MediaUmat – Menanggapi fenomena bungkamnya intelektual terhadap berbagai persoalan bangsa, Cendekiawan Muslim Dr. Ahmad Sastra dan Dr. Yuana Tri Utomo menyoroti semakin sunyinya suara kaum intelektual di tengah sistem politik-ekonomi yang kapitalistik, sekularistik, dan oligarki.
“Kalau kita lihat dari konteks politik ekonomi di negeri kita ini yang kapitalistik, yang sekularistik, yang oligarkis, ini kan semestinya kaum intelektual yang jumlahnya banyak itu ya, para rektor, para doktor, para profesor bersuara semua dong. Kenapa sekarang tuh semakin sunyi, semakin sepi,” ungkap Ahmad dalam diskusi Peran Intelektual dalam Membangun Masyarakat, Masihkah Menjadi Harapan? yang ditayangkan kanal YouTube Pusat Analisis Kebijakan Strategis (PAKTA Channel), Rabu (7/10/2026).
Menurut Ahmad, intelektual bukan sekadar orang yang memiliki gelar akademik. Mereka semestinya menjadi penjaga ilmu, independensi intelektual, dan moralitas. Namun, sebagian akademisi justru bungkam karena tekanan politik, beban administrasi, atau kooptasi kepentingan kekuasaan.
“Ada yang diam karena takut, ada yang sibuk dengan administrasi, ada yang terkooptasi dengan kepentingan politik,” jelasnya.
Persoalan semakin serius ketika intelektual yang sebelumnya kritis berubah setelah masuk ke pemerintahan. Bagi Ahmad, jabatan dan kedekatan dengan penguasa tidak semestinya membuat intelektual kehilangan independensi dan daya kritis.
Karena itu, intelektual tidak boleh sekadar membenarkan kebijakan pemerintah. Setiap kebijakan harus lebih dahulu diuji secara ilmiah dan rasional, lalu dinilai berdasarkan hasil pengujian tersebut.
“Seorang intelektual harus mengatakan tidak dulu. Menguji dulu secara ilmiah, secara rasional baru disampaikan. Benar tidaknya kalau tidak benar ya disampaikan tidak benar,” tegas Ahmad.
Ahmad juga menekankan bahwa tugas intelektual bukan hanya mengembangkan ilmu, melainkan mengingatkan penguasa ketika terjadi penyimpangan. Bagi intelektual Muslim, penyampaian kebenaran harus berpijak pada standar Islam dan disertai keberanian menghadapi risiko.
Penjajahan Menjangkau Cara Berpikir
Sedangkan Yuana menilai, persoalan intelektual Muslim tidak cukup dilihat dari keberanian mengkritik kebijakan. Persoalan yang lebih mendasar ialah penjajahan pemikiran yang telah menjangkau cara berpikir dan landasan pengetahuan atau epistemologi.
“Penjajahan hari ini itu bekerjanya itu bahkan sampai di level paling dalam, yaitu di level cara berpikir, di level epistemologis,” ungkap Yuana.
Menurut Yuana, riset, literasi, data, dan pembacaan terhadap realitas empiris tetap penting. Namun, pengembangan ilmu membutuhkan ekosistem yang mengarahkannya pada tujuan yang benar. Tanpa landasan tersebut, intelektual berisiko hanya berkutat pada persoalan teknis dan kasus-kasus parsial tanpa melihat akar masalah secara menyeluruh.
Karena itu, Yuana mengajak masyarakat mengkaji pendidikan secara paradigmatik, mulai dari tujuan penyelenggaraannya, manusia yang hendak dibentuk, kurikulum yang digunakan, hingga pihak yang menentukan arah pendidikan. Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu penting karena pendidikan turut membentuk cara berpikir dan menentukan peran intelektual di tengah masyarakat.
Intelektual Muslim Harus Menjadi Pencerah
Yuana menegaskan, kampus semestinya menjadi ruang strategis untuk membangun kesadaran ideologis Islam. Intelektual Muslim tidak cukup hanya mengamati dan meneliti persoalan masyarakat, tetapi juga harus berperan mencerahkan masyarakat.
“Intelektual Muslim, akademisi Muslim, para dosen Muslim semestinya tidak sebatas hanya menjadi pengamat masyarakat saja, menjadi peneliti saja, tapi dia juga harus bisa berperan menjadi pencerah masyarakat,” tuturnya.
Peran pencerah itu, menurut Yuana, diwujudkan dengan membantu masyarakat memahami perkara yang hak dan batil berdasarkan Islam, mengkritisi pemikiran yang bertentangan dengan akidah Islam, serta menawarkan solusi berlandaskan wahyu. Pencerahan juga perlu dilakukan melalui dialog dan argumentasi pemikiran agar kesadaran Islam tumbuh di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas.
Sejalan dengan itu, Ahmad menekankan pentingnya pendidikan yang melahirkan intelektual jujur, kompeten, memiliki kepakaran, dan mampu menghasilkan solusi bagi persoalan bangsa. Ilmu dan kepakaran tidak cukup menjadi modal akademik atau jalan meraih status, tetapi harus memiliki nilai dan manfaat bagi umat serta menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah SWT.
Ahmad pun menyerukan perubahan mendasar dalam cara berpikir, dari paradigma sekuler, kapitalistik, dan pragmatis menuju pemikiran yang berlandaskan ideologi Islam.
“Ayo kita melakukan revolusi pemikiran dari pemikiran sekuler, pemikiran kapitalistik, pemikiran pragmatis menjadi pemikiran berbasis ideologi Islam,” serunya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat