Futuhat Syam, Bukan Sekadar Kemenangan Militer, tetapi Perubahan Peradaban

MediaUmat – Pendiri Political Youth Movement (PYM) Ipank F Abdullah menilai peristiwa Futuhat Syam tidak dapat dipahami hanya sebagai kemenangan militer semata, melainkan sebagai momentum perubahan besar dalam peradaban.

“Futuhat Syam bukan sekedar kemenangan militer. Ia adalah perubahan peradaban,” ujarnya dalam Kisah Khilafah #19 Futuhat Syam, Runtuhnya Romawi Timur di Tangan Pasukan Islam, Kamis (12/3/2026) di kanal YouTube Rayah TV.

Pasalnya, jelas Ipank, wilayah yang sebelumnya dipenuhi penindasan kemudian berubah menjadi wilayah yang lebih damai dan adil karena hadirnya kepemimpinan yang berlandaskan iman.

“Wilayah yang dulu penuh penindasan berubah menjadi wilayah damai dan adil. Semua itu karena kepemimpinan yang berlandaskan iman,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan itu juga menunjukkan bagaimana kekuatan keyakinan mampu melampaui keterbatasan material. Sejarah mencatat bagaimana pasukan yang relatif kecil mampu mengalahkan kekuatan besar dunia pada masanya dan mengubah arah sejarah peradaban.

“Bayangkan, pasukan kecil dari gurun mampu mengalahkan super power dunia dan mengubah sejarah peradaban. Bukan karena mereka paling kuat, tetapi karena mereka memiliki keyakinan paling besar,” tegasnya.

Ia juga menceritakan peristiwa menarik terjadi di wilayah Vihael ketika penduduk Kristen setempat justru mengirim surat kepada pasukan Muslim. Langkah itu menunjukkan adanya dukungan masyarakat lokal terhadap kekuasaan baru yang datang dari kaum Muslim.

“Hal menarik terjadi di wilayah Vihael. Penduduk Kristen setempat justru mengirim surat kepada pasukan Muslim. Mereka mengatakan mereka lebih memilih pemerintahan Muslim daripada Romawi,” ujarnya.

Sikap tersebut, ungkap Ipank, tidak muncul tanpa sebab. Selama berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur, masyarakat setempat mengalami berbagai tekanan, mulai dari pajak yang berat hingga tindakan kekerasan dari penguasa.

“Karena Romawi menindas mereka dengan pajak berat dan kekerasan,” jelasnya.

Ipank menilai, peristiwa ini menunjukkan sisi penting dari ekspansi Islam. Kehadiran pemerintahan Islam tidak hanya dipandang sebagai kekuatan militer, tetapi juga sebagai kekuatan yang membawa perubahan sosial bagi masyarakat yang tertindas.

“Ini menunjukkan sesuatu yang penting. Penaklukan Islam tidak hanya bersifat militer, tetapi juga pembebasan sosial,” bebernya.

Lebih lanjut, Ipank menyampaikan, pelajaran terbesar dari peristiwa tersebut adalah pentingnya perpaduan antara iman, strategi, dan kepemimpinan dalam membangun perubahan besar. Ketika tiga unsur tersebut bersatu, maka perubahan yang tampak mustahil pun dapat terjadi.

“Dan itulah pelajaran terbesar dari Futuhat Syam. Ketika iman, strategi, dan kepemimpinan bersatu, sejarah dunia bisa berubah selamanya,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: