Tiga Kunci Kemenangan Muslim dalam Perang Qadisiyah

MediaUmat Filolog Salman Iskandar menjelaskan tiga kunci utama kemenangan kaum Muslim dalam Battle of al-Qadisiyyah (±636 M), yakni pertempuran penting antara Kekhalifahan Rasyidun dan Kekaisaran Sasaniyah di wilayah Irak yang dimenangkan oleh pasukan Muslim di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqqas.

“Umar menegaskan ada tiga kunci kemenangan kaum Muslim dalam Perang Qadisiyah,” ujarnya dalam KISAH KHILAFAH #17 Perang Qadisiyah, 30 Ribu Mengalahkan 200 Ribu Pasukan Persia, Senin (9/3/2026), di kanal YouTube Rayah TV.

Pertama, ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam peristiwa itu, jelas Salman, para prajurit tetap menjaga ibadah dan akhlak meskipun berada di tengah peperangan.

“Pertama adalah takwa kepada Allah Subhanahu wa Taala. Bahwa pasukan menjaga shalat dan akhlak bahkan di medan perang sekalipun,” jelasnya.

Kedua, kepemimpinan yang amanah yang ditunjukkan oleh panglima perang Muslim saat itu, yakni Sa’d ibn Abi Waqqas, yang memimpin pasukan dengan keikhlasan dan tanggung jawab.

“Yang kedua adalah kepemimpinan yang amanah. Panglima perang Saad bin Abi Waqqas memimpin dengan ketulusan bukan dengan ambisi,” ungkapnya.

Ketiga, yang menentukan kemenangan adalah persatuan umat. Ia menegaskan, pada saat itu tidak terjadi perebutan kekuasaan di antara kaum beriman sehingga kekuatan umat dapat terfokus dalam menghadapi musuh.

“Dan yang ketiga, adanya persatuan umat. Tidak ada perebutan kekuasaan di antara orang-orang beriman,” katanya.

Ia juga menekankan, Perang Qadisiyah memberikan pelajaran penting bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh faktor material seperti jumlah pasukan atau teknologi.

“Perang Qadisiyah mengajarkan kita sesuatu yang sangat penting. Bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah yang banyak, teknologi yang tinggi, atau kekuatan material yang mumpuni. Tetapi kemenangan ditentukan oleh keimanan, strategi, dan kepemimpinan yang benar,” tegasnya.

Ia kemudian menggambarkan besarnya ketimpangan kekuatan dalam perang tersebut. Namun tetap berujung pada kemenangan kaum Muslim karena kekuatan keyakinan yang mereka miliki.

“Bayangkan oleh kita, 30.000 orang biasa ternyata mampu mengalahkan 200.000 tentara super power dunia. Bukan karena mereka lebih kuat, tetapi karena mereka memiliki keyakinan yang lebih besar. Dan itulah pelajaran terbesar dari perang Qadisiyah. Ketika manusia bergantung kepada Allah Subhanahu wa Taala, maka batasan logika dunia pun bisa runtuh,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: