Ekonomi Nasional Rumit, Menstandarkan Mata Uang Tanpa Nilai Intrinsik

MediaUmat Persoalan kondisi ekonomi nasional semakin rumit seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menurut Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM) Agung Wisnuwardana, tidak lepas dari sistem moneter yang digunakan Indonesia yang bertumpu pada mata uang kertas tanpa nilai intrinsik.

“Kenapa Indonesia jadi rumit seperti sekarang? Karena rupiah kita digebuk. Ini terjadi karena kita menstandarkan mata uang dengan kertas yang tidak punya nilai sama sekali, sehingga kita terguncang oleh dolar,” ujarnya dalam M-Bois: Mata Uang Kertas Hancur! Kembali ke Emas & Perak! di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, solusi mendasar yang perlu dilakukan adalah membangun stabilitas moneter dengan basis yang lebih kuat, yakni menggunakan mata uang berbasis logam mulia seperti emas dan perak. Dengan sistem tersebut, fluktuasi nilai tukar dinilai dapat ditekan secara signifikan.

“Dengan konteks seperti ini, maka kita enggak akan mengalami mata ke uang kita itu terdepresiasi, turun kelasnya. Dan dengan cara seperti ini, maka bahan baku akan bisa dibeli dengan harga yang stabil,” tegasnya.

Ia menyoroti kondisi harga minyak dunia yang menurutnya sangat tidak wajar karena dipengaruhi oleh spekulasi di pasar nonriil. Padahal, berdasarkan perhitungannya, biaya produksi minyak jauh lebih rendah dibanding harga jual di pasar saat ini.

“Bayangkan, biaya produksi minyak itu sekitar 19,7 dolar per barel, tapi dijual sampai 100 dolar. Naiknya sampai empat kali, bayangkan kenapa ini bisa terjadi? Karena spekulasi sektor nonriil ini,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

 

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: