MediaUmat – Kabar bahwa 33 negara di berbagai belahan dunia termasuk Prancis, Inggris, Jepang, Meksiko, Belanda, dan Kanada mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan makanan, air minum, dan perlengkapan darurat untuk menghadapi kemungkinan terjadinya krisis, menunjukkan pergeseran paradigma keamanan nasional, dari sekadar kekuatan militer menuju ketahanan seluruh sistem kehidupan.
“Fenomena ini menunjukkan pergeseran paradigma keamanan nasional, dari sekadar kekuatan militer menuju ketahanan seluruh sistem kehidupan,” ujar Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar kepada media-umat.com, Sabtu (31/10/2026)
Menurutnya, himbauan itu tidak serta-merta berarti Perang Dunia III akan segera terjadi. Sebagian imbauan tersebut sebenarnya sudah lama berlaku, terutama di negara-negara yang menghadapi risiko bencana alam, konflik militer, atau gangguan infrastruktur.
Namun, jelas Fahmi, meningkatnya ketegangan geopolitik, perubahan iklim, ancaman serangan siber, dan kerentanan rantai pasok global memang membuat kesiapsiagaan masyarakat semakin mendesak.
Ia membeberkan bahwa dunia modern ternyata sangat rentan. Sebab apabila terjadi listrik padam, internet lumpuh, distribusi pangan terhenti, dan sistem pembayaran terganggu, maka dapat melumpuhkan kehidupan jutaan manusia hanya dalam beberapa hari.
Fahmi menyoroti efisiensi ekonomi yang selama ini diagungkan melalui globalisasi dan sistem distribusi just-in-time ternyata harus diimbangi dengan cadangan strategis dan kemampuan masyarakat bertahan secara mandiri.
Terakhir ia mengingatkan, Indonesia seharusnya mengambil pelajaran serius. Sebagai negara multibencana yang juga rentan terhadap gejolak ekonomi dan geopolitik global, Indonesia perlu membangun ketahanan pangan, energi, air, komunikasi, dan logistik hingga tingkat rumah tangga.
Ia menilai, pemetaan geospasial bukan hanya diperlukan untuk mengetahui wilayah yang terancam bencana, tetapi juga untuk mengukur kemampuan masyarakat bertahan ketika infrastruktur vital lumpuh.
“Pertanyaan pentingnya: jika listrik, air, komunikasi, dan distribusi pangan di Jakarta terhenti selama tujuh hari, berapa persen penduduk yang sanggup bertahan?,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat