Sejarah telah mengajarkan kita bahwa ketika perang berakhir, tidak berarti keheningan menyelimuti medan perang. Justru di saat inilah gagasan mulai merayap perlahan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pertempuran. Pada titik ini, bukan hanya perbatasan yang digambar ulang, tetapi teman dan musuh didefinisikan ulang, identitas baru dibentuk, bahkan narasi yang berupaya melegitimasi tatanan yang lahir dari rahim perang mulai dihidupkan. Dalam konteks ini khususnya, munculnya apa yang disebut “Gerakan Abrahamik” secara bersamaan sangat menonjol, seiring dengan pembicaraan yang luar biasa dan meningkat tentang sistem dan aliansi regional baru yang meluas dari Teluk hingga Asia Selatan, seolah-olah kawasan ini berada di ambang tahap di mana tidak hanya geopolitik yang diatur ulang, tetapi kawasan itu sendiri juga didefinisikan ulang.
Dalam beberapa hari terakhir, Gerakan Abrahamik muncul secara terbuka di Suriah bertepatan dengan beredarnya visi politik dan keamanan baru mengenai masa depan kawasan tersebut. Di satu sisi, semakin banyak pembicaraan tentang perluasan Kesepakatan Abraham untuk memasukkan kekuatan regional yang berpengaruh. Trump menyatakan dalam sebuah unggahan panjang di platform Truth Social miliknya pada 25 Mei 2026: “Saya menuntut agar semua negara segera menandatangani Kesepakatan Abraham. Jika Iran menandatangani perjanjiannya dengan saya, maka akan menjadi suatu kehormatan bagi saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk menjadikan mereka bagian dari aliansi global yang belum pernah terjadi sebelumnya ini.” Ia menambahkan bahwa dirinya telah membahas masalah ini dalam panggilan telepon dengan para pemimpin Arab Saudi, UEA, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Bahrain (CNN Arabic, 25/05/2026).
Di sisi lain, pernyataan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengenai kemungkinan membangun sistem keamanan regional baru yang terdiri dari Turki, Pakistan, Mesir, Arab Saudi, dan negara-negara Teluk, sambil tetap membuka pintu bagi keterlibatan pihak lain di masa depan, termasuk Iran dan (Israel), dalam pengaturan baru yang didasarkan pada kerja sama, pengakuan timbal balik, dan penghormatan terhadap kedaulatan, telah menjadi sorotan (Arabi 21, 03/06/2026).
Sekilas, peristiwa-peristiwa ini mungkin tampak terpisah, tetapi pada kenyataannya semuanya bermuara pada satu pertanyaan: Apakah kawasan ini menuju tatanan regional baru yang melampaui formula nasional dan aliansi tradisional yang telah mengaturnya selama beberapa dekade terakhir?
Kesepakatan Formal Mendahului Landasan Intelektual!
Ketika Perjanjian Abraham ditandatangani pada tahun 2020, perjanjian tersebut dipresentasikan sebagai kesepakatan normalisasi antara negara-negara Arab dan entitas Yahudi. Namun, seiring waktu, muncul tren intelektual yang berpendapat bahwa kesepakatan politik saja tidak cukup, bahwa perdamaian abadi membutuhkan narasi budaya dan peradaban baru untuk memberikan legitimasi dan keberlanjutan.
Di sinilah gagasan “Abrahamisme Politik” lahir, dengan cendekiawan Yahudi Tom Wegner dianggap sebagai salah satu teoretikusnya yang paling terkemuka. Menurut literatur yang diterbitkan gerakan tersebut, Kesepakatan Abraham hanyalah titik awal; tujuan yang lebih luas adalah membangun identitas regional baru berdasarkan warisan bersama dari tiga agama Abrahamik, dan mengubah warisan ini menjadi fondasi bagi kemitraan politik, keamanan, dan ekonomi yang baru. Dengan kata lain, Gerakan Abrahamik tidak memandang normalisasi sebagai kesepakatan antar pemerintah, tetapi lebih sebagai proyek untuk mendefinisikan kembali hubungan antar masyarakat di kawasan tersebut.
Siapa Tom Wegner? Dan Apa Itu Gerakan Abrahamik?
Sulit untuk memahami Gerakan Abrahamik tanpa mengerti siapa pendirinya. Menurut definisi gerakan itu sendiri, bahwa Tom Wegner adalah seorang politikus Yahudi dan konsultan strategis yang sebelumnya menjabat sebagai juru bicara mantan Perdana Menteri entitas Yahudi Ehud Barak dan sebagai konsultan serta mantan direktur hubungan masyarakat di Pusat untuk Perdamaian dan Inovasi Peres (The Peres Center for Peace and Innovation). Saat ini, ia diperkenalkan sebagai pendiri dan presiden Gerakan Abrahamik dan penulis buku “The Abrahamic Revolution: A Middle Eastern Peace Formula (Revolusi Abrahamik: Formula Perdamaian Timur Tengah)”. Wegner tidak merahasiakan fakta bahwa proyeknya berasal dari Kesepakatan Abraham; bahkan, gerakan tersebut secara resmi menegaskan bahwa tujuannya adalah untuk memberikan kedalaman budaya, spiritual, dan sosial pada kesepakatan-kesepakatan ini yang melampaui dimensi diplomatiknya (Situs Web Resmi Gerakan Abrahamik).
Oleh karena itu, Wegner tidak menyajikan Kesepakatan Abraham sebagai sekadar kesepahaman diplomatik, melainkan sebagai awal dari transformasi peradaban yang akan membentuk kembali hubungan Timur Tengah di atas fondasi yang melampaui logika konflik. Dalam bukunya “The Abrahamic RevolutionI”, ia berpendapat bahwa perdamaian abadi tidak dapat dicapai hanya melalui perjanjian, tetapi membutuhkan pergeseran yang lebih dalam dalam budaya politik dan kesadaran kolektif, serta pembangunan ruang untuk kerja sama ekonomi, budaya, dan agama di antara masyarakat di kawasan tersebut. Namun, kontroversi seputar dirinya bukan semata-mata tentang kepribadiannya, melainkan lebih tentang sifat proyek itu sendiri: meskipun ia menyajikannya sebagai upaya untuk mengatasi perang kronis, proyek ini dipandang secara kritis sebagai upaya untuk merekayasa ulang kesadaran politik dan budaya serta mengintegrasikan entitas Yahudi ke dalam struktur regional baru yang melampaui isu-isu historis yang belum terselesaikan, terutama masalah Palestina. Dari perspektif ini, proyek Abrahamik tampaknya bukan sekadar proyek koeksistensi, melainkan upaya untuk menciptakan identitas supranasional baru yang mendefinisikan kembali kawasan dan memaksakan definisi ini pada realitas politiknya, memaksa kawasan untuk tunduk, sehingga menjadikannya perpanjangan dari visi “perdamaian melalui kekuatan” yang dipromosikan oleh Amerika Serikat.
Irak dan Suriah: Medan Uji Coba Pertama
Selama beberapa bulan terakhir, Gerakan Abrahamik semakin aktif di Irak. Publikasi yang dikeluarkan oleh gerakan tersebut dan pendirinya menunjukkan peluncuran cabang Irak, sebuah langkah yang telah memicu reaksi keras dari pasukan oposisi Irak yang memandang proyek tersebut sebagai perpanjangan dari proses normalisasi dengan entitas Yahudi. Wegner membela inisiatif ini sebagai proyek untuk dialog dan pendekatan di antara berbagai komunitas di kawasan. Pemilihan Irak tampaknya bukan kebetulan; negara ini memiliki keragaman agama, sektarian, dan etnis yang luas, serta terletak di jantung persaingan antara berbagai proyek regional. Oleh karena itu, keberhasilan proyek apa pun yang melampaui identitas tradisional di Irak akan memberikan legitimasi tambahan di wilayah lainnya.
Sementara Irak merupakan medan uji kemanusiaan, Suriah saat ini tampaknya menjadi medan uji politik yang jauh lebih sensitif. Dalam beberapa pekan terakhir, Gerakan Abrahamik telah secara terbuka mengumumkan aktivitasnya di Suriah, dengan Dr. Jamal Sabbagh yang tampil sebagai pemimpinnya. Lebih jauh lagi, Wegner telah berpartisipasi dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh politik, intelektual, dan sosial Suriah di bawah panji mendukung pluralisme dan koeksistensi di masa depan Suriah.
Patut dicatat bahwa beberapa tokoh yang terkait dengan apa yang disebut “pemerintahan Suriah dalam pengasingan” sebelumnya telah berpartisipasi dalam pertemuan dialog dengan tokoh-tokoh dari entitas Yahudi, dan menggambarkan “Perdamaian Abrahamik” sebagai salah satu jalan yang mungkin untuk masa depan kawasan.
Inilah yang menjadikan arena Suriah sangat penting bagi gerakan tersebut, karena mewakili titik temu antara isu-isu identitas, sektarianisme, minoritas, perbatasan, dan aliansi regional. Ini tanpa melupakan posisi Suriah dalam strategi Amerika Serikat.
Apakah Kita sedang Menyaksikan Timur Tengah yang Baru?
Pertanyaan terpenting di sini bukanlah tentang Gerakan Abrahamik itu sendiri, melainkan konteks yang memungkinkan kemunculannya. Sementara beberapa kekuatan regional sedang membahas pengaturan keamanan baru yang membentang dari Teluk hingga Asia Selatan, dan mengusulkan visi yang melampaui polarisasi tradisional sambil tetap berpegang pada solusi dua negara, Gerakan Abrahamik tampak sebagai upaya untuk menyediakan kerangka kerja intelektual dan budaya bagi transformasi ini.
Penting untuk dicatat di sini bahwa apa yang saat ini disajikan dengan kedok “solusi dua negara”, di bawah tekanan Amerika Serikat dan dengan persetujuan resmi Palestina, bukanlah bertentangan dengan Kesepakatan Abraham; melainkan, itu adalah prasyarat untuk implementasinya. Negara Palestina yang diusulkan bukanlah negara berdaulat, tetapi entitas yang didemiliterisasi, tunduk pada kendali keamanan entitas Yahudi dan terbatas di dalam perbatasannya. Ini adalah negara boneka yang memberikan perlindungan moral yang diinginkan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya untuk menormalisasi hubungan mereka dengan entitas Yahudi. Dengan kata lain, solusi dua negara adalah pilihan cadangan bagi Amerika Serikat, yang mendukung entitas yahudi, dan itulah yang menurut pandangan Amerika Serikat akan membebaskan entitas Yahudi dari isolasi regionalnya, bukan sebaliknya.
Jika aliansi baru membutuhkan struktur keamanan dan ekonomi, mereka juga membutuhkan narasi untuk membenarkan keberadaan mereka dan kerangka kerja untuk melegitimasi mereka. Inilah tepatnya yang coba dilakukan oleh “Abrahamisme Politik”. Tetapi pertanyaannya tetap: Dapatkah identitas baru terbentuk sebelum konflik lama terselesaikan? Dan dapatkah ruang regional berdasarkan pengakuan timbal balik dibangun sementara pendudukan, perang, dan agresi Yahudi di kawasan masih berlanjut? Atau apakah Gerakan Abrahamik hanya mewakili ekspresi budaya dari dinamika kekuasaan yang diciptakan oleh perang?
Apa pun jawabannya, transformasi yang sedang berlangsung di kawasan ini hanyalah potongan-potongan yang terpisah dari teka-teki yang lebih besar, masing-masing bergerak di jalur yang tampaknya independen: Washington sedang menyusun kerangka kerja, Ankara sedang memposisikan diri kembali, proyek-proyek intelektual baru sedang mencoba mendefinisikan makna, dan semua orang berlomba melawan waktu. Namun, potongan-potongan ini, terlepas dari perbedaan yang tampak, jelas semuanya menunggu tangan tersembunyi untuk menyatukannya kembali, mengungkapkan satu gambaran tunggal yang belum lengkap: Timur Tengah baru yang sedang terbentuk. Namun, pembentukan ini, dengan kompleksitas yang melekat serta interaksi para aktor dan lintasan, membuka pintu bagi refleksi yang lebih luas tentang hubungan antara perencanaan manusia yang terbatas dan kehendak Allah, Yang Maha Mengetahui apa yang tak terlihat, yang berfirman:
﴿وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾
“Mereka membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (TQS. Al-Anfāl [8] : 30). [] Ir. Wisam Al-Athrasy
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 9/6/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat