Fahmi Amhar Ingatkan Bahaya Ujub dalam Berdakwah

MediaUmat – Pembina Himpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) Prof. Dr. Ing Fahmi Amhar mengingatkan bahwa setan tidak selalu membujuk pengemban dakwah untuk berhenti, melainkan kerap menipu daya agar yang diagungkan bukan lagi Allah, melainkan diri sendiri.

“Setan tidak selalu datang untuk menyuruh kita berhenti berdakwah, tetapi membuat yang diagungkan bukan lagi Allah, melainkan diri kita sendiri,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (8/10/2026).

Pesan ini disampaikan sebagai pengingat bagi para penggiat dakwah di tengah saratnya ancaman, tantangan, hambatan, gangguan, dan rintangan dalam memperjuangkan Islam kaffah.

Sejalan dengan peringatan dalam QS al-A’raf ayat 16–17, Fahmi menjelaskan, Iblis secara terbuka menyatakan akan terus menghadang manusia yang berada di jalan lurus. Akibatnya, para pejuang agama pun tak luput dari sasarannya.

Empat Arah Godaan Setan

Merujuk pada riwayat Ibnu Abbas dalam Tafsir Ibnu Katsir, sambungnya, bentuk penyesatan tersebut terbagi ke dalam tafsir empat arah godaan setan. Serangan dari depan diwujudkan melalui penanaman keraguan terhadap akhirat dan kecemasan masa depan, sedangkan dari belakang berupa penanaman keterikatan yang kuat pada kenikmatan duniawi.

“Prinsipnya, dunia boleh berada dalam genggaman, tetapi jangan menguasai hati,” tegas Fahmi.

Sementara itu, godaan dari kanan bekerja secara halus dengan membungkus kesalahan lewat hal-hal yang tampak baik seperti sifat ujub dan merasa paling benar. Adapun godaan dari kiri dilakukan melalui penghiasan maksiat agar terasa wajar.

“Yang paling halus, setan datang dari kanan dengan membuat kita bangga pada ilmu, amal, jamaah, dan pengorbanan sendiri,” tambahnya.

Rahmat Allah SWT

Terkait alasan Iblis tidak menyebut arah atas dan bawah, Fahmi menukil penjelasan Ibnu Abbas bahwa Iblis tidak menyebut arah atas karena rahmat Allah SWT senantiasa turun dari atas. Lalu mengenai arah bawah, lanjutnya, Rasulullah SAW mengajarkan doa perlindungan dari segala penjuru, termasuk dari kebinasaan yang datang tiba-tiba dari arah tersebut.

Beragamnya celah godaan tersebut, menurutnya, menuntut setiap pengemban dakwah untuk senantiasa mengevaluasi niat dan membersihkan jiwa agar tidak tergelincir dalam kesombongan.

“Jangan hanya bertanya berapa banyak orang yang berhasil kita dakwahi, tetapi tanyakan pula sejauh mana dakwah telah memperbaiki diri kita sendiri,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: