragu-ragu untuk menyerang Iran? Apakah keraguan ini disengaja dan diperhitungkan, ataukah merupakan tanda kelemahan? Apa saja hambatan nyata yang mencegahnya untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran dan membuka kembali Selat Hormuz secara paksa, meskipun memiliki kemampuan yang luar biasa? Dan apa dampak keraguan ini di panggung internasional?
Banyak pertanyaan muncul bagi setiap analis politik atau ahli strategi mengenai isu kompleks ini. Untuk memperjelasnya, kita harus menggali detailnya dan latar belakang berbagai putaran konflik dan kesepakatan dengan Iran.
Kebijakan AS terhadap Iran didasarkan pada pembenaran yang dinyatakan dan konsisten; yaitu, melucuti program nuklir dan senjata rudalnya, serta menarik dukungan persenjataannya dari milisi dan sekutunya di kawasan (Lebanon, Yaman, Gaza, dan Irak).
Meskipun dunia dan organisasi internasional khusus nuklir, International Atomic Energy Agency (IAEA) berulang kali menegaskan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir, masih jauh dari memperolehnya, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai tahap tersebut, perjanjian nuklir tetap ditandatangani antara AS, Iran, dan negara-negara besar. Berdasarkan perjanjian ini, fasilitas-fasilitas Iran ditempatkan di bawah pengawasan ketat, dan Iran tidak melanggar satu pun klausul, sebagaimana dinyatakan oleh kepala inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) saat itu, yang menegaskan kepatuhan penuh Iran dan mencatat bahwa kamera pengawas beroperasi sepanjang waktu untuk memantau dan merekam setiap pergerakan di dalam fasilitas tersebut.
Setelah kesepakatan itu, perusahaan dan negara-negara Eropa bergegas untuk menandatangani kontrak investasi senilai puluhan miliar dolar, yang mencakup semua sektor ekonomi Iran. Negara-negara ini menegaskan kepatuhan penuh Iran terhadap perjanjian tersebut. Kenyataan yang membuat AS marah setelah kesepakatan itu adalah bahwa perusahaan-perusahaan Eropa, Rusia, dan China adalah yang tercepat mengakses dan merebut pasar Iran yang luas, yang sebelumnya kekurangan infrastruktur dan belum memodernisasi sektor industrinya. Perusahaan-perusahaan AS, di sisi lain, lambat masuk, dan sebagai akibat dari sanksi ketat yang diberlakukan sebelumnya, AS menderita kerugian, sementara yang lain memperoleh keuntungan.
Selama periode bantuan keuangan, Iran menginvestasikan dana surplus yang dihasilkan dari penjualan minyak dan investasi yang masuk untuk membangun jaringan terowongan yang luas dan infrastruktur militer yang dibentengi di bawah pegunungan, jauh dari jangkauan pengawasan AS. Iran tahu bahwa perjanjian ini tidak akan bertahan lama, dan ini merupakan peluang emas untuk membangun basis industri militer dan membangun persenjataan yang kuat untuk melindungi kepentingannya. Semua ini terjadi dengan mengorbankan kesejahteraan rakyat Iran, yang kehilangan manfaat dari kekayaan mereka sebagai persiapan untuk konfrontasi yang tak terhindarkan dengan AS dan sekutu regionalnya di kawasan.
Setelah Trump berkuasa—yang selama kampanye pemilu mengancam akan membatalkan perjanjian nuklir dan menarik diri dari banyak perjanjian dan organisasi internasional untuk mengurangi pengeluaran—ia benar-benar membatalkan perjanjian tersebut dan memberlakukan sanksi maksimal dan ketat untuk memaksa Iran menyerah dengan syarat-syaratnya, yang terdiri dari pembongkaran program nuklir dan pengayaan uraniumnya, penghancuran program rudalnya, serta pembubaran milisi bersenjatanya di kawasan (Partai Iran di Lebanon, Hamas, Jihad Islam, Pasukan Mobilisasi Populer, dan Houthi).
Mentalitas AS mengamati penderitaan rakyat akibat tirani rezim Iran, dan membentuk persepsi yang keliru bahwa rezim tersebut akan runtuh dengan cepat jika dihantam dengan pukulan yang kuat dan terarah, sehingga membuka jalan bagi oposisi Iran untuk segera bergerak dan mengambil alih kendali, agar AS dapat menggulingkan rezim dan sistem militer dalam satu kali serangan serta membawa orang-orangnya ke tampuk kekuasaan untuk mengakhiri program militer dan memutus pasokan kepada sekutu Iran.
Namun, keadaan tidak berjalan seperti yang diharapkan AS; perhitungan untuk konfrontasi dan pencegahan membuuahkan hasil yang tidak diantisipasi oleh AS maupun seluruh Barat. Dalam skenario konfrontasi langsung apa pun, target pertama Iran adalah pangkalan darat AS di Timur Tengah, serta fasilitas pengawasan dan pemantauan yang mencakup radius lebih dari 3.000 kilometer yang terhubung ke jaringan satelit pemantau untuk setiap detail di Iran dan bahkan hingga perbatasan India dan Pakistan.
Menargetkan pangkalan-pangkalan tersebut memutus faktor-faktor penting AS dalam pertempuran; mengandalkan sepenuhnya pada kapal angkatan laut tidak cukup untuk memenangkan perang, karena kapal mudah menjadi sasaran dan lambat bergerak, yang memaksanya untuk tetap jauh dari daratan. Sementara pangkalan militer di wilayah terdekatnya berfungsi sebagai jembatan alami ke medan perang dan dukungan logistik paling vital bagi pasukan. Sehingga dengan hilangnya pangkalan-pangkalan ini, AS juga kehilangan negara-negara yang akan memberikan dukungan logistik. Ini bukan berarti negara-negara tersebut tidak memberikan bantuan yang sangat berharga; bahkan mereka adalah dukungan terkuat dalam mencegah keruntuhan dan kekalahan telak AS. Namun, AS terkejut dengan respons Iran dan pilihan-pilihan yang dimilikinya di lapangan, yang membuat serangan pendahuluannya tidak efektif dan tidak berarti bagi Iran.
Respons Iran bahkan lebih menyakitkan. Kerugian terbesar bagi AS dan protegenya, entitas Zionis Yahudi, adalah hancuenya prestise; prestise negara adidaya yang mereka banggakan dan pertontonkan, serta menyatakan diri mereka sebagai kekuatan yang tak terkalahkan dan tertinggi! Trump lupa bahwa di atas alam semesta ini ada Sang Pencipta yang menjadikan yang lemah kuat dan yang kuat lemah; Dialah yang menganugerahkan kekuasaan dan Dialah yang mengambilnya kembali. Fir’aun tertipu oleh kekuasaan dan kekuatannya, sebagaimana firman Allah SWT.:
﴿وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِن تَحْتِي أَفَلَا تُبْصِرُونَ﴾
“Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Wahai kaumku, bukankah Kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai itu mengalir di bawah (istana-istana)-ku. Apakah kamu tidak melihat?’.” (TQS. Az-Zukhruf [43] : 51).
Maka kemudian Allah SWT jadikan air yang dibanggakannya itu menelan Fi’aun dan tentaranya.
Keyakinan yang keliru akan kekuatan sekutunya di kawasan, serta sesumbar entitas Yahudi sebagai ujung tombak yang memiliki tentara terkuat di kawasan dan dunia, terbukti menjadi penyebab kegagalan strategi AS dan alasan hancurnya prestise globalnya. Hancurnya prestise ini telah mendorong bahkan negara-negara terkecil di dunia sekali pun untuk mengatakan “tidak” kepada AS, sehingga mereka mencegahnya untuk menggunakan pangkalan, wilayah udara, atau pelabuhannya.
Kerugian apa yang lebih besar daripada ketika Trump meminta bantuan sekutu NATO-nya dan mereka tidak meresponsnya? Kerugian apa yang lebih besar daripada ketika Eropa – mitra strategis tradisional yang telah mengikuti arahan AS sejak Perang Dunia II – berdiam diri ketika serangan barbar terhadap Iran dimulai? Sungguh momen itu benar-benar merupakan titik balik dan pukulan telak yang mengakhiri kemitraan strategis ini selamanya dan melemahkan NATO.
Bahkan Trump berselisih dengan kalangan militer, yang memperingatkannya tentang konsekuensi dari petualangan yang gegabah dan berisiko ini, tetapi ia mengabaikan mereka dan mengikuti keinginannya sendiri, yang membawanya ke jalan yang salah. Namun Trump bukannya meninjau seluruh masalah dan bertemu dengan para pemimpin militernya untuk mendengarkan perspektif mereka, justru ia memecat mereka dan menggantinya dengan orang-orang yang kurang berpengalaman.
AS sedang menjalani masa-masa terburuk dalam sejarahnya, di mana mereka tidak belajar darinya; sejarah yang dipenuhi dengan kegagalan militer dan bahkan dipermalukan oleh kekuatan kecil yang tidak memiliki banyak elemen kekuatan, serta telah membuat AS mundur dengan terhina, menyeret ekor kekecewaan dan kekalahan.
Keraguan AS didasarkan pada “teori teror dan ketakutan”, yakni upaya untuk menanamkan rasa takut pada musuh agar tidak stabil dan runtuh tanpa peperangan. Namun, kenyataan di lapangan menceritakan kisah yang sama sekali berbeda. Isyarat dan tindakan Trump menunjukkan bahwa ia telah kehilangan ketenangan dan kepercayaan diri pada kemampuan AS untuk mencapai kemenangan apa pun, bahkan kemenangan simbolis sekalipun. Sebaliknya, situasi di Iran tampak stabil, dengan dukungan publik yang kuat untuk kepemimpinannya. Rakyat merasa bahwa negara mereka menjadi sasaran kekuatan global yang arogan dan siap berkorban meskipun ada perbedaan etnis dan budaya.
Pelepasan dunia dari AS dan penolakan terhadap rencana-rencananya telah membuat AS merasa terisolasi dan sendirian. Ini menjelaskan sifat pernyataan Trump yang tidak menentu; ia mengancam akan menggunakan kekerasan, lalu menundanya, semua ini menjadikan pemerintahannya bahan tertawaan global, sehingga semakin banyak negara yang berani kepadanya. Hasilnya adalah apa yang China sampaikan kepadanya, ketika presiden China mengingatkan Trump tentang sejarah, memperingatkannya agar tidak meremehkan lawan yang kecil atau tertipu oleh kekuatan dan kebesaran Amerika yang berlebihan. Dalam konteks ini, presiden China mengacu pada dilema strategis Perangkap Thucydides (Thucydides Trap), sebuah konsep yang tampaknya belum pernah didengar Trump. Trump kembali dari konfrontasinya dengan naga China diliputi perasaan terhina dan terkepung dalam pertempuran ekonomi dan politiknya.
Begitu Trump kembali dari perjalanannya dengan membawa kekecewaan, ia langsung membuka babak baru yang dramatis dengan pengumuman arogan di mana ia mengklaim telah “menghentikan serangan dahsyat terhadap Iran pada menit terakhir,” dan menyatakan bahwa hal ini terjadi setelah mediasi negara-negara Teluk dan permohonan mereka untuk memberikan kesempatan lain berupa pendekatan diplomasi!
Begitu Trump selesai menyampaikan pernyataannya, tanggapan dari negara-negara Teluk datang secara bulat untuk membantah klaim tersebut; negara-negara tersebut menegaskan bahwa hal itu tidak terjadi, bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui rencana serangan yang diumumkan, dan bahwa tidak ada mediasi dari pihak mereka.
Penolakan-penolakan ini merupakan pukulan yang lebih keras daripada tusukan pedang tajam, yang bahkan diterima Trump dari negara-negara yang berafiliasi dan menjadi tuan rumah pangkalan militernya, serta yang dari kas negara mereka dana ke AS mengalir tanpa batasan. Kesimpulan ini mengungkap kepalsuan klaim Amerika, dan menegaskan bahwa hambatan sebenarnya untuk melancarkan serangan bukanlah “kemanusiaan dan keraguan” atau mediasi yang diklaimnya, melainkan ketakutan akan reaksi Iran, dan ketidakberdayaan strategis komprehensif yang telah menyelimuti negara adidaya tersebut di saat prestisenya hancur. [] Salim Abu Sabitan
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 26/5/2026.