MediaUmat – Dalam konteks dinamika politik global, termasuk isu pasokan senjata Cina ke Iran, Pengamat Hubungan Internasional Hasbi Aswar, Ph.D. berpendapat, dunia Islam berpeluang besar menjalin kolaborasi internasional di tengah tekanan negara dominan seperti Amerika Serikat (AS), asalkan mampu menunjukkan sikap politik yang independen.
“Jika dunia Islam mau bersikap independen, maka ada banyak negara yang mau berkolaborasi meski di tengah tekanan dari kekuatan-kekuatan dominan seperti Amerika Serikat,” ujarnya kepada media-umat.com, Senin (13/4/2026).
Kemandirian ini dinilai menjadi kunci agar negara-negara Muslim tidak terus berada di bawah bayang-bayang kepentingan Barat. Peluang kolaborasi ini, menurut Hasbi, tercermin dalam potensi dukungan Cina terhadap Iran.
Ia melihat, langkah Beijing tersebut sebagai upaya rasional untuk mengamankan kepentingan nasional, terutama pasokan energi. Hasbi kemudian mencontohkan jatuhnya Venezuela ke pengaruh AS sebagai pelajaran bagi Negeri Tirai Bambu tersebut agar tidak membiarkan mitra strategisnya tumbang.
Diplomasi Pragmatis Cina
“Bagi Cina, Iran adalah supplier minyak yang penting. Jika Iran dibiarkan melawan Amerika-Israel sendirian dan akhirnya tumbang, maka itu akan merugikan Cina sendiri,” jelasnya.
Sebelumnya, laporan intelijen AS mensinyalir Cina bakal mengirimkan pasokan senjata ke Iran dalam beberapa pekan mendatang melalui negara ketiga untuk menyamarkan asal-usulnya. Senjata yang menjadi sorotan adalah rudal antipesawat (MANPADS) yang dinilai mengancam pesawat militer AS. Meski demikian, juru bicara Kedutaan Besar Cina di Washington telah membantah keras tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai informasi palsu (cnnindonesia.com, 12/4/2026).
Meski demikian, Hasbi menilai bantahan Cina merupakan strategi diplomatik untuk menghindari konfrontasi langsung dengan AS serta menjaga hubungan ekonomi dengan Israel. Sebagaimana diketahui, sejak 1992 Cina dan Israel menjalin kerja sama ekonomi dan teknologi yang kuat.
“Wajar juga jika itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan Cina membantah melakukan itu,” tandasnya, sembari melihat hal ini selaras dengan diplomasi pragmatis Cina yang tetap mendukung Rusia di Ukraina, namun tetap menjaga stabilitas hubungan dengan AS guna menghindari sanksi ekonomi.
Untuk itu Hasbi menekankan tiga aspek krusial agar dunia Islam memiliki daya tawar (bargaining power) yang nyata di panggung global. Pertama, kecerdasan mengelola kekayaan alam sebagai alat diplomasi. Kedua, kemampuan diplomasi yang mumpuni di tingkat internasional. Ketiga, kekuatan militer yang memadai, termasuk nuklir, sebagai instrumen penggetar (deterrent).
“Yang penting adalah kemampuan menggunakan sumber daya, kecerdasan bernegosiasi, dan kepemilikan kekuatan militer yang bisa menciptakan ketakutan besar terhadap musuh-musuh kaum Muslimin,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat